ISIS adalah Tantangan Baru Perdamaian Dunia

Sunday, August 3, 2014

ISIS adalah Tantangan Baru Perdamaian Dunia


Pejuang ISIS ketika menguasai Mosul, Irak
Pejuang ISIS ketika menguasai Mosul, Irak
- Oleh Brahmanto Anindito

Belakangan ini, kita santer mendengar orang bicara ISIS. Mungkin ISIS adalah kosakata baru di benak Anda. Saya sendiri terus terang pertama mengetahuinya dari karikatur Harian Jakarta Post. Karikatur itu menggambarkan anggota-anggota ISIS mengeksekusi sebaris tahanan. Di sana, ada bendera hitam bergambar tengkorak dengan tulisan “Laa illaha ilaallah”.

Karikatur yang konyol! Tapi karikatur itu, menurut saya, menggambarkan dengan tepat kekonyolan ISIS. Menebar kengerian dengan kalimat tauhid, kurang konyol bagaimana! Yang membuat saya semakin antipati dengan ISIS adalah cara mereka. Pendekatan yang dipakai ISIS adalah jalan perang, kekerasan dan terorisme.

Memang, sejak runtuhnya pemerintahan Islam Turki Utsmani pada 1924, Islam sudah tak punya lagi sistem kekhalifahan. Negara-negara Islam tidak lagi berada dalam satu komando. Mereka jalan sendiri-sendiri. Sistem mereka pun nebeng sistem yang lain, misalnya demokrasi atau komunisme, yang cenderung mengabaikan Alquran dan Hadits.

Inilah yang coba direvolusi oleh ISIS. Islamic State Iraq and Sham alias ISIS adalah negara baru yang terbentuk akibat Perang Suriah. Negara Islam Irak dan Suriah, namanya. Tentu saja negara ini belum dapat pengakuan dari PBB atau negara lain. Jadi sebenarnya, perjuangan mereka baru berada di tahap awal.

ISIS adalah kontroversi

Petinggi ISIS pernah bersumpah akan menghancurkan Kabah jika berhasil menguasai Arab Saudi. Alasannya? Mereka memandang bodoh kehadiran Kabah ini. Di mata ISIS, kaum muslim jadi suka mencium, mengitari dan menyembah batu (Kabah). Padahal yang mestinya disembah adalah Allah semata.

Gerakan pemurnian akidah? Tunggu dulu. Saya yakin pasti lebih banyak yang kontra dibanding yang pro dengan wacana ISIS ini.

Yang jelas, orang-orang ISIS adalah penjagal, termasuk bagi kaum muslimin. Mereka menangkapi orang-orang yang tidak disukainya, lalu mengeksekusi dengan menembak dari jarak dekat, menyalib, atau memancung mereka (dan memamerkan koleksi kepala-kepala itu ke publik). Kengerian yang ditebar ISIS ini membuat organisasi ekstrim Al Qaida pun seolah-olah tidak ada apa-apanya.

Pada 2013, ISIS menguasai Kota Raqqa (Suriah) dan menunjukkan bahwa mereka bukan kelompok putih yang baik. Lalu pada Juni kemarin, ISIS menguasai Mosul, dimana mereka menghancurkan makam Nabi Yunus dan Nabi Daniel (keturunan Nabi Daud). Tidak berhenti di sana, mereka juga meratatanahkan masjid-masjid. Luar biasa!

ISIS adalah jihadis paling berbahaya setelah Al Qaida

ISIS adalah kelompok gerilyawan di bawah pimpinan Abu Bakr al-Baghdadi. Dia merupakan komandan perang yang ahli strategi. Pria kelahiran Samarra (Baghdad) pada 1971 ini bergabung dengan pemberontak Irak pascainvasi koalisi AS 2003 silam. Pada 2010, al-Baghdadi memimpin Al Qaida cabang Irak.

ISIS didirikan pada April 2013. Huruf "S" dalam ISIS berasal dari bahasa Arab "al-Sham", yang merujuk ke wilayah Damaskus (Suriah) dan Irak. Tapi dalam konteks global, ia merujuk kepada wilayah Timur Tengah yang meliputi Israel, Yordania, Lebanon, wilayah Palestina, dan juga wilayah Tenggara Turki.

Jumlah pejuang ISIS baru ribuan, tapi akan terus berkembang. Prof. Peter Neumann dari King's College London menaksir setidaknya 80% pejuang Barat di Suriah telah bergabung dengan kelompok radikal ini. ISIS sendiri mengklaim memiliki pejuang dari Eropa dan Amerika.

Organisasi ini mengandalkan pendanaan dari donator-donatur simpatisan di negara-negara Arab. Selain itu, ISIS mengusahakan sendiri pendanaan operasional timnya.

Dari kabar yang beredar, ISIS telah menguasai sejumlah ladang minyak di wilayah bagian timur Suriah. ISIS juga disebut-sebut mengeruk keuntungan dari penjualan benda-benda antik dari sebuah situs bersejarah. Dompet mereka pun makin gendut setelah menggaruk ratusan juta dollar dari bank sentral Irak di Mosul.

Tapi, sepertinya ISIS adalah a lone wolf. Mereka tak punya teman. Bahkan kelompok Syiah, Sunni atau Al Qaida bukanlah kawan mereka.

ISIS adalah bentukan Israel-Inggris-Amerika

Edward Snowden, mantan staf Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA), menyatakan bahwa sebenarnya ISIS adalah organisasi bentukan intelijen tiga negara: Inggris, Amerika Serikat dan Israel.

Tujuan mereka tentu bukan mewujudkan negara khalifah Islam. Mana mungkin negara sekuler dan zionis punya cita-cita ke sana? Tujuan asli mereka menciptakan ISIS adalah untuk menarik semua ekstrimis Islam dari seluruh pelosok dunia ke satu wadah, sehingga lebih mudah dibidik.

Berdasarkan dokumen tersebut, khalifah ISIS Abu Bakar Al-Baghdadi pun mendapatkan pelatihan militer selama setahun penuh dari Mossad. Al-Baghdadi juga mendapatkan kursus teologi dan retorika dari Dinas Rahasia Israel itu.

Snowden merilis dokumen NSA yang menunjukkan bagaimana Strategi Sarang Lebah ini dibuat untuk melindungi kepentingan zionis dengan jargon-jargon Islam. Mereka melihat, satu-satunya cara untuk melindungi kepentingan Yahudi adalah menciptakan musuh di perbatasan. Di samping itu, eksistensi ISIS ini jelas akan terus membuat kondisi negara-negara Timur Tengah tidak stabil.

ISIS adalah pemecah belah Islam di Indonesia

Memang, ISIS adalah kelompok jihadis di Irak dan Suriah. Mereka memerangi pasukan pemerintah di Suriah dan membangun kekuatan militer di Irak. Namun, jangan kira ISIS hanya buka cabang di dua negara itu. Di Indonesia pun sudah banyak yang bergabung dengan ISIS.

Beberapa waktu lalu, muncul video simpatisan yang mengajak kaum muslimin di Indonesia bergabung dengan ISIS. Abu Muhammad al-Indonesi dengan lantang menyampaikan dalam video itu, “Keluarkan semua upaya Anda, baik kekuatan fisik maupun keuangan, untuk bermigrasi ke Negara Islam. Ini merupakan kewajiban diperintahkan oleh Allah.”

Tak ingin virus ISIS berkembang menjadi seperti Jamaah Islamiyah, para tokoh buru-buru mewanti-wanti umatnya untuk berhati-hati. Komarudin Hidayat menyatakan bahwa pandangan ISIS adalah pandangan yang romantis dan utopis. Tidak realistis!

Sementara itu, KH Hasyim Muzadi, Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, menegaskan bahwa ISIS adalah gerakan ekstrim yang tidak menghormati kedaulatan negara.

Ada juga pendapat Abdul Kadir Karding, Ketua DPP PKB, yang mengatakan bahwa gerakan ISIS adalah bibit-bibit separatisme yang harus dilarang karena bertentangan dengan Pancasila dan UUD 45.

Saya sendiri berpendapat, ISIS ini hanya akan memperburuk wajah Islam. Semoga kaum muslimin di Indonesia tidak terprovokasi dengan janji-janji Negara Islam mereka. Negara Islam macam bagaimana yang mau mereka dirikan? Menilik bukti-bukti di lapangan bahwa mereka hanya sekumpulan orang yang haus darah dan lapar kekuasaan.

Seandainya memang konsisten mau mendirikan kekhalifahan Islam, kenapa malah meratakan masjid-masjid di Irak dan hendak menghancurkan Kabah di Mekah? Kenapa tidak memprioritaskan penyerangan Israel atau Amerika? Sebab, saya benar-benar menantikan momen "senjata makan tuan" itu.

0 comments :

Post a Comment

Butuh artikel-artikel semacam ini? Atau, punya ide membuat buku tetapi kurang bisa menulis? Tidak sempat? Kami bersedia membantu menuliskannya secara profesional. Kami juga menyediakan jasa editing tulisan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.