[Humor] Beli Rumah dengan DP Nol

Saturday, April 22, 2017

[Humor] Beli Rumah dengan DP Nol


Beli Rumah dengan DP Nol
Ibu Kota barusan selesai punya gawe. Begitu KPU mengumumkan pasangan calon Anies-Sandi di Pilkada DKI menang dengan perolehan 57,95% suara atas Ahok-Djarot, Benhur Deniro langsung ingin jadi penduduk Jakarta. Maklum, salah satu program pasangan nomor 3 itu adalah rumah dengan DP 0%.

Lumayan, kan, kalau punya rumah di Jakarta. Bisa dibisniskan, pikir Benhur.

Kabar soal teknis Rumah DP 0% sebenarnya masih simpang siur. Apalagi Anies-Sandi belum menjabat sebagai Gubernur DKI. Jadi biar tidak lama-lama bingungnya, Benhur berinisiatif untuk langsung menelepon interlokal cagub Anies. Kebetulan, dia punya nomornya. Jelek-jelek begitu, Benhur itu mantan wartawan, meski cuma media lokal di Desa Wufi.

Tulilut…. Tuliluuut…. suara nada sambung ponselnya.

Begitu telepon diangkat, Benhur gembira karena itu memang itu suara Anies Baswedan. Setelah berbasa-basi sejenak, pakai mengucapkan selamat segala seolah-olah orang penting, kakek itu langsung menanyakan inti persoalan.

“Tunggu dulu, Pak,” kata Anies di telepon. “Itu program dengan S&K berlaku, lho. Intinya, ada empat syarat. Satu saja tidak dipenuhi, maaf-maaf saja. Terpaksa tidak kami layani. Gugur!”

“Oh...”

“Ingat, ya, satu saja tidak terpenuhi, gugur! Masih banyak orang yang antre, nih, jadi gugur beberapa, tidak masalah bagi kami.”

“Oke, oce, apa saja S&K-nya?” sahut Benhur penasaran.

“Pertama, apa KTP Bapak Jakarta sebelum Pilkada DKI 2017? Jangan jadi penumpang gelap, ya!”

“Kedua, apa penghasilan Bapak di bawah 7 juta? Kalau sudah 7 juta, mbok ya jangan serakah.”

“Ketiga, apa ini rumah pertama Bapak dan benar-benar akan Bapak tinggali, bukan disewakan atau dijual lagi?”

Benhur sudah mulai menggeleng-gelengkan kepalanya pesimistis. Namun, dia tetap menanyakan, “Terus, yang keempat, Mas?”

“Dan yang keempat, yang tak kalah penting,” sahut Anies, “apa Anda mencoblos nomor 3 kemarin? Kalau sejak awal tidak percaya kami, termasuk Program DP 0% kami, kenapa sekarang menyerobot antrean? Kenapa sekarang maju paling depan minta realisasi dari program yang sebenarnya tidak diyakininya? Kan lucu.”

Benhur menahan napas. Sekaligus menahan geram.

Dengan wajah terkekuk-tekuk, dia langsung mengucapkan terima kasih dan menyudahi sambungan telepon itu. Bagaimana tidak, dari empat syarat yang diajukan, hanya syarat kedua yang bisa dipenuhinya.

Oalah, Mbah, Mbah…. Makanya, yang legowo jadi orang.

0 comments :

Post a Comment

Butuh artikel-artikel semacam ini? Atau, punya ide membuat buku tetapi kurang bisa menulis? Tidak sempat? Kami bersedia membantu menuliskannya secara profesional. Kami juga menyediakan jasa editing tulisan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.