Lupakan Valentine, Lanjutkan Passion

Lupakan Valentine, Lanjutkan Passion

Sebentar lagi, sebagian anak muda di seluruh dunia merayakan Valentine Day. Tanggal 14 Februari adalah hari kasih sayang. Segenap rencana dan skenario dipersiapkan jauh-jauh hari demi obsesi romantis itu. Mulai dari “menembak” calon kekasih, melamar calon istri, hingga sekadar bukti cinta yang sembrono seperti seks sebelum nikah.

Budaya Valentine diusung dari Eropa. Terlepas dari pro-kontranya dari sisi agama dan moral, tradisi tahunan ini jelas tidak produktif bagi pemuda. Terutama bila kita memandangnya dari sisi efisiensi.

Pernahkah Anda bertanya, seperti apa kondisi pemuda di Indonesia saat ini? Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, jumlah pemuda yang kita miliki sekitar 62.345.000 orang, atau sekitar 37% dari seluruh total penduduk Indonesia. Dari jumlah itu, sebanyak 1,2 juta di antaranya tidak atau belum pernah mengecap pendidikan formal. Laki-laki yang kurang beruntung itu jumlahnya sebesar 569,8 ribu orang, dan perempuannya sebesar 626,4 ribu orang.

Selain pemerataan pendidikan yang memang bermasalah, problem lain adalah pengaruh budaya asing yang kontraproduktif. Ya, seperti Valentine. Tentu, Anda sudah sering mendengar atau membaca berita media cetak tentang sejumlah pemuda yang tertangkap basah berpesta minuman keras, narkoba, dan seks bebas pada hari itu.

Sebetulnya menyerap budaya asing tak selalu membawa dampak yang buruk, tergantung bagian mana dari budaya tersebut yang kita serap. Sebagai contoh, pernahkah Anda mendengar Digital India?

Perdana Menteri India, Narendra Modi, memimpin kampanye untuk menghubungkan desa-desa tertinggal di India dengan layanan internet. Ini memberikan kemudahan bagi masyarakat pelosok India untuk mendapatkan berbagai informasi melalui dunia maya.

Perdana Menteri sebelumnya, Manmohan Singh, menyekolahkan beberapa pemuda India ke luar negeri. Mereka diminta untuk menimba segala jenis ilmu yang bermanfaat untuk membangun India. Strateginya sukses. Para pemuda yang kembali menggunakan ilmu yang sudah dipelajarinya untuk mengubah wajah Bangalore dan Hyderabad menjadi kota yang melek teknologi.

Para pemuda ini mampu menyerap bagian-bagian terbaik dari budaya asing. Kini, dunia mulai mengenal India lantaran kemampuan sumber daya manusianya dalam bidang teknologi.

Salah satunya Satya Nadella, pria asli Hyderabad yang kini menjabat sebagai CEO Microsoft, perusahaan perangkat lunak raksasa dunia. Ada pula Sundar Pichai yang kini menjabat sebagai Chief Executive Officer (COO) di Google Inc.

Strategi serupa Digital India dijalankan pula oleh China. Pemimpin revolusinya, Den Xiaoping, pada 1980-an rajin mengirimkan pemuda-pemuda China untuk belajar ke beberapa negara barat. Mereka kemudian mengambil beberapa bagian yang sekiranya sesuai untuk diterapkan di China.

Hasilnya bisa kita lihat sekarang. China menjelma menjadi negara raksasa kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Barang-barang produksi China menguasai hampir seluruh negara di planet ini. Bahkan bila Anda mendapat oleh-oleh dari keluarga yang umrah, coba intip, jangan-jangan ada label made in china di barang tersebut.

Di bidang teknologi gawai, China juga menggila. Telepon selulernya yang bermerek Xiaomi mulai menjadi ancaman bagi Apple dan Samsung. Produk-produk dengan kualitas mumpuni itu dijual dengan harga murah. Selain karena bahannya dipilihkan yang murah, juga Xiaomi tidak pernah beriklan. Penghematan ini berdampak pada murahnya harga jual, hingga akhirnya menciptakan efek pemasaran word of mouth.

China belajar dan bergerak dengan cepat melalui pemudanya. Begitu pula pemuda India. Saatnya pemuda Indonesia, negara yang disebut-sebut sebagai The Invisible Giant, menunjukkan taringnya. Bukan cuma menunjukkan setangkai bunga mawar dan cokelat untuk pacarnya pada 14 Februari.

- Tulisan: Astrid A.S.