Sajak-sajak William Butler Yeats

Sunday, April 21, 2013

Sajak-sajak William Butler Yeats


Oleh Mochammad Asrori

William Butler Yeats dilahirkan di Sandymout Irlandia pada tahun 1865. Masa kanak-kanaknya dihabiskan di sebuah desa kecil di Sligo yang masih alami, lalu belajar seni di Dublin. Ia memutuskan untuk memusatkan perhatian pada puisi ketika mengalami masa-masa sulit dalam kehidupannya semenjak pindah ke London pada tahun 1888.

Kumpulan puisi pertamanya adalah The Wandering of Oisin (1889), disusul kumpulan-kumpulan puisi lain, diantaranya The End among The Reds (1899), The Wild Swans at Coole (1917), dan The Tower (1928). Semasa hidup Yeats banyak melakukan perjalanan ke luar negeri, seperti Perancis dan Italia, namun ia senantiasa kembali ke tanah airnya untuk mendapatkan ilham bagi karya-karyanya. Yeats menerima hadiah nobel Kesusasteraan tahun 1923 dan meninggal di Nice, Perancis tahun 1939.

Berikut ini beberapa puisi William Butler Yeats, semoga berkenan:

Kalau Kau Tua

kalau kau tua, lusuh, dan pengantuk
terkantuk-kantuk di samping perapian, ambil buku ini
baca pelan-pelan dan khayalkan sebuah tatapan lembut
yang dahulu milik matamu juga, yang berlekuk begitu dalam
berapa banyak yang pernah mengagumi saat-saat ceriamu
dan mencintai kemolekanmu dengan genggam cinta murni atau palsu
namun bagi putih jiwamu hanya seorang yang mencintai
hingga ujung duka derita di wajahmu yang tak muda lagi
sambil membungkuk di samping api membara
gumamkan sedikit sedih, bagaimana cinta pun terbang
dan melayang di atas gunung tinggi jauh di sana
dan menyembunyikan mukanya di antara rimbun bintang

Angsa-Angsa Liar Coole

pepohonan musim gugur yang indah
jalan-jalan setapak hutan pun kering sudah
dipayungi langit senja oktober
air memantulkan langit yang diam
di antara bebatuan di tepian
untukku inilah musim gugur ke sembilan belas
sejak perhitunganku yang paling lekas
kusaksikan, sebelum aku selesai menghitung
mendadak saja mereka tercerabut terbang
berpencaran dalam patah-patah lingkaran
dengan sayap-sayap yang ribut
aku amati makhluk-makhluk yang pintar itu
dan sekarang hatiku tersentuh
irama kesiur sayap-sayap di atas kepalaku
melayang ringan berkelepak
belum lelah juga, sepasang demi sepasang
berenang nyaman di arus dingin
atau terbang tinggi ke udara
hati mereka makin matang
gairah atau menang, ke mana mereka pergi
masih menunggu mereka
tapi sekarang mereka di arus yang diam
betapa eloknya
di antara rumput airyang mana mereka bersarang
pemandangan yang menyenangkan, ketika terjaga
mereka sudah menghilang

Aedh Mengharap Kain Surga

andai aku penya kain sulaman surga
berhias cahaya perak dan keemasan
kain malam cahaya dan separuh cahaya
yang biru yang suram dan yang kelam
akan kugelar kain itu di bawah kakimu
tetapi karena melarat aku hanya punya mimpi sekerat
dan telah kugelar mimpiku di bawah kakimu
lewatlah hati-hati sebab kau melewati mimpiku

Kepada Seekor Tupai di Kyle-Na-O

mendekat dan bermainlah denganku
kenapa mesti bergegas lari
melintasi pohon-pohon bergoyang
padahal aku membawa senjata
bisa menembakmu mati
padahal yang kuinginkan hanyalah
sekedar mengelus kepalamu
lalu kubiarkan kau pergi lagi

0 comments :

Post a Comment

Butuh artikel-artikel semacam ini? Atau, punya ide membuat buku tetapi kurang bisa menulis? Tidak sempat? Kami bersedia membantu menuliskannya secara profesional. Kami juga menyediakan jasa editing tulisan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.