Inilah Man Asian Literary Prize 2013: Tan Twan Eng

Sunday, March 24, 2013

Inilah Man Asian Literary Prize 2013: Tan Twan Eng


- Oleh Mochammad Asrori

Penulis Malaysia Tan Twan Eng memenangkan penghargaan sastra Man Asian Literary Prize 2013 untuk novelnya yang berjudul “The Garden of Evening Mists”.

Penghargaan sastra Man Asian Prize diberikan kepada novel terbaik karya seorang penulis Asia yang diterbitkan pada tahun kalender sebelumnya. Syaratnya, novelnya harus ditulis dalam bahasa Inggris atau diterjemahkan ke bahasa Inggris. Sejak ajang ini mulai digelar tahun 2007, Tan adalah pemenang kedua yang karyanya ditulis dalam bahasa Inggris.

Juara-juara sebelumnya mencakup empat penulis Cina, satu novelis Filipina dan satu dari Korea Selatan. Novel pemenang tahun lalu, “Please Look After Mom” karya Kyung-sook Shin dari Korea Selatan, sudah terjual lebih dari dua juta eksemplar di seluruh dunia.

Tan bukan nama baru di gelaran penghargaan sastra internasional. “The Garden of Evening Mists” tahun lalu masuk nominasi akhir Man Booker Prize, penghargaan serupa bagi penulis dari Inggris, Irlandia, atau negara-negara Persemakmuran Inggris. Novel pertama Tan, “The Gift of Rain”, pun berhasil masuk nominasi awal Man Booker tahun 2007.

Penulis yang besar di Malaysia ini mengecap pendidikan di Inggris. Saat ini ia sering mondar-mandir antara Asia dan Afrika Selatan. Pengalaman menjejaki tiga benua, kata Tan, telah membentuk tulisan-tulisannya. “Saya menjadi sadar, untuk menjadi seorang penulis, kita harus memandang menembus batas-batas negara jika karya kita ingin dibaca oleh pembaca universal,” ujar Tan kepada The Wall Street Journal hari Rabu kemarin.

“The Garden of Evening Mists” mengisahkan seorang perempuan yang kabur dari kamp tahanan Jepang di Malaya saat Perang Dunia II. Beberapa tahun setelah itu, ia mencoba lepas dari trauma perang dengan membangun sebuah taman khas Jepang. Taman itu dibuatnya untuk mengenang saudara perempuannya, yang meninggal di kamp. Di daerah peristirahatan Cameron Highlands, Malaysia, ia bertemu dengan mantan tukang kebun Kaisar Jepang. Ia berhasil membujuk sang tukang kebun agar menjadi mentornya. Di tengah masa lalu keduanya yang saling bertentangan, ikatan antara mereka terjalin erat.

“Runutan sejarahnya pelik, penggambaran dataran tinggi Malaysia terasa kaya dan menggugah, penokohannya kelam namun memikat,” kata ketua dewan juri Maya Jaggi dalam pernyataannya. “Dengan menjaga misterinya sampai kata-kata akhir, novel ini menceritakan kekuatan nan lembut serta keanggunan dalam penebusan masa lalu.”

Tan adalah warga Malaysia pertama yang merebut hadiah senilai $30.000 ini. Ia mengalahkan nominator dari Pakistan (Musharraf Ali Farooqi, “Between Clay and Dust”); Jepang (Hiromi Kawakami, “The Briefcase”); India (Jeet Thayil, “Narcopolis”); dan Turki (peraih Nobel, Orhan Pamuk, “The Silent House”).

Profesor David Parker, direktur eksekutif penyelenggara ajang penghargaan ini, berkata Man Asian Prize berhasil membuat perhatian orang terpusat kepada penulis-penulis Asia.

“Begitu orang mulai membaca buku-buku ini, mereka akan menemukan sendiri buku-buku lain yang ditulis sang sastrawan, atau penulis lain dari negara yang sama,” katanya dalam sebuah pernyataan. “Penghargaan sastra seperti ini benar-benar membantu mengangkat profil sastra Asia. Sebelumnya, kita terapung-apung terpisah satu sama lain.”

Meski demikian, masa depan penghargaan ini masih belum jelas setelah Man Group sebagai sponsor utama menarik pendanaan. Sponsor baru tampaknya akan diumumkan bulan depan.

0 comments :

Post a Comment

Butuh artikel-artikel semacam ini? Atau, punya ide membuat buku tetapi kurang bisa menulis? Tidak sempat? Kami bersedia membantu menuliskannya secara profesional. Kami juga menyediakan jasa editing tulisan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.