Man and Boy: Realitas, Rasionalitas, dan Sentimentalitas

Friday, October 30, 2015

Man and Boy: Realitas, Rasionalitas, dan Sentimentalitas


- Oleh Moch. Asrori
  • Judul: Man and Boy (Lelaki Itu dan Putranya)
  • Genre: Drama rumah tangga
  • Pengarang: Tony Parsons
  • Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (terjemahan)
  • Terbit: 2008
Menjadi laki-laki, bagi Hary Silver, merupakan satu dilema panjang yang harus dilalui. Semuanya berawal dari satu kesalahan kecil. Hary sudah memiliki segalanya: istri yang cantik, putra yang tampan, dan sebuah pekerjaan bergengsi di industri pertelevisian. Tapi perselingkuhan semalam membuatnya kehilangan segalanya. Berbagai persoalan membuatnya harus mempelajari lagi arti cinta dan kehidupan.

Jika dibandingkan di negara kita, tema-tema seperti ini mungkin baru saja mulai diangkat. Tapi di belahan dunia sana, tema ini merupakan realitas umum dan menjadi keprihatinan. Hary Silver menjadi sosok yang asing dan sangat fenomenal sebagai laki-laki. Man and Boy, novel ini, sangat ringan dibaca. Rasanya cukup asyik buat bacaan laki-laki yang sudah menginjak masa pernikahan.

Novel dengan tema jenis ini biasanya digarap oleh novelis wanita dengan sentuhan chicklit-nya. Sangat jarang, saya membaca cerita-cerita tentang permasalahan seputar rumah tangga dalam sudut pandang laki-laki yang ternyata sangat enak untuk dinikmati.

Banyak hal dari kehidupannya yang asyik untuk dibicarakan. Misalnya tentang pernikahan, memiliki seorang putra, pekerjaan, perselingkuhan, perceraian, mengasuh anak, mencari pasangan, ataupun tentang membangun sebuah rumah tangga baru lagi.
Semuanya bermula ketika Hary Silver mulai menyadari beberapa hal menjelang ulang tahunnya ke-30. Ada dua pilihan yang biasa terjadi: merayakan bersama teman-teman lajang yang ceria di bar atau restoran eksklusif? Atau dikelilingi istri yang penuh cinta dan beberapa anak kecil manis dalam kehangatan rumah keluarga?

Hal itu menimbulkan rasa tidak percaya diri. Hingga Hary membeli sebuah mobil baru baginya, sebuah MGF yang sporty dan berjiwa muda. Itu pun setelah Gina menyetujuinya, karena dia tidak ingin Hary terus-terusan meratapi masa lalunya.

Tidak ada yang salah dengan pernikahannya. Hanya, dia menikah di tengah kebanyakan laki-laki seumurnya tengah bersenang-senang. Pada saat eman-temannya menikmati kematangan sebagai laki-laki; menikmati karir, apartemen pribadi, dan mengejar gadis-gadis, Hary dijejali masalah rumah kontrakan, tagihan-tagihan, dan suara tangis Pat, putranya.

Gina istrinya pun bukan perempuan yang konvensional. Selain cantik (bahkan saat pertama kali Hary melihatnya, dia menganggap Gina jauh dari jangkauannya), dia sangat terpelajar, dan demi Hary dia rela mengorbankan beberapa tawaran kerja di luar negeri. Tapi Gina adalah produk rumah tangga broken home. Dia dibesarkan sendirian oleh ibunya. Sementara Glenn, ayahnya, adalah tipikal lelaki yang suka gonta-ganti pasangan, dan kabur di kemudian hari ketika mulai bosan.

Sebaliknya, Hary adalah produk keluarga konvensional, dengan kedua orang tua lengkap. Rumah adalah tempat yang nyaman baginya untuk berbagi. Hal itulah yang menarik bagi Gina, dia memilih Hary karena yakin pria itu bukanlah tipikal ayahnya. Dia menginkan anak-anaknya kelak dapat diasuh lengkap oleh dua orangtua kandungnya.

Melalui tokoh-tokoh di sekitar Hary dan Gina, novel ini seolah menggambarkan bahwa keluarga lengkap adalah sesuatu yang langka dijumpai.

Gambaran lain yang menarik adalah bagaimana Hary melukiskan perasaannya saat putranya, Pat, lahir. Terlintas di dalam pikirannya, kekagumannya, dan ketakutannya pada sosok mungil yang sangat tampan, yang mengingatkannya pada banyak hal. Dia teringat perasaan ketika istrinya menyatakan beredia menikah dengannya. Pada ayahnya yang pahlawan sejati, baik di medan pertempuran maupun dalam kehidupan rumah tangga. Bagaimanapun, sebagai laki-laki kemudian dia juga terpeleset.

Saat terjadi kekacauan di tempat kerjanya, suatu hari, sekretaris barunya yang menawan membuatnya khilaf. Hary pun berselingkuh untuk pertama kali dalam hidupnya. Perselingkuhan singkat, tanpa tendensi apapun. Tapi sialnya, hal itu diketahui istrinya. Mulailah jalan hidupnya sebagai laki-laki diuji. Dia dipecat karena kekacauan show terakhir yang digawanginya, dan ditinggal pergi istrinya.

Gina membangun kembali karirnya yang hilang. Dia mengambil pekerjaan di Jepang yang dulu juga pernah ditawarkan padanya. Hary pun mulai belajar mengurus Pat sebagai orangtua tunggal. Memandikan, menemani bermain, mengantar sekolah, membuatkan sarapan dan makan malam, dan kerja paruh waktu agar dia dapat mengurus anaknya.

Masalah timbul ketika dia mulai menikmati kehidupan barunya, dan istrinya yang sudah menemukan pasangan baru itu mempertanyakan hak atas Pat. Jadilah tarik ulur siapa yang akan mengasuh Pat.

Banyak kilasan pertanyaan bermunculan. Misalnya, bagaimana Hary mulai bertanggung jawab atas anaknya? Bagaimana dia mulai belajar menjadi laki-laki dan membandingkan dengan apa yang telah dicapai oleh ayahnya? Bagaimana dia memilih pasangan baru yang sesuai, bukan hanya untuknya, tapi untuk anaknya? Bagaimana dia menyesuaikan diri dengan hal-hal yang telah melekat pada pasangan barunya?

Man and Boy (Lelaki Itu dan Putranya) merupakan novel pertama dari Tony Parsons, seorang wartawan musik yang biasa meliput perkembangan musik punk rock baru untuk NME (New Musical Express). Beberapa liputannya yang memenangkan penghargaan dimuat di majalah-majalah seperti GQ dan Elle. Akhir-akhir ini, dia bekerja sebagai kolumnis The Mirror dan secara teratur tampil dalam acara Late Review di BBC serta dalam film-film dokumenter yang diproduksinya.

Bagi yang ingin hanyut di antara pikiran rasional laki-laki dan sentimentalitasnya, novel ini menyajikannya dengan lugas.

0 comments :

Post a Comment

Butuh artikel-artikel semacam ini? Atau, punya ide membuat buku tetapi kurang bisa menulis? Tidak sempat? Kami bersedia membantu menuliskannya secara profesional. Kami juga menyediakan jasa editing tulisan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.