Jangan Hanya Banyak-banyakan Pengikut Media Sosial

Wednesday, June 10, 2015

Jangan Hanya Banyak-banyakan Pengikut Media Sosial


- Oleh Ino Permana

Salah satu fungsi kita menceburkan diri ke media sosial adalah untuk mendukung brand awareness. Ujung-ujungnya memang untuk mendongkrak keuntungan. Logikanya sederhana. Bagaimana kita bisa mendapatkan untung bila tidak ada penambahan penjualan (sales)? Bagaimana bisa mendapatkan penambahan penjualan bila banyak orang tidak tahu brand kita ada?

Namun brand awareness, sales dan profit tidak berjalan berturut-turut seperti kereta api. Kadang-kadang, malah macet, hanya berhenti di brand awareness.

Sering saya melihat, teman-teman pengusaha makanan dan minuman mengeluhkan hal itu dengan naifnya. Mereka menginginkan bisnisnya menghasilkan keuntungan yang besar, hanya dengan membuat akun Facebook, Twitter, atau Google+. Hanya dengan membuat akun!

Ada saja yang belum pahanm, bahwa semua itu pasti ada prosesnya. Dan setiap proses memiliki tahapan yang harus dikerjakan dengan tekun. Kalau tidak tekun atau salah urus, media sosial hanya akan menjadi pos pemborosan.

Apa saja tahapan itu?
  1. Mengisi konten bermutu secara rutin. Bermutu artinya menarik, unik, menginspirasi, mencerahkan, atau informatif. Sebisa mungkin, jangan konten-konten hasil copy-paste. 
  2. Mencari liker atau follower yang sesuai segmen brand. Jika langkah #1 dilakukan dengan baik, pelan tapi pasti, liker atau follower bertambah. Anda juga bisa beriklan untuk menambah jumlah pengikut ini. Atau, kalau mau lebih cepat, beli saja. Tapi, biasanya yang dibeli itu likers atau followers-nya bot (bukan manusia alias palsu). Kalau pun asli manusia, tingkat unlike atau unfollow-nya tinggi. Siap-siap saja melihat pengikut Anda drop dalam beberapa minggu. 
  3. Pertinggi tingkat engagement. Engagement artinya seberapa jauh pengikut Anda terlibat dalam postingan-postingan Anda: jumlah like status, reply, comment, share, +1, retweet, repin, dan sebagainya. Kalau engagement-nya rendah, bisa jadi terlalu banyak pengikut bot atau orang yang sebenarnya tidak tertarik dengan brand atau postingan Anda.
Apakah banyaknya likes dalam fanpage Facebook merupakan parameter kesuksesan? Belum tentu. Sekali lagi, ini tergantung angka engagement-nya. Juga tergantung apakah likers itu sesuai dengan brand kita atau tidak.

Ada contoh kasus yang kami tangani. Sebuah bisnis makanan telah membangun fanpage FB-nya selama kurang-lebih lima tahun. Jumlah likes sekitar dua ribuan. Tapi setelah kami telusuri siapa saja yang sudah me-like fanpage tersebut, ternyata hanya 190-an orang yang berasal dari provinsi yang sama dengan lokasi outlet. Bahkan hanya 90-an orang yang berasal dari satu kota.

Tidak perlu profesor untuk menganalisis data tersebut. Sudah bisa dipastikan, jumlah like fanpage FB yang sebenarnya tergolong lumayan itu hanya akan menghasilkan recehan bagi si pemilik bisnis.

Solusinya bagaimana? Jika bisnis Anda semacam restoran yang sangat terikat dengan kondisi geografis, carilah pengikut dari kota yang sama. Bahkan kalau memungkinkan, dari kecamatan yang sama. Ini bisa dilakukan, salah satunya dengan memasang iklan tertarget.

Kapan-kapan, kita bahas soal iklan ini.

0 comments :

Post a Comment

Butuh artikel-artikel semacam ini? Atau, punya ide membuat buku tetapi kurang bisa menulis? Tidak sempat? Kami bersedia membantu menuliskannya secara profesional. Kami juga menyediakan jasa editing tulisan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.