Full Day School dan Potensi Hilangnya Institusi Lokal

Tuesday, August 9, 2016

Full Day School dan Potensi Hilangnya Institusi Lokal


Muhadjir Effendy, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
- Oleh Ihsan Maulana

Saya tergelitik dengan wacana Mendikbud yang baru, Muhadjir Effendy, tentang konsep Full Day School (FDS). Saya cerita diri saya sendiri saja dulu. Saya pernah mengajar di sebuah sekolah berkonsep Full Day School. Mulai 2010 hingga 2014, mulai dari sekolah di Surabaya sampai Sidoarjo, mulai sekolah milik orang Muhammadiyah sampai milik orang NU.

Kesimpulan saya, sekolah model begini hanya cocok untuk tiga golongan. Pertama, orangtua yang dua-duanya supersibuk. Kedua, orangtua yang bekerja dalam office hours dan mereka yang tidak bisa/telaten mengurus anak. Ketiga, mereka yang punya uang.

Saya sendiri adalah didikan sekolah normal. Masuk mulai jam 7 dan pulang jam 12. Pulang sekolah biasanya saya makan dulu, lalu main layangan, patel lele, gobak sodor, beteng-betengan, atau lainnya bersama teman-teman sekampung. Sore selepas magrib, saya mengaji di Madrasah Diniyah.

Oh ya, cerita yang lain sebentar, mumpung ingat. Suatu ketika, saya pernah mengunjungi Madrasah Diniyah saya dulu di Surabaya. Madrasah tersebut sudah mati. Berganti menjadi Taman Pendidikan Alquran (TPQ). Saya tanya ke pemiliknya, bagaimana bisa jadi TPQ?

Ustaznya menjawab, "Sekarang anak-anak yang sudah masuk SMP, apalagi SMA, enggan untuk mengaji."

"Kok begitu, Ustaz?"

"Iya. Sekarang, SMP saja pulangnya sudah sampai jam 2, bahkan jam 3. Padahal, Madrasah Diniyah dimulai pukul 3. Sudah pada capek. Apalagi yang sudah SMA. Tugas-tugasnya lebih banyak. Tak jarang menjelang magrib mereka baru pulang. Akhirnya, hanya anak-anak SD yang masih mau mengaji. Ya sudah, jadilah sekarang TPQ."

Saya langsung berpikir, apa jadinya kalau semua SD-SMP menerapkan Full Day School? Bisa-bisa akan makin banyak TPQ yang hilang dari peredaran. Masjid-masjid kampung juga akan sepi dari suara anak-anak, karena mereka sudah letih sepulang sekolah.

Padahal dulu, semua terasa begitu indah. Pulang mengaji, saya masih sempat bermain-main di depan rumah sampai tibalah waktu tidur malam.

Bukan atas nama nostalgia kalau saya beranggapan bahwa masa kecil saya jauh lebih bahagia dibanding anak-anak sekarang. Kami jarang memikirkan PR, karena guru kami juga jarang sekali memberi tugas. Di rumah saya, ibu siap menemani 24 jam penuh. Bisa kumpul bersama keluarga, percayalah, itu nikmat sekali!

Kalau Full Day School jadi diwajibkan, siap-siap saja semua itu menjadi kisah anak-anak Indonesia yang hanya bisa dikenang.

Sementara, hidup itu harus seimbang. Belajar oke, bermain juga oke. Sekolah oke, kumpul keluarga juga oke. Tapi, itu saya, lho. Saya bukan menteri, sayangnya. Saya hanya orang biasa yang cuma bisa menulis artikel seperti ini.

0 comments :

Post a Comment

Butuh artikel-artikel semacam ini? Atau, punya ide membuat buku tetapi kurang bisa menulis? Tidak sempat? Kami bersedia membantu menuliskannya secara profesional. Kami juga menyediakan jasa editing tulisan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.