Dimanakah Medan Laga dalam Perang Pemasaran?

Wednesday, December 3, 2014

Dimanakah Medan Laga dalam Perang Pemasaran?


Medan laga itu ada di...
- Oleh Ino Permana

Sebagian dari Anda akan menjawab pertanyaan itu begini, “Karena pemasaran berasal dari kata ‘pasar’, maka perangnya pasti di pasar. Termasuk di supermarket, minimarket, mal, atau pasar tradisional.” Ada juga yang menjawab, “Karena sekarang adalah era teknologi informasi, maka perangnya sebagian besar di ranah online.” Betulkah?

Betul saja deh. Tapi, rasanya masih kurang spesifik.

Begini, Sobat, pernahkah Anda masuk di sebuah minimarket, katakanlah Alfamart atau Indomaret? Yang tidak pernah sama sekali, mungkin rumahnya di hutan belantara ya, hehehe….

Nah, ketika Anda masuk sana, biasanya berapa produk atau merek yang Anda beli? Pernahkah Anda iseng menghitung ada berapa total merek yang dijual di minimarket tersebut? Apakah puluhan? Ratusan? Ribuan? Saya kira bisa saja ribuan. Mungkin ada puluhan ribu, bahkan jutaan merek, untuk kelas supermarket, hipermarket atau mal.

Ketahuilah, Sobat, setiap produk yang dijual di sana, semuanya berteriak, “Ke sini! Lihatlah aku! Belilah aku!” Pemilik produk tersebut pun mendesain kemasannya dengan sedemikian rupa agar mudah dikenali dan menarik untuk dibeli oleh masyarakat. Mereka juga mengerahkan segenap upaya untuk membuat nama dan slogan produknya mudah diingat oleh banyak orang.

Mereka adu keras teriakan dengan merek-merek lain. Mereka berebut perhatian kita. Tapi justru gara-gara ribuan “teriakan” itulah, telinga kita pekak. Mereka pun “tenggelam” dan kita tidak dapat mengenali masing-masing suara yang dijual di minimarket itu.

Bila Anda baru keluar dari minimarket, coba, ada berapa merek yang bisa Anda sebutkan secara cepat di luar kepala? Pasti jawabannya sangat jauh lebih sedikit dari jumlah total merek yang ada di sana. Maka para pemasar itu sibuk mengatur strategi produk, dan para penjualnya sibuk menata produk itu agar posisi fisiknya mudah terlihat.

Seorang konsumen akan memilih produk yang terlihat di depan mata, brandnya paling dia kenal, paling dia ingat. Tapi berhubung daya ingat manusia terbatas, maka setiap pemilik brand harus saling bertempur untuk memperebutkan sejengkal kavling di otak manusia.

Karena itu, Sobat, sebenarnya Perang Pemasaran itu terjadi di otak konsumen. Bukan di pasar, minimarket, supermarket, atau media massa. Siapa yang brand produknya dapat tertanam kuat di benak semakin banyak orang, produk itulah yang sukses.

Maka sekarang, siapkan senapan, pistol, granat dan peluru Anda. Karena helikopter perang sebentar lagi akan mengantar Anda ke medan laga. Yaitu otak para konsumen. Berani?

0 comments :

Post a Comment

Butuh artikel-artikel semacam ini? Atau, punya ide membuat buku tetapi kurang bisa menulis? Tidak sempat? Kami bersedia membantu menuliskannya secara profesional. Kami juga menyediakan jasa editing tulisan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.