[Humor] Lagu Pelipur Lara buat Benhur Deniro

Monday, May 23, 2016

[Humor] Lagu Pelipur Lara buat Benhur Deniro


Lagu Pelipur Lara buat Benhur Deniro
Malam ini, kawasan Desa Wufi bagian pusat mengalami pemadaman listrik dari PLN. Sudah terlalu larut untuk nongkrong bersama teman-teman, tapi rasa kantuk yang ditunggu tak kunjung datang. Benhur Deniro pun menyalakan radio resistornya yang kuno. Radio itu memakai baterai AAA yang daya tahannya lama. Jadi, dia tak perlu harus men-charge-nya saat mati lampu begini.

Setelah memutar-mutar gelombangnya, Kakek Benhur menemukan salah satu stasiun radio. Lagu-lagu yang diputar di sana dari tahun '70-an, sesuai dengan harapan Benhur untuk bernostalgia ke masa dia masih menguber-uber cinta Nenek Eling Sulwaesi.

Lagu pun berhenti. Penyiarnya mengatakan bahwa pendengar bisa rekues lagu 1970-1980-an di sesi ini. Telepon di studio pun langsung berdering. Sang penyiar menyapa penelepon pertama itu.

“Ya, halo,” suara seorang perempuan terdengar. “Selamat malam. Ini Mahmud FM?”

“Betul, password-nya?” sambut penyiar.

Dengkule amoh!” jawab perempuan itu.

Benhur spontan ngakak mendengarnya. “Hahaha, radio apa ini!?”

“Sedaaap,” si penyiar membenarkan password itu. “Dari siapa? Di mana?”

“Saya Endel Sakseswati. Lagi di Kecamatan Kopi.”

“Baik. Mbak Endel, mau rekues lagu atau kirim-kirim salam, nih?”

Suasana di rumah masih gelap. Benhur pun berbaring di dipannya. Berharap bisa mengantuk sambil mendengarkan siaran radio ini.

“Dua-duanya!” jawab Endel. “Begini, Mas. Magrib tadi, di Toko Pakan Burung Cuatcuit, saya menemukan dompet. Isinya uang hampir satu juta rupiah, ATM BRI, koyo, KTP dan SIM atas nama... Bapak Benhur Deniro.”

Benhur yang sudah merem-melek hendak tertidur langsung melek 100 persen! Dia bangkit dari baringnya. Berdiri, meraba-raba celana yang digantungkannya di balik pintu. Kempes. Kosong! “Waduh, dompetku nggak ada! Itu beneran dompetku!” Benhur pun buru-buru mengeraskan volume radionya.

“Saya cuma memberi informasi,” kata Endel, si penelepon.

“Ya, ya... Mulia sekali Mbak ini,” sambut sang penyiar. “Zaman serbasusah gini, ternyata masih ada orang jujur seperti Mbak Endel. Oke, kalau kebetulan orang yang kehilangan dompet itu mendengarkan radio Mahmud FM ini, gimana nih cara menghubungi Mbak Endel?”

Benhur mengeraskan radionya lagi. Bahkan sampai mentok, kali ini. Wajahnya tegang menyimak.

“Oh, nggak, Mas,” jawab Endel terdengar ragu. “Saya cuma mau titip salam ke orang itu, kok. Juga rekues lagu. Bisa, kan? Anu, itu lho, lagu yang judulnya Relakanlah, Tak Perlu Kau Tangisi. Lagu ini spesial buat Pak Benhur.”

Benhur pingsan seketika.

0 comments :

Post a Comment

Butuh artikel-artikel semacam ini? Atau, punya ide membuat buku tetapi kurang bisa menulis? Tidak sempat? Kami bersedia membantu menuliskannya secara profesional. Kami juga menyediakan jasa editing tulisan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.