9 Kiat Belajar Desain secara Otodidak

Saturday, January 9, 2016

9 Kiat Belajar Desain secara Otodidak


9 Tips Belajar Desain Otodidak
- Oleh Arta Nusakristupa

Siapapun tahu, mendapatkan ilmu tidak harus melalui pendidikan formal. Bahkan, saya berani katakan, kita bisa menjadi profesional di bidang apapun tanpa sekolah atau kursus. Mungkin hanya profesi dokter pengecualiannya. Tapi kalau “sekadar” desainer, pasti kita bisa belajar sendiri alias otodidak. Bisa belajar dari buku, internet, atau sumber-sumber lainnya. Bagaimana caranya? Berikut ini tips-tipsnya....

1. Kenali dulu siapa Anda

Desainer berada di wilayah otak kanan. Pertanyaannya, apakah Anda benar-benar suka bekerja dengan otak kanan? Dalam keseharian, apakah Anda cenderung menggunakan otak kiri atau otak kanan? Berita baiknya, Anda selalu bisa melatih otak kanan Anda. Lalu, kenali juga pola belajar Anda. Apakah Anda suka belajar teori dulu lalu praktik, atau justru praktik dulu baru dievaluasi melalui penggalian teori-teori? Cari tahu semua itu.

2. Ketahui prinsip-prinsip desain

Tentu saja, Anda bisa fokus pada praktik, praktik, dan praktik. Toh banyak desainer yang tidak tahu konsep, tapi hasil desain mereka bagus. Bagaimanapun, dengan mengetahui prinsip desain terlebih dahulu akan membantu Anda menghasilkan desain yang tidak hanya menarik, melainkan juga berkarakter dan tepat sasaran. Contoh yang sederhana, desainer yang berwawasan takkan menggunakan warna hitam dominan untuk mendesain situs web majalah remaja cewek. Meskipun dia mampu mengolah warna hitam itu dengan begitu indah.

3. Tentukan bidang spesifik Anda

Lingkup desain sangatlah luas: desainer halaman koran, buku, sepatu, situs web, logo, baju, mobil, poster, ruang 3D, dsb. Mustahil Anda mempelajari semuanya dan mahir semuanya. Dengan menentukan bidang spesifik, Anda lebih berpeluang menguasainya secara lebih mendalam dan sukses di bidang itu.

4. Pelajari software desain

Tak perlu mempelajari semuanya. Cukup tekuni satu saja software yang Anda anggap paling nyaman. Tapi, software sendiri hanyalah senjata pelengkap. Senjata utamanya tetap adalah otak sang desainer dengan segala kreativitasnya. Ketika Anda sudah menentukan bahwa spesialisasi Anda adalah desainer logo, umpamanya, gunakan CorelDraw, jangan Photoshop. Karena Photoshop cocoknya untuk mengedit foto, bukan membuat logo. Jika Anda terkendala biaya untuk membeli software, saya sarankan mencari software gratis yang tak kalah canggih. Ingat, software gratis, bukan software bajakan!

5. Milikilah seorang mentor

Belajar secara otodidak atau tanpa guru membuat Anda tidak memiliki kesempatan untuk bertanya. Jadi, bergaullah. Dekatilah seorang ahli yang sesuai dengan bidang desain spesifik Anda. Kalau perlu, traktirlah dia makan siang untuk sekadar bertanya-tanya, baik hal-hal teknis maupun kiat-kiat bertahan di bisnis desain. Gunakan internet untuk menemukan orang-orang semacam ini. Mungkin sebagian akan menolak Anda. Tapi, pasti ada saja yang menerima Anda dengan tangan terbuka. Bagaimanapun, hindarilah menanyakan hal-hal yang bisa Anda temukan di Google.

6. Bergabunglah dengan komunitas

Lingkungan mempengaruhi pola pikir Anda. Bila Anda ingin cepat menjadi desainer, buatlah diri Anda berada di antara para desainer setiap hari. Bergabunglah dengan forum atau komunitas desain, baik online maupun offline. Selain mempengaruhi psikis Anda, ini juga berguna untuk mengetahui peluang kerjasama, kiat-kiat, atau informasi terbaru tentang desain. Komunitas yang baik biasanya aktif dan dinamis. Semakin aktif komunitas itu, semakin besar peluang mereka menjawab dan membimbing Anda. Tapi ingat, komunitas adalah wadah untuk perkembangan bersama, bukan untuk Anda seorang. Jadi, pahami etikanya dan selalu bersikaplah sopan.

7. Kurangilah distraksi

Apa saja faktor yang bisa mengganggu proses belajar Anda? Bisa jadi, itu adalah media sosial, email, aplikasi chat, televisi, radio, atau orang-orang di sekitar Anda. Bagaimana cara mengatasi gangguan-gangguan itu? Ada tips yang bagus di sini, silakan dibaca.

8. Mulai dengan yang general, lalu yang detail

Kalau di sekolah atau tempat kursus desain, Anda belajar dengan panduan kurikulum. Saat belajar otodidak, Anda mengatur sendiri kurikulumnya. Sebaiknya, mulailah dengan mempelajari dasar-dasar desain sebelum maju ke topik-topik yang lebih spesifik. Misalnya, pertama tentang filosofi warna, berlanjut ke gambar dua dimensi, mengedit foto agar terlihat lebih dramatis, dan seterusnya. Belajarlah secara bertahap. Jangan terburu-buru. Apa jadinya kalau orang ingin membangun rumah tapi mulai dari atapnya? Pasti langsung ambruk!

9. Pastikan tujuan Anda

Misalnya, “Saya mau jadi desainer automobilier!” “Saya mau jadi desainer web!” dan seterusnya. Ini penting. Seorang desainer tanpa tujuan akan mudah goyah, dan proses belajarnya tidak fokus. Dengan menentukan jenis pekerjaan, bayaran yang ingin Anda capai, ingin seperti desainer siapa dalam lima tahun ke depan, hidup Anda dalam dunia desain akan lebih terarah dan tidak buang-buang waktu.

Setelah semua itu, ingatlah bahwa tidak mudah untuk menjadi desainer profesional. Anda akan memerlukan proses. Waktu yang akan menunjukkan Anda adalah desainer atau bukan sama sekali, dan Anda adalah desainer yang bagus atau bukan sama sekali. Siapkah Anda?

0 comments :

Post a Comment

Butuh artikel-artikel semacam ini? Atau, punya ide membuat buku tetapi kurang bisa menulis? Tidak sempat? Kami bersedia membantu menuliskannya secara profesional. Kami juga menyediakan jasa editing tulisan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.