Move On, Guys!

Sunday, October 6, 2013

Move On, Guys!


- Oleh Ihsan Maulana

Beberapa hari lalu, saat duduk-duduk mengisi waktu kosong di St. Francis Xavier University, Antigonish, Canada, saya mengobrol dengan beberapa teman dari berbagai negara. Yang agak menarik bagi saya adalah cerita nyata seorang teman yang melancong dari Belanda.

Dia seorang guru meditasi. Punya pengalaman dengan seorang pemuda yang kehidupannya seperti roller coaster. Jadi, kisahnya, pemuda ini sedang kasmaran dengan seorang wanita. Mereka berpacaran. Hidup mereka sungguh indah. Namun malang tak dapat ditolak. Saat cinta mereka sedang puncak-puncaknya, si pujaan hati malah mati mengenaskan. Kecelakaan mobil tanpa ampun merenggut nyawa sang Perempuan.

Pemuda itu pun patah hati. Kerjaannya di kantor jadi kacau. Tidak ada yang beres. Sudah begitu, dia suka menangis di tengah malam. Pokoknya, tenggelam dalam jurang kedukaan.

Tapi Tuhan (entah dia percaya atau tidak) rupanya masih berbaik hati. Tak lama kemudian, pemuda itu pun menemukan wanita lain yang sekali lagi mampu menaklukkan hatinya. Sosok sempurna untuk menggantikan mendiang pujaan hati. Mereka, lagi-lagi berpacaran.

Oh, tidak. Kembali, ujian datang. Persis sama! Sang Perempuan juga mengalami kecelakaan. Dia meninggal.
Bisa ditebak, pria itu pun kembali terpukul. Bagai dibanting-banting ke batu cadas, gairah hidupnya hancur seketika.

Tak tahu bagaimana menyiasati rasa duka untuk kedua kalinya, dia pun memilih obat-obatan terlarang. Bukan hanya itu, dia juga merintis karirnya di dunia hitam. Hingga akhirnya menjadi ketua gangster di Amsterdam. Hidupnya makin liat. Makin liar. Tak ada lagi yang ditakutinya. Termasuk geng lain atau bahkan polisi. Sebab, yang dia inginkan sebenarnya justru sesegera mungkin mati.

Sampai suatu saat, pria itu bertemu teman saya tadi. Seorang guru yoga, sekaligus fasilitator pemberdayaan komunitas. Tentu saja, awalnya, pria yang terluka itu tak tertarik dengan meditasi-meditasian.
Namun, dia mencoba berbasa-basi. Dia curhat. Dan teman saya itu juga hanya mendengarkan curhatannya sambil lalu.

Tak terasa, mereka saling cocok dan bisa menghargai. Sesi curhat pun berlangsung sampai berminggu-minggu. Kata pemuda itu, perasaannya mulai tenang. Sang Guru Meditasi tampaknya pelan-pelan berhasil menyuntikkan butir-butir motivasi kehidupan kepada pemuda malang itu.

Pelan tapi pasti, si pemuda bisa bangkit dari keterpurukan. Dan kembali ke “dunia putih”.

The (happy) end!

Mungkin sebuah cerita biasa, Saudara-saudara. Di sinetron pun banyak kisah-kisah semacam ini. Namun dari obrolan itu, saya jadi berpikir tentang beberapa teman dan murid di Surabaya. Beberapa di antara mereka juga pernah merasakan patah hati gara-gara putus atau dikhianati pacar, lalu merusak diri sendiri. Seperti film-film di zaman Rhoma Irama.

Padahal kekasihnya tidak sampai meninggal. Atau meninggal lagi. Semua masih bisa sebatas ujian-ujian remeh dari Sang Khalik. Eh, begitu sudah seolah-olah jadi orang paling sengsara di dunia. Buat apa merusak diri?

Guys, sudahlah! Nasi masih enak, pijat masih nikmat, masih banyak orang yang menyayangi kita. Nikmati hidup! Move on! Percayakan saja semua kepada Allah.

Segelap apapun keadaan saat ini, matahari toh akan segera terbit kembali.

0 comments :

Post a Comment

Butuh artikel-artikel semacam ini? Atau, punya ide membuat buku tetapi kurang bisa menulis? Tidak sempat? Kami bersedia membantu menuliskannya secara profesional. Kami juga menyediakan jasa editing tulisan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.