Melamun Menunggu saat Berbuka

Sunday, June 29, 2014

Melamun Menunggu saat Berbuka


Ngabuburit di mal adalah salah satu yang saya hindari
Ngabuburit di mal adalah salah satu yang saya hindari
- Oleh Arta Nusakristupa

Tak terasa, sudah Ramadan lagi. Anda yang sedang menunaikan ibadah puasa pasti tahu, berbuka adalah salah satu kegiatan yang seharian kita tunggu-tunggu. Dan senyampang menanti azan Maghrib berkumandang, selalu ada saja yang bisa kita nikmati. Apalagi kalau pada hari libur seperti sekarang. Di masjid-masjid, misalnya.

Selesai salat Duhur berjamaah, kita pasti melihat pemandangan orang-orang tidur siang di bawah pilar-pilar masjid. Tengkurap di lantai marmer yang dingin, plafon yang tinggi, pintu-pintu besar yang terbuka lebar, mengundang angin untuk masuk menelusupkan kesejukan di pori-pori kulit. Saya yakin sepanjang Ramadan, di mana-mana kita akan jumpai orang-orang bergelimpangan, bahkan sampai di teras-teras masjid.

Sebagian lain dari kita mungkin lebih memilih menghabiskan waktu puasa dengan membolak-balik majalah, koran, browsing internet, atau jalan-jalan ngadem di lorong-lorong mal. Terkadang sambil membayangkan buah yang telah diiris dan didinginkan di lemari es, nasi berkepul-kepul lengkap dengan lauk dan aneka sayurannya, ah....

Saya ingat sebuah humor yang gagal memancing tawa. Begini, “Sambil menunggu saatnya berbuka puasa, mari kita ngobrol santai sambil ngerokok dan ngopi.” Hahaha, garing! Entah siapa yang mengarangnya. Tapi agaknya, humor itu populer di kalangan mereka yang tidak kuat ujian menahan lapar, dahaga dan nafsu ini.

Untuk menanti saat berbuka, atau istilah gaulnya ngabuburit, saya sendiri paling suka melamun. Lho, kok malah jadi lebih garing begini? Ya tidak masalah. Justru bagi saya, melamun adalah hobi kreatif dan cenderung futuristik. Asal jangan melamun jorok saja. Sangat gampang dikerjakan, tidak menguras energi, tak perlu alat apa-apa, tidak merugikan orang lain (tidak seperti genjrang-genjreng gitar), dapat dilakukan di mana saja, dan gratis.

Tentu ini lebih menguntungkan dibandingkan dengan ngabuburit di jalan atau di mal yang bagi pria semacam saya penuh risiko. Coba bayangkan bila Anda berpapasan dengan lawan jenis yang bajunya berbelahan dada lebar, jins ketat dengan pinggang yang begitu rendah hingga kelihatan bokong sekaligus celana dalamnya. Di situlah kita berpotensi sukses menahan dahaga (karena adem terlindung oleh AC mal), namun berpeluang gagal mengendalikan mata.

Meskipun tidak membatalkan puasa, yang begitu itu berpotensi menghilangkan pahala puasa. Rugi dong berlapar-lapar seharian tapi tidak ada pahalanya.

Risiko lain menunggu saat berbuka di mal bagi saya adalah godaan belanja. Selama Ramadan, banyak gerai menawarkan berbagai rayuan kepada konsumen. “Obral Gila-gilaan”, “Lebaran Sale” atau “Discount up to 80%” adalah provokasi marketing yang sanggup mengubah niat dari sekadar jalan-jalan menjadi acara balapan berbelanja.

Apalagi kalau membawa pasangan dan anak. Seminggu-dua minggu begitu terus, bisa-bisa tekor sebelum sempat mudik, hehehe.

Mending ngabuburit dengan melamun kan?

Melalui lamunan, apa saja bisa saya bayangkan dalam konteks “seandainya”. Sekadar informasi, apa yang saya jalani dan peroleh sekarang sebenarnya sedikit-banyak adalah wujud dari apa yang dulu pernah saya lamunkan. Inilah misteri lamunan yang tak pernah berhenti membuat saya kagum. Ada keajaiban demi keajaiban dari kegiatan remeh bernama melamun ini.

Jadi, ya sudahlah, izinkan saya mengakhiri tulisan ini dan melanjutkan lamunan saya.

0 comments :

Post a Comment

Butuh artikel-artikel semacam ini? Atau, punya ide membuat buku tetapi kurang bisa menulis? Tidak sempat? Kami bersedia membantu menuliskannya secara profesional. Kami juga menyediakan jasa editing tulisan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.