Doa-doa yang Kurang Ajar

Sunday, May 3, 2015

Doa-doa yang Kurang Ajar


Berdoa sebaiknya yang umum-umum saja
- Oleh Arta Nusakristupa

Sering, kita berdoa meminta mobil, meminta menang lomba, meminta bisa umrah tahun ini, dan seterusnya. Seperti Nobita yang merengek ke Doraemon, minta ini-itu, banyak sekali. Rinci sekali yang kita tuntut! Kita merasa tidak ada yang salah dengan itu, karena Tuhan memang Mahakaya dan Mahabesar. Patut untuk dimintai ini-itu!

Itu benar! Tapi, berhentilah sebentar. Berpikirlah ulang. Sadarkah kita, bahwa yang kita lakukan itu sebenarnya adalah usaha mendikte Tuhan? Aduh, memangnya siapa kita? Kok berani-beraninya kurang ajar seperti itu?

Lagipula, belum tentu permintaan-permintaan kita baik untuk diluluskan. Belum tentu mobil yang kita damba-dambakan itu baik untuk kita. Siapa tahu malah jadi malapetaka karena anak-anak kita suka rebutan mengendarainya? Sampai berkelahi setiap hari hanya demi mobil itu.

Belum tentu menang lomba bermanfaat bagi kita. Siapa tahu malah membuat kita keteteran mengurus pajak hadiahnya? Siapa tahu kita malah berkonflik dengan teman-teman karena dituduh sombong tidak mau traktir-traktir atau memberi utangan? Karena tidak bisa dipungkiri, ada sebagian orang yang merasa keberuntungan mendadak kita wajib dibagi-bagi, sekalipun mereka tidak melihat kerja keras kita dalam menciptakan keberuntungan itu sebelumnya.

Pun, belum tentu umrah tahun ini adalah yang terbaik bagi kita. Siapa tahu malah menimbulkan riya (pamer) dan ujub (terlalu bangga pada diri sendiri)? Karena motivasi sebenarnya ternyata adalah supaya kita bisa mengunggah foto-foto yang berlatar Mekkah dan Madinah di media sosial. Busyeeet…

Entah Anda mendapat ide “kalau berdoa harus detail” dari motivator siapa, dari ustaz televisi mana, atau di seminar apa. Tapi sudahlah, gunakan akal sehat. Kembalilah ke cara berdoa ala Rasulullah, tentu saja bila Anda seorang muslim. Berhentilah menyuruh-nyuruh Tuhan untuk mengabulkan permintaan-permintaan “sok tahu” yang membabi buta detailnya itu.

Cukuplah kita berdoa secara umum sebagaimana yang dilakukan Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya: mengenai kebaikan, petunjuk, kelancaran rezeki, keselamatan dunia-akhirat, anak yang saleh-salehah, dan sebagainya. Selebihnya, biarkan Tuhan yang mengatur realisasi detailnya. Percayalah, Tuhan lebih tahu apa yang terbaik buat kita.

Bedakan antara berencana serta berikhtiar (yang memang harus detail) dan berdoa (yang punya adab kerendahhatian tersendiri).
“Sesungguhnya akan ada suatu kaum dari umat ini yang berlebih-lebihan dalam bersuci dan berdoa.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah)

0 comments :

Post a Comment

Butuh artikel-artikel semacam ini? Atau, punya ide membuat buku tetapi kurang bisa menulis? Tidak sempat? Kami bersedia membantu menuliskannya secara profesional. Kami juga menyediakan jasa editing tulisan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.