Risma oh Risma...

Sunday, February 16, 2014

Risma oh Risma...


Tri Rismaharini
Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya
- Oleh Brahmanto Anindito

Saya tidak menonton langsung sewaktu Tri Rismaharini curhat di Mata Najwa, MetroTV. Saya hanya menontonnya lewat YouTube beberapa hari kemudian. Itu pun karena banyak teman yang menyatakan simpati di newsfeed Facebook. Saya terus terang kaget juga menonton seorang Tri Risma, wali kota yang keputusan-keputusannya selalu tegas tanpa kompromi, pimpinan tertinggi di kota bonek, bisa mewek seperti itu. Saya juga baru tahu, ternyata Tri Risma bukanlah politikus yang terlalu cakap berbicara.

Bahkan kalau dinilai hanya dari tayangan itu, saya mendapat kesan bahwa Tri Risma bukan politikus sama sekali. Fokusnya kerja, kerja, kerja! Membenahi Surabaya. Beliau tidak memahami intrik-intrik politik. Mungkin juga tidak peduli soal itu. Coba, Anda perhatikan sendiri di video ini...

Sekilas tentang Tri Rismaharini

Ir. Tri Rismaharini, M.T. lahir di Kediri, 20 Oktober 1961. Beliau menjadi Wali Kota Surabaya sejak 28 September 2010. Lulusan Arsitektur ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) ini menggantikan Bambang Dwi Hartono yang kemudian maju sebagai wakilnya. Sekadar catatan, karena sudah menjabat sebagai Wali Kota Surabaya dua periode, Bambang DH tidak bisa maju lagi. Tapi dia diperbolehkan mencalonkan diri sebagai Wakil Wali Kota. Dan itulah yang dilakukannya.

Setelah sukses jadi Surabaya 2, maka sejatinya terbuka peluang Bambang DH jadi Wali Kota Surabaya lagi, asalkan sang Wali Kota (atasannya) lengser. Memang saat itu, sudah muncul obrolan di warung-warung kopi kalau Tri Risma sengaja diangkat untuk kemudian dijatuhkan di tengah jalan, sehingga Bambang DH bisa kembali menjadi Surabaya 1.

Apalagi, Risma sebenarnya bukan kader partai. Bukan orang PDI-P, awalnya. Sebelum terpilih sebagai Wali Kota, istri dari Djoko Saptoadji ini menjabat Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) dan Kepala Badan Perencanaan Kota Surabaya. Kemudian PDI-P mendorongnya supaya mau menjadi bakal calon Wali Kota dari partai banteng moncong putih itu.

Prestasi-prestasi Tri Risma

Sebagai Wali Kota, bahkan sejak masih di DKP, Tri Risma berhasil menjadikan Surabaya lebih asri, hijau dan rapi. Taman Bungkul, Taman Pelangi, Taman Prestasi, Taman Undaan, Taman di Bawean, Taman Flora, dan beberapa tempat lain yang dulunya kumuh dan “angker” disulap menjadi taman-taman yang cozy.

Selain itu, Tri Risma juga aktif membangun pedestrian yang modern bagi para pejalan kaki. Juga, jalur hijau untuk para pesepeda di jalan-jalan utama Surabaya. Ini membuat beberapa teman saya dari Ibukota berdecak kagum. “Nyaman ya di Surabaya sekarang. Seenggaknya jauh lebih tertib dan rapi dibanding Jakarta,” akunya.

Maka tak heran bila di bawah kepemimpinan Tri Risma, Surabaya tumbuh menjadi cyber city serta banyak memperoleh penghargaan-penghargaan dari luar, baik di tingkat nasional maupun internasional. Antara lain:
  • Tiga kali Piala Adipura, yaitu pada 2011, 2012 dan 2013 untuk kategori Kota Metropolitan. 
  • Kota dengan partisipasi lingkungan terbaik se-Asia Pasifik pada 2012 versi Citynet. 
  • Future Government Awards 2013 di dua bidang sekaligus, yaitu Data Center dan Inklusi digital. Surabaya menyisihkan 800 kota di seluruh Asia Pasifik.
Melalui tangan dingin Tri Risma, sungai-sungai di Surabaya pun direvitalisasi. Hutan mangrove dikembangkan. Sehingga, lahirlah objek-objek wisata baru yang indah. Meskipun airnya tetap cokelat, setidaknya sampah-sampah dan bangunan liar di sekitarnya sudah amblas. Kalau tidak ada aral melintang, ketiga sungai di Surabaya akan difungsikan untuk transportasi alternatif, sebagai pengurai kemacetan jalur darat.

Wali Kota wanita pertama di Surabaya itu juga rajin menertibkan pasar maupun PKL bandel, meneruskan program Bambang DH.

Namun yang paling berani, Tri Risma mendeklarasikan program Surabaya Bebas Prostitusi 2014. Lokalisasi yang sudah berhasil ditutup mencakup Tambakasri, Klakahrejo, Bangunsari dan Moroseneng (Sememi Jaya). Tinggal Dolly, kompleks pelacuran terbesar se-Asia Tenggara yang masih alot.

Tapi Tri Risma tidak menyerah. Sebab menurutnya, kompleks prostitusi berdampak buruk bagi generasi belia Surabaya. Sebagaimana yang dipaparkannya dalam video di atas, Risma tahu sendiri ada PSK yang menyasar segmen anak-anak SD. Bayangkan betapa gawatnya!

Di luar itu, anak-anak yang tinggal di sekitar kompleks pelacuran manapun, menunjukkan perkembangan kepribadian dan intelektualitas yang mengkhawatirkan. “Ketika kami datang ke sekolah-sekolah di dekat lokalisasi, ada kecenderungan anak didik tatapan matanya kosong. Semangat belajar mereka seperti sangat kurang dibanding anak-anak lainnya,” kisah Tri Risma.

Dalam kacamata Tri Risma, mereka harus diselamatkan. Demi Surabaya yang lebih kondusif. Lagipula, pelacuran sejak awal dilarang oleh agama. Sebagai pimpinan yang takut Tuhan, Tri Risma tidak ingin di akherat kelak dimintai pertanggungjawaban tentang ini semua.

Tri Risma dimusuhi DPRD karena menertibkan iklan-iklan di jalan

Saya ingat, dulu, sewaktu belum setahun menjabat, Tri Risma sudah berusaha diganjal. Yang pertama oleh Wishnu Wardhana, politikus Demokrat (yang kemudian meloncat ke Hanura, lalu meloncat lagi ke PBB). Pada 31 Januari 2011, Wishnu menggunakan hak angketnya sebagai Ketua DPRD Surabaya untuk melengserkan Tri Risma. Dia menuding sang Wali Kota sewenang-wenang mengubah peraturan tentang tarif sewa iklan reklame melalui Perwali (Peraturan Wali Kota).

Wishnu Wardhana menganggap Tri Risma melanggar undang-undang, karena tidak melibatkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam membahas dan menyusun Perwali. Keputusan pemakzulan ini lalu didukung oleh Fraksi PDI-P (yang dulu mengusung Tri Risma sebagai Wali Kota, hebat bukan?), PDS, PKB, Amanat Persatuan, Demokrat dan Golkar. Waktu itu, hanya Fraksi PKS yang menolak pemberhentian Tri Rismaharini karena menganggap alasan pemakzulan belum cukup.

Melalui Perwalinya, Tri Risma memang menaikkan pajak reklame di Surabaya sampai 25%. Tujuannya supaya pengusaha dan politikus tidak seenaknya memasang iklan di jalan umum dan mengakibatkan kota menjadi belantara iklan. Dengan begitu, para calon pengiklan akan membuat iklan dan memasangnya di media massa atau internet, alih-alih di ruang-ruang outdoor. Sebab, ongkos “mengotori” jalanan Surabaya dengan baliho, spanduk, dsb. sudah tidak semurah kemarin-kemarin.

Ide yang bagus. Tapi para wakil rakyat yang terhormat itu tetap merasa Tri Risma harus diberi pelajaran karena dianggap “lancang”.

Geger panjang ini membuat Mendagri Gamawan Fauzi sampai turun ke Surabaya. Meninjau kasusnya, dia lalu menegaskan bahwa Tri Risma tetap menjabat sebagai Walikota Surabaya. Alasan pemakzulan Risma oleh orang-orang DPRD sendiri dianggapnya terlalu mengada-ada.

Tri Risma dimusuhi PDI-P karena dianggap tidak sevisi

Pada 14 Juni 2013, Bambang DH mundur sebagai Wakil Wali Kota. Mungkin karena sungkan waktu itu ikut mendukung pelengseran Risma, atau mungkin karena sudah melihat kecilnya kemungkinan menjadi Surabaya 1 lagi. Dia resign untuk mengejar jabatan yang lebih tinggi, yaitu Gubernur Jawa Timur (yang di kemudian hari terbukti juga gagal).

Dengan kosongnya jabatan Surabaya 2, kemudian PDI-P menunjuk kadernya yang lain, Wisnu Sakti Buana, menjadi pengganti Bambang DH. Tentu saja Risma merasa tidak sreg. Masih segar dalam ingatannya, Wisnu Sakti Buana sebagai Ketua DPC PDI-P getol mendukung Wishnu Wardhana dalam usaha memakzulkan dirinya beberapa bulan yang lalu.

Wisnu Sakti dan DPC PDI-P sebenarnya kecewa dengan sepak terjang politik Tri Risma yang (ternyata) suka tanpa kompromi, tanpa nuwun sewu. Pernah, Risma menolak keras pembangunan tol tengah kota Surabaya. Risma berpendapat, tol semacam itu justru akan menimbulkan kemacetan di pintu masuk/keluar tol.

“Lihatlah Jakarta yang kemacetannya tak kunjung terurai meski tol tengah kotanya banyak!” tegas Tri Risma waktu itu. Beliau juga mencontohkan banyak tol tengah kota di kota-kota besar dunia yang justru dihancurkan kembali karena terbukti tidak efektif.

Tri Risma memilih solusi kemacetan berupa frontage road dan MERR-IIC (Middle East Ring Road) yang menghubungkan area industri Rungkut dengan area Jembatan Suramadu. MERR-IIC ini selain tidak merusak tata kota serta ruang terbuka hijau (karena jalannya melingkar, tidak lewat tengah kota), juga akan bermanfaat untuk pemerataan pembangunan kota.

Namun, bahkan Gubernur Jawa Timur Soekarwo berpihak pada DPRD. Dia ngotot meloloskan ide pembangunan tol tengah kota itu. Dalihnya, itu sudah masuk dalam perencanaan Dinas Pekerjaan Umum, “Instruksi dari pusat!” Investornya pun sudah tidak sabar ingin segera membangun. Sebenarnya, sudah tercium bau “pesan sponsor” di projek ini.

Wali Kota tetap bersikukuh. Sampai diadakan acara rekonsiliasi antara Tri Risma dengan anggota Fraksi PDI-P. Tapi, tentu saja sia-sia. Bagi Risma, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Tol tengah kota takkan dibangun di bawah kepemimpinannya. Wisnu Sakti Buana dkk. semakin geram dengan perempuan ini.

Dan sekarang, Wisnu Sakti Buana ditunjuk jadi wakil Tri Risma. Alangkah lucunya!

Maka ketika Wisnu Sakti dilantik sebagai Wakil Wali Kota, Tri Risma tidak hadir. Bahkan dikabarkan akan mundur sebagai Wali Kota. Toh Risma muncul juga beberapa hari kemudian. Dia mengaku sedang sakit saat pelantikan wakilnya. Tidak ada persoalan pribadi. Hanya, Risma masih mempersoalkan proses pemilihan Wakil Wali Kota yang dianggapnya tidak sesuai prosedur.

5 Golongan yang Tidak Suka Tri Risma

Dalam catatan sekilas saya, ada setidaknya lima golongan yang memusuhi Tri Risma. Jadi kalau suatu saat Anda menemui orang Surabaya yang begitu bersemangatnya menjelek-jelekkan Tri Risma, barangkali mereka termasuk dalam salah satu golongan ini:
  1. Lelaki hidung belang yang bingung menyalurkan hasrat seksualnya setelah semua lokalisasi di Surabaya tutup.
  2. Mucikari, germo dan PSK yang merasa penghasilannya turun akibat “kesewenang-wenangan” Pemkot. Mereka yang sudah terbiasa “kerja sedikit dapet banyak” kalau dilatih dan ditawari kerja sebagai tukang jahit, buruh, pedagang, atau pekerjaan-pekerjaan halal lainnya yang memulai dari bawah, takkan mau. “Kerjanya sulit, hasilnya seupil. Nggak level!” mungkin begitu alasan mereka.
  3. Mafia dan pedagang pasar yang omzetnya turun drastis pasca penertiban pasar. Mereka merasa sudah lama di situ, lapaknya legal karena rutin membayar iuran. Padahal itu jelas jalan atau tanah milik umum. Dan uang iuran itu tidak pernah masuk ke kas Negara. Jadi, mereka sebenarnya membayar iuran ke pengelola bayangan (mafia), tapi tidak tahu atau tidak mau tahu.
  4. Pemilik rumah liar yang tergusur oleh projek-projek Pemkot atau karena penertiban. Seperti pedagang liar yang mengaku-aku seenak pusarnya sendiri, mereka juga mengklaim itu tanahnya, padahal mereka cuma sedang berhalusinasi.
  5. Para politikus yang pernah sakit hati oleh gebrakan Tri Risma yang “lancang”. Terutama para dewan yang agung di DPRD Surabaya.
Banyaknya musuh inilah yang membuat Tri Risma gerah dan tidak nyaman bekerja. Dia lalu melontarkan niat mundur sebagai Wali Kota. Sayang sekali. Surabaya sebenarnya punya banyak pemimpin hebat. Namun yang terbukti berprestasi membangun kota sekaligus bersih seperti Tri Risma? Rasanya perlu belasan tahun untuk menemukannya.

Bagi saya, Tri Risma itu bukanlah politikus. Bicaranya juga tidak selancar dan sejernih politikus lainnya. Tapi hatinya jernih, tidak suka menggunakan intrik-intrik, dan tipikal pimpinan yang tidak peduli pencitraan. Tri Risma itu berjilbab dan tampak ketakutan sekali terhadap Tuhan, tapi tidak sampai merasa perlu mengiming-imingi hadiah Toyota dan Umrah kepada anak buahnya yang rajin salat.

Kalau orang yang tulus dan fokus seperti dia bisa punya banyak musuh, apa boleh buat, itulah indikasi betapa bobroknya sistem di Surabaya. Mulai dari penguasanya, pejabatnya, pengusahanya, hingga rakyat kecilnya (yang egois hanya memedulikan lapak serta perutnya sendiri).

Namun, saya yakin, mereka yang bobrok itu justru minoritas. Mayoritas warga Surabaya malah akan merasa kehilangan dan marah kalau Tri Risma adalah orang yang tersingkir dalam hiruk-pikuk perpolitikan yang konyol ini. Mayoritas warga Surabaya justru akan berdoa untuk Tri Rismaharini. Dan kompak berteriak, “Save Risma!”

1 comment :

  1. orang yang jujur dan bersih itu sejaitinya dimusuhi system yang korup..

    ReplyDelete

Butuh artikel-artikel semacam ini? Atau, punya ide membuat buku tetapi kurang bisa menulis? Tidak sempat? Kami bersedia membantu menuliskannya secara profesional. Kami juga menyediakan jasa editing tulisan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.