Ketika Cita-cita Tak Kunjung Terwujud

Sunday, May 11, 2014

Ketika Cita-cita Tak Kunjung Terwujud


Ketika cita-cita tak kunjung terwujud
- Oleh Ino Permana

Pernahkah Anda mengejar sesuatu dengan begitu keras? Apa yang Anda kejar itu adalah sesuatu yang sangat berharga, sudah lama Anda impi-impikan. Anda kejar siang-malam, selama bertahun-tahun, tanpa lelah. Tapi, takdir menentukan lain. Rupanya Allah belum mengizinkan Anda untuk mendapatkannya. Apakah Anda kemudian bersedih dan berhenti? Atau tetap berusaha semaksimal mungkin?

Mari kita tengok kisah Nabi Ibrahim 'alaihis salam bersama istrinya Sarah, ketika mereka sangat ingin mempunyai keturunan. Tidak kurang-kurang usaha yang mereka lakukan dan doa yang mereka panjatkan selama puluhan tahun. Padahal, mereka sudah menyadari: Sarah sudah sangat tua, begitu pun Ibrahim. Ada ulama yang berpendapat bahwa ketika anaknya Ishaq itu lahir, Sarah berusia 90-an tahun dan Ibrahim berusia 100-an tahun.[1] Sarah pun diduga wanita yang mandul.[2]

Mengenai kisah Ibrahim dan Sarah, kita dapat melihat dalam dua surat di Alquran. Dalam kisah mereka, Allah Ta'ala menceritakan kedatangan tamu (para malaikat). Ibrahim dan istrinya menjamu mereka dengan baik.

فَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُوا لَا تَخَفْ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ (28) فَأَقْبَلَتِ امْرَأَتُهُ فِي صَرَّةٍ فَصَكَّتْ وَجْهَهَا وَقَالَتْ عَجُوزٌ عَقِيمٌ (29) قَالُوا كَذَلِكِ قَالَ رَبُّكِ إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ (30)

“(Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata, 'Janganlah kamu takut.' Dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim. Kemudian istrinya datang memekik lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata, '(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul.' Mereka berkata, 'Demikianlah Tuhanmu memfirmankan.' Sesungguhnya Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui." (QS. Adz Dzariyaat: 24-30)

Lalu salam Surat Huud, Allah menceritakan:

وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ (71) قَالَتْ يَا وَيْلَتَا أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ (72)

“Dan istrinya berdiri (di balik tirai) lalu tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak. Dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya'qub. Istrinya berkata, 'Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak, padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.'" (QS. Huud: 71-72)

Lihatlah bagaimana impian Sarah dan Ibrahim untuk memiliki anak baru terwujud setelah mereka berada di usia sangat-sangat tua. Namun Allah memiliki ilmu yang sempurna. Dia juga Al Hakim menunjukkan bahwa Allah memiliki kehendak, keadilan, rahmat, ihsan, dan kebaikan yang sempurna. Di samping itu, Allah Ta'ala pun betul-betul menempatkan sesuatu pada tempatnya. Itu yang sebaiknya kita camkan.

Pahamilah takdir ilahi

Sobat, ketahuilah, setiap yang terjadi di muka bumi ini sudah tercatat di Lauhul Mahfuzh sejak 50.000 tahun yang lalu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash)

Jika seseorang beriman pada takdir ini dengan benar (ingat, iman pada takdir adalah rukun iman keenam), maka dia pasti akan memperoleh kebaikan yang berlimpah. Sebagaimana yang dikatakan Ibnul Qayyim, “Landasan setiap kebaikan adalah jika engkau tahu bahwa setiap yang Allah kehendaki pasti terjadi dan setiap yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi.” (Al Fawaid, hal. 94) [3]

Jadi, segenap apa yang terjadi pada kita saat ini tidak ada yang sia-sia. Pasti ada hikmah di balik itu semua.

Allah Ta’ala berfirman,

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ (115) فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ (116)

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya. Tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.” (QS. Al Mu’minun: 115-116)

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ (38) مَا خَلَقْنَاهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan ketepatan.” (QS. Ad Dukhan: 38-39).

Oleh karena itu Sobat, jika impian-impian Anda belum terwujud, maka perlu Anda pahami bahwa itulah ketentuan Allah. Dan perlu diyakini, itulah yang terbaik untuk hamba-Nya, meskipun pasti tidak dirasa yang terbaik oleh manusianya (yang sok tahu).

Allah menjanjikan hikmah di balik itu semua karena sifat hikmah yang sempurna yang Dia miliki.



Footnote
  • [1] Sebagaimana disebutkan dalam tafsir Al Jalalain ketika menafsirkan surat Adz Dzariyat ayat 29.
  • [2] Faedah dari penjelasan Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir As Sa'di dalam Taisir Al Karimir Rahman, halaman 810, Muassasah Ar Risalah, Beirut, Libanon, cetakan pertama, 1423 H.
  • [3] Al Fawaid, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, hal. 94, Darul ‘Aqidah, cetakan pertama, tahun 1425 H.

0 comments :

Post a Comment

Butuh artikel-artikel semacam ini? Atau, punya ide membuat buku tetapi kurang bisa menulis? Tidak sempat? Kami bersedia membantu menuliskannya secara profesional. Kami juga menyediakan jasa editing tulisan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.