Pasar Turi Baru

Sunday, July 20, 2014

Pasar Turi Baru


Pasar Turi baru, Surabaya
Pasar Turi baru, Surabaya
- Oleh I Gede Prastica & Gregorius Kurniawan

Tujuh tahun menanti, akhirnya pedagang Pasar Turi benar-benar dapat bernapas lega. Mereka kembali bisa menempati stan di pusat perdagangan terbesar se-Surabaya tersebut. Bahkan stan-stan itu jauh lebih layak dibanding sebelum pasar legendaris itu terbakar pada 2007 dan 2012 silam.

Sejauh ini, pihak pengembang Pasar Turi, PT Gala Bumi Perkasa sudah menyerahkan smart card kepada puluhan pedagang. Mereka yang sudah memegang smart card bisa segera berjualan di Pasar Turi paling lambat Oktober 2014.

Kartu pintar merupakan sarana untuk mendapatkan kunci stan, membayar sewa, listrik, gas, air, hingga pajak. Jadi, “Kalau nanti misalnya jatah listrik penyewa habis, lampu otomatis akan mati. Solusinya, ya harus diisi ulang,” Henry J. Gunawan, Direktur PT Gala Bumi Perkasa, sedikit membeberkan apa pintarnya kartu Pasar Turi ini.

Penyerahan smart card diawali dari pedagang-pedagang yang menempati lantai lower ground dan ground. Totalnya lebih dari 2.000 stan. Sementara untuk pembeli stan Pasar Turi di lantai 1 hingga 4, penyerahan kartu baru bisa dilakukan mulai Agustus.

Sekadar informasi, Pasar Turi yang baru ini terdiri dari delapan lantai (sebelum kebakaran hanya empat lantai), dengan lokasi parkir yang sekarang bisa menampung sekurang-kurangnya 14.000 kendaraan. Ini tentu akan semakin mengukuhkannya sebagai kawasan yang layak dikunjungi wisatawan-wisatawan dari luar Surabaya.

Selain Pasar Turi sebagai pusat perbelanjaan murah yang menyediakan berbagai produk fashion, garmen, makanan, barang elektronik, peralatan rumah tangga, sepatu, oleh-oleh Jawa Timur dll, di kawasan ini juga bisa kita temui Stasiun Pasar Turi, kebun bibit, dan Kampung Ilmu, pusat buku murah di Jalan Semarang.


Pasar Turi terbakar: kilas balik 2007 & 2012

Tanggal 26 Juli 2007 adalah mimpi buruk bagi pedagang Pasar Turi Surabaya. Pasar terbesar di kawasan Indonesia timur itu dilalap habis si jago merah. Api berkobar mulai Kamis pukul 8.30. Hingga dua hari berikutnya, petugas pemadam yang berjarak 10 menit dari lokasi tak kunjung berhasil memadamkannya. Akibatnya tragis, hampir semua toko di lantai 1, 2 dan 3 ludes.

Pertokoan Ramayana yang berada di gedung Pasar Turi Surabaya tahap IV pun tak bisa lolos dari bencana itu. Untungnya, tidak ada korban jiwa. Meski akibat kebakaran terbesar di Surabaya itu, sedikitnya 10.000 karyawan di ribuan stan terancam ekonominya.

Tapi yang paling terpukul dari tragedi ini jelas pedagang. Mereka langsung meminta Pemerintah setempat menyediakan Tempat Penampungan Sementara (TPS) agar mereka tetap bisa berjualan. Para pedagang menuntut pembangunan TPS lekas direalisasikan, apalagi saat itu menjelang bulan puasa. Kendati bagi pedagang, TPS merupakan solusi jangka pendek.

Walikota Surabaya waktu itu, Bambang D.H., menegaskan bahwa pihaknya akan membangun lagi Pasar Turi. Revitalisasi sebenarnya sudah direncanakan sejak 2004, namun sebagian lahan diklaim PT Kereta Api (KA), sehingga rencana pembangunan ini harus ditunda.

Baru pada pertengahan Juli 2007, sengketa tersebut selesai lewat vonis Mahkamah Agung. Akhirnya, setelah diputuskan 1,6 dari 4,3 hektar lahan Pasar Turi adalah milik PT. KA, Pemkot bersedia menyewanya.

Pembangunan ulang dan perbaikan Pasar Turi sudah merupakan tuntutan wajar dalam persaingan bisnis. Apalagi melihat tren anak muda yang enggan masuk pasar tradisional. Walikota Surabaya menginginkan Pasar Turi menjadi modern, mempunyai sirkulasi udara yang bagus dan siap sedia water sprinkle untuk mencegah kebakaran. Lorong harus lebar untuk mengantisipasi kondisi darurat.

Menurut Ketua Umum Himpunan Pedagang Pasar Turi (HPP), Joko Sujiono, kerugian pasar yang legendaris ini karena kebakaran 2007 setidaknya Rp 1,7 trilyun. Perhitungan itu didasarkan pada perputaran uang di Pasar Turi yang seharinya bisa mencapai Rp 30 milyar. Barang dagangan serta aset-aset yang tersimpan milik para pedagang belum dihitung.

Kondisi Pasar Turi setelah terbakar pada 2012
Kondisi Pasar Turi setelah terbakar pada 2012
Untuk satu stan, lanjut Joko, nilai asetnya bisa mencapai Rp 800 juta. “Itu stan kelas menengah, belum termasuk stan kelas besar dan bangunan dalam Pasar Turi itu sendiri.”

Beberapa hari setelah peristiwa naas itu, sejumlah pedagang Pasar Turi yang kiosnya terbakar (maupun yang tidak) sibuk menempelkan pengumuman dan selebaran di pagar Pasar Turi. Supaya para pelanggan tidak kehilangan kontak dengan mereka. Efektif juga. “Iya, saya ke sini mencari toko langganan saya,” ujar salah satu pegunjung di area Pasar Turi yang dipergoki sedang membaca pengumuman tempelan itu.

Langkah lain yang ditempuh ialah mengalihkan pusat usaha ke tempat lain atau ke gudang. Itulah yang dilakukan Fasco Andreo, salah satu pedagang Pasar Turi yang surat-surat berharga dan nota-nota piutangnya turut ludes dimakan api.

Setelah meletakkannya di gudang, Fasco kemudian mengontak pelanggannya agar mau mengunjungi gudang itu. Tentu saja ada ongkos lebih yang harus dibayar oleh pedagang. Mau bagaimana lagi, bencana memang memaksa semua pihak merogoh kocek lebih dalam lagi.

Namun, apakah dengan begini para pedagang trauma berjualan di Pasar Turi? “Oh, tidak. Pasar Turi pernah terbakar beberapa kali sebelumnya, tapi toh orang-orang juga masih berjualan di sini. Mereka selalu bisa move on,” ujar Fasco yakin.

Fasco benar. Buktinya, setelah peristiwa 26 Juli 2007 itu, Pasar Turi dibangun lagi dan masih sekali lagi mengalami kebakaran, yaitu pada 16 September 2012. Bukan legenda namanya bila Pasar Turi gagal bangkit kembali.

0 comments :

Post a Comment

Butuh artikel-artikel semacam ini? Atau, punya ide membuat buku tetapi kurang bisa menulis? Tidak sempat? Kami bersedia membantu menuliskannya secara profesional. Kami juga menyediakan jasa editing tulisan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.