Bahayanya Kebanyakan Tidur

Sunday, September 14, 2014

Bahayanya Kebanyakan Tidur


Oversleeping ternyata berbahaya sekali
Oversleeping ternyata berbahaya sekali
- Oleh Brahmanto Anindito

Di zaman serba terburu-buru ini, sungguh sulit mencapai porsi tidur yang ideal. Bahkan untuk orang sesibuk kita, tidur 7-9 jam sehari rasanya terlalu memboroskan waktu. Tapi, percaya atau tidak, ada juga orang yang mudah tidur sehingga jatah tidurnya menjadi berlebihan. Banyak, malah!

Tidur memang nikmat. Apalagi kalau bisa pulas. Namun kasus oversleeping alias kebanyakan tidur, menurut beberapa penelitian, justru akibatnya jauh dari nikmat. Setidaknya, kebiasaan ini bisa menyebabkan kondisi-kondisi berikut:

Diabetes. Riset di Amerika Serikat melibatkan ribuan partisipan menunjukkan bahwa orang yang tidur lebih dari sembilan jam setiap hari berisiko 50% lebih besar mengidap diabetes ketimbang mereka yang tidur tujuh jam setiap hari. Peningkatan risiko juga tampak pada mereka yang tidur kurang dari lima jam sehari.

Obesitas. Tidur terlalu lama pun dapat membuat berat badan berlebihan. Sebuah riset menunjukan 21% dari mereka yang tidur selama 9-10 jam setiap malam berisiko lebih besar mengalami obesitas (kegemukan) dalam kurun enam tahun dibandingkan mereka yang “hanya“ tidur selama 7-8 jam seharinya.

Sakit Kepala. Untuk mereka yang rentan sakit kepala, tidur lebih lama dari biasanya bisa mendatangkan gejala pusing dari ringan sampai berat. Para ahli percaya bahwa oversleeping berpengaruh pada neurotransmitter dan serotonin dalam otak. Orang yang tidur lama di siang hari dan mengacaukan pola tidur malamnya juga terbukti sering mengalami sakit kepala pada pagi harinya.

Sakit Punggung. Ada kalanya dokter menyarankan Anda untuk rebahan bila ada keluhan sakit punggung. Anda juga perlu membatasi program olahraga ketika punggung mulai sakit. Saran ini tentu membuat waktu tidur menjadi lebih panjang. Untungnya, para dokter sekarang telah menyadari pentingnya menghindari oversleeping. Terlalu banyak berbaring juga tidak baik untuk punggung.

Depresi. Meskipun insomnia lebih sering dikaitkan dengan depresi ketimbang kebiasaan oversleeping, sekitar 15% penderita depresi ternyata sebelumnya terbiasa tidur secara berlebihan. Inilah yang diduga membuat depresi semakin buruk. Sebaliknya, kebiasan tidur yang teratur dan dalam porsi yang tepat sangat penting dalam proses pemulihan depresi.

Penyakit Jantung. Riset Nurses' Health yang melibatkan 72.000 wanita menunjukkan wanita yang tidur 9-11 jam setiap malam 38 persennya berisiko lebih besar mengalami penyakit jantung koroner ketimbang mereka yang tidur delapan jam.

Kematian. Banyak riset mengungkapkan bahwa mereka yang tidur sembilan jam atau lebih di malam hari secara signifikan memiliki rata-rata kematian lebih tinggi daripada mereka yang tidur selama 7-8 jam.

Nah, masih mau bermalas-malasan dan tidur lebih sering?

0 comments :

Post a Comment

Butuh artikel-artikel semacam ini? Atau, punya ide membuat buku tetapi kurang bisa menulis? Tidak sempat? Kami bersedia membantu menuliskannya secara profesional. Kami juga menyediakan jasa editing tulisan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.