[Humor] Kentang Terpaksa Infak

Saturday, April 30, 2016

[Humor] Kentang Terpaksa Infak


Kehidupan di Desa Wufi

Hari itu Jumat. Sebagaimana biasa, para muslim mengikuti ibadah Jumatan di masjid-masjid di Desa Wufi. Termasuk Kentang Ketintang. Pemuda itu tampak tenang menyimak khutbah sambil duduk bersila. Sebuah kotak amal lalu bergeser ke arahnya. Kentang membuka dompetnya dan memilih-milih uang untuk diinfakkan.

Lama, dia berpikir. Ternyata, dia cuma memasukkan selembar 1.000-an. Ingin sekali dia menyumbang 20.000 atau 50.000 seperti bapak di sebelahnya. Tapi, apa daya, uang di dompetnya hanya sisa tujuh lembar gambar Pattimura. “Belanja apa aja sih aku, kok isi dompet tinggal segini?” batinnya.

Sebelum Kentang menggeser kotak itu ke sebelahnya, pundaknya ditepuk oleh seorang dari belakang. Kentang menoleh. Ternyata, itu Ireng Klentheng. Tanpa bicara, bocah berumur 9 tahun itu menaruh begitu saja selembar uang 100.000 ke pangkuan Kentang.

Kentang ingin sekali menghardik bocah badung itu. “Gaya banget, sih! Infak 100 ribu aja nggak mau masukin sendiri, malah dititipin orang lain. Biar orang lain pada tahu, gitu? Kecil-kecil udah pinter pamer!”

Tapi Kentang ingat, dalam Jumatan, jamaah tidak boleh berbicara. Maka, dia diam saja meskipun geregetan setengah mampus. Sambil menahan dongkol, Kentang melipat-lipat uang pemberian Ireng sampai kecil. Lalu dia memasukkan selembar 100.000 tersebut ke lubang kotak amal.

Setelah Salat Jumat selesai, baru Kentang menghampiri Ireng yang sedang membuka kunci sepedanya di pelataran parkir masjid. “Hei, Reng! Gaya banget kamu hari ini, ya! Lagi banyak duit?”

“Banyak duit gimana, Bang?” Ireng terlihat tidak paham.

“Lah, tadi. Tumben-tumbennya kamu infak sampai seratus ribu di masjid. Biasanya, mau beli pentol aja utang aku dulu. Kalau lagi punya duit, sini, utang-utangmu lunasi dulu!”

Ireng mengerutkan dahi. “Lho, itu bukan duitku, Bang….”

“Hah?”

“Seratus ribu tadi, kan? Bukan punyaku!”

“Terus, kenapa kamu sembarangan kasih ke aku tadi? Waaah, ya bukan salahku kalau kucemplungin kotak amal.”

Ireng tertawa nyengir. “Baguslah kalau dimasukin kotak amal. Hahahaha….”

Perasaan Kentang mulai tak enak. “Emang, itu duit siapa, Reng?”

“Duit Abang! Tadi pas Abang ngambil dompet, jatuh tuh duit. Kuambil. Terus kubalikin! Gitu.”

“Lah, geblek!” Kentang mendelik penuh penyesalan. Dia menggaruk-garuk rambutnya dengan kasar. “Kenapa tadi nggak ngomong, siiiih?”

“Kan kalau khatib sedang khutbah, kita emang nggak boleh ngobrol, Bang. Kata Ustadz Razad kan emang gitu….”

Kentang segera memungut sandalnya. Melihat gelagat buruk, Ireng buru-buru menggowes sepedanya menjauh dari halaman masjid.

0 comments :

Post a Comment

Butuh artikel-artikel semacam ini? Atau, punya ide membuat buku tetapi kurang bisa menulis? Tidak sempat? Kami bersedia membantu menuliskannya secara profesional. Kami juga menyediakan jasa editing tulisan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.