Mengatasi Balita yang Tantrum

Monday, April 20, 2015

Mengatasi Balita yang Tantrum


Mengatasi anak tantrum
- Oleh Arta Nusakristupa

Sebagai manusia, balita juga memiliki perasaan, keinginan dan rasa frustasi. Lantaran mereka belum fasih mengutarakan apa yang diinginkannya, satu-satunya jalan bagi mereka adalah mengamuk. Biasanya mereka akan menangis histeris sambil berguling-guling, berbaring sambil menendang-nendang, atau lainnya. Perilaku balita prasekolah inilah yang populer kita sebut tantrum.

Meskipun tidak semua anak mengalaminya, perilaku tantrum ini tergolong normal bagi anak usia 2-4 tahun. Penyebabnya, tadi sudah disinggung, mereka memiliki keinginan yang tidak terpenuhi, tapi kesulitan mempersuasi orang yang lebih tua untuk meluluskan keinginan tersebut. Sayangnya, orangtua yang tidak paham kemauan si buah hati akhirnya malah terpancing marah melihat anaknya seperti itu.

Padahal, seiring bertambah pintarnya si buah hati, kadar tantrum akan berkurang dan akhirnya menghilang. Ini tergantung juga pada pola asuh orangtuanya. Komunikasi dan empati adalah kuncinya. Ketahuilah penyebab si anak mengamuk, lalu berilah nasehat dengan bahasa yang mudah dipahaminya.

Apakah meluluskan keinginan si anak adalah solusi? Bagaimana bila si buah hati mengalami tantrum di tempat umum? Pasti lebih membuat stres dan malu orangtua.

Namun, orangtua disarankan tetap konsisten. Jika dia, misalnya, dilarang bermain ponsel (karena belum waktunya), jangan diberi ponsel.

Meluluskan keinginannya memang solusi jangka pendek. Toh ponsel tidak berbahaya dan berpotensi melukainya, apa salahnya diberikan saja. Tapi secara jangka panjang, memberikan begitu saja kemauannya bisa menjadi bumerang bagi Anda.

Jangan pula mengimingi-imingi anak dengan hal lain sebagai pengganti. Karena dengan begitu, si anak jadi merasa perilaku tantrumnya berbuah hasil. Maka kelak, dia akan melakukannya lagi. Yang perlu dilakukan orangtua justru adalah mengabaikannya. Sehingga, si buah hati merasa, apapun yang dilakukannya, keputusan Ayah dan Ibu tetap tidak berubah.

Senyampang mengabaikan keinginannya, tanamkan pengertian bahwa, “Ayah/Ibu melarang bukan karena tidak sayang.” Caranya, peluklah si anak sambil menceritakan alasan-alasan pelarangannya. Ini sekaligus untuk melatihnya agar lancar memahami bahasa dan berbicara.

Jika perlu, alihkan perhatiannya kepada hal lain. Sebagai contoh, “Lihat, itu bintangnya bagus ya. Waaaah, kok bisa berkelap-kelip begitu ya? Besar lagi!” Atau apa pun spontanitas Anda. Tapi sekali lagi, Anda tidak perlu mengiming-iminginya dengan sesuatu untuk menggantikan keinginannya tadi.

0 comments :

Post a Comment

Butuh artikel-artikel semacam ini? Atau, punya ide membuat buku tetapi kurang bisa menulis? Tidak sempat? Kami bersedia membantu menuliskannya secara profesional. Kami juga menyediakan jasa editing tulisan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.