Berbagilah Ilmu, Meski Cuma Sekelumit

Wednesday, April 8, 2015

Berbagilah Ilmu, Meski Cuma Sekelumit


- Oleh Ino Permana

Dalam setiap kesempatan menjadi pembicara dalam forum bisnis, saya selalu titip pesan. Apa itu? Salah satunya menceritakan kembali apa yang ditangkap dan dianggap menarik dari penjelasan saya. Minimal pada satu orang yang terdekat. “Bila punya istri atau suami, maka ceritakanlah kembali kepadanya dengan bahasa Anda sendiri. Bila belum berkeluarga, bisa di ceritakan pada pacar, bapak, ibu atau saudara,” kurang-lebih begitulah inti pesan saya.

Kalau belum berkeluarga dan jauh merantau, ya saya minta untuk menceritakan apa yang didapat hari ini kepada teman kos. Atau sekalian ke ibu kosnya. Kalau ada yang tinggal di atas bukit, tidak ada teman sama sekali, guyonannya, ya ceritakan saja ke kucing. Atau kalau tidak punya binatang peliharaan, ceritakan saja pada tembok, hehehe.

Kenapa sih kok saya ngebet mau para peserta untuk menceritakan kembali ilmu yang baru didapat? Karena saat kita baru memperoleh ilmu, ilmu itu hanya terserap sedikit sehingga lebih cepat untuk lupa. Paling minggu depan ilmu baru itu akan benar-benar terlupakan. Sayang kan menghabis-habiskan duit untuk seminar, tapi ilmunya tidak mengendap di memori kita?

Nah, semakin sering kita mengingat kembali, apalagi dengan berusaha menceritakannya ulang dengan bahasa sediri, daya ingat kita tentang ilmu baru tersebut akan berkali lipat lebih kuat.

Sebenarnya, ini sama dengan hadits, “Sampaikanlah dariku walau cuma satu ayat.“

Jadi, sebenarnya ilmu untuk mengingat ilmu yang baru didapat sudah diajarkan sejak berabad-abad silam. Meskipun kita hanya mendapatkan ilmu agama yang sangat sedikit (cuma satu ayat), berusahalah untuk menyebarkannya ke orang lain, asal ilmu itu tidak sesat. Salah satu gunanya, supaya ingatan kita terhadap ayat atau ilmu itu kian kuat.

Kenapa ilmu itu harus selalu dibagikan? Bukannya dipendam sendiri? Karena kalau kita meninggal, kita takkan membawa seluruh harta kekayaan kita yang selama di dunia ini. Yang hanya kita bawa hanya tiga, yaitu: amal kita selama di dunia, doa dari anak kita yang saleh, dan ilmu yang berguna.

Apa yang dimaksud ilmu yang berguna? Yakni setiap ilmu baik yang kita ajarkan kepada seseorang. Jika orang itu mengamalkan ilmu kita sampai 30 tahun, misalnya, maka pahalanya akan terus mengalir kepada kita selama 30 tahun pula.

Enak kan? Seperti passive income saja. Hanya kerja sekali, tapi hasilnya akan terus kita nikmati. Lagipula, secara logika hanya dengan terus melakukan sharing ilmu, peradaban ini akan berkembang. Bagaimana menurut Anda?

0 comments :

Post a Comment

Butuh artikel-artikel semacam ini? Atau, punya ide membuat buku tetapi kurang bisa menulis? Tidak sempat? Kami bersedia membantu menuliskannya secara profesional. Kami juga menyediakan jasa editing tulisan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.