Cara Siti Fadilah Supari Mengubah Dunia

Friday, February 1, 2008

Cara Siti Fadilah Supari Mengubah Dunia


Saatnya Dunia Berubah: Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung
- Oleh Ihsan Maulana

Judul Buku: Saatnya Dunia Berubah: Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung
Penerbit: Sulaksana Watinsa Indonesia
Penulis: DR. Dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K)
Jumlah halaman: 182 halaman
Tahun terbit: 2007

Tidak banyak yang tahu bahwa Global Influenza Surveilance Network (GISN) bukan lembaga milik WHO, tapi milik pemerintah Amerika Serikat. Tidak banyak pula yang tahu bahwa IAEA bukan badan milik PBB. Fakta-fakta itu diungkap oleh Siti Fadilah Supari, Menteri Kesehatan RI, dalam bedah bukunya yang menggemparkan dunia, Saatnya Dunia Berubah (It’s Time for The World to Change) di IAIN Sunan Ampel.

Di buku perdana yang ditulis dengan gaya bertutur ini, diceritakan pengalaman-pengalaman Siti Fadilah dalam menjalankan tugas sebagai Menteri Kesehatan. Beberapa di antaranya tentang bagaimana dia menangani masalah-masalah kesehatan dalam negeri, bertempur dengan negara-negara adikuasa untuk memperjuangkan transparansi informasi dan keadilan sistem.

Saatnya Dunia Berubah berawal dari catatan-catatan pribadi yang menurut Siti Fadilah ditulis tanpa sengaja. “Saya itu tidak enak kalau tak menuliskan apa yang telah saya lakukan.” Kebiasaan menulisnya memang sudah terbentuk sejak SMA.

Anda akan membaca cerita bagaimana Siti Fadilah Supari memperotes kebijakan yang menyatakan bahwa spesimen virus secara sukarela harus diserahkan ke GISN, yang saat itu oleh banyak negera di dunia disangka milik badan PBB. Virus yang diterima oleh GISN sebagai wild virus itu lalu menjadi milik GISN. Dari spesimen virus ini kemudian dibuat seed virus yang dipatenkan. Dan berdasarkan seed virus, vaksin pun dibuat.

Lucunya, negara-negara berkembang harus merogoh kocek untuk membeli vaksin tersebut. Padahal spesimennya berasal dari negara-negara dunia ketiga, termasuk dari Indonesia. Kontan saja hal ini membuat sang Menteri jengkel, hingga memboikot pengiriman virus ke GISN .

“Itu virus-virus kita, jadi suka-suka kita dong!” katanya berapi-api.

Kekesalan Siti Fadilah terus berlanjut, WHO menuduh bahwa virus burung di Indonesia telah berkembang menular dari manusia ke manusia. Pencekalan pengiriman virus flu burung Indonesia pada tataran internasional sempat menjadi polemic. Indonesia pun dianggap sebagai negara yang tidak koperatif.

“Saya ditakut-takuti, bagaimana kalau terjadi pandemi?” kisahnya. Tapi Siti Fadilah yakin, pandemi semacam itu takkan terjadi. Indonesia tetap menolak mengirimkan spesimen virus.

Apalagi belakangan terbukti bahwa virus flu burung yang beredar di Indonesia adalah virus yang paling ganas. “Saya takut kalau virus itu akan dikembangkan menjadi senjata biologi,” ungkap Putri Solo ini.

Maka dari itu, Siti Fadilah memutuskan untuk mengirimkan spesimennya pada Gene Bank agar diketahui oleh khalayak dunia. Dengan begitu, ketakutan bahwa virus ini akan digunakan untuk senjata biologi tidak lagi terjadi.

Puncak perjuangan wanita kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, ini terjadi saat pertemuan antar pemerintah yang diadakan pada 20 November 2007. Di sanalah, Siti Fadilah mengemukakan penindasan dan kesewang-wenangan yang dilakukan oleh negara adikuasa atas akses informasi. Pernyataan Fadilah itu sampai membuat Ketua Sidang tidak sempat memberikan pidato sebagaimana biasanya.

Dari sana, kemudian dihasilkan lima pernyataan pertemuan yang intinya mengakui ketidakadilan sistem, menghendaki persamaan derajat antarnegara dan penyediaan akses informasi ke negara-negara berkembang tentang virus.

Arif Afandi yang hadir menjadi pembanding di acara bedah buku tersebut mengatakan, “Sayang buku sebagus ini kovernya tidak menjual. Di samping itu, banyak istilah kedokteran yang tidak ada keterangannya. Sehingga orang awam harus membuka kamus dulu untuk memahami istilah-istilah tertentu dari dunia kedokteran.”

Tapi diakui Arif yang seorang mantan Pemred Jawa Pos, buku milik perempuan berkacamata ini sangat bagus. Kalimatnya pun mengalir.

Saatnya Dunia Berubah, katanya, bahkan sempat akan ditarik dari pasar internasional. Tapi, syukurlah itu tidak terjadi. Sehingga pesan kuatnya tersampaikan, “Kita sebagai bangsa Indonesia jangan mau menunduk di hadapan bangsa lain.”

0 comments :

Post a Comment

Butuh artikel-artikel semacam ini? Atau, punya ide membuat buku tetapi kurang bisa menulis? Tidak sempat? Kami bersedia membantu menuliskannya secara profesional. Kami juga menyediakan jasa editing tulisan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.