Hujan di Situs Warungboto


Hujan di Situs Warungboto

Inilah salah satu situs yang telah diakui sebagai bangunan cagar budaya Yogyakarta sejak 2010. Dari hotel kami di pusat kota, hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit berjalan kaki untuk menjangkau Situs Warungboto. Begitu menemukan Jalan Veteran, langsung tanya saja dengan orang setempat. Karena lokasinya agak ke dalam dan pintu masuknya sedikit membingungkan.

Kesan pertama saya terhadap, area situs ini seperti kawasan kumuh! Puing-puing dan sampah berserakan. Tetapi jangan khawatir, bangunan utamanya sendiri unik dan ruang-ruangnya nyaman dimasuki. Meskipun dinding-dinding cokelat muda itu terasa agak kusam dan menghitam. Mungkin karena berlumut.

Sesuai namanya, Warungboto terbangun dari batu bata. Kompleks ini dipagari mengelilingi kompleks peristirahatan, kolam, taman, segaran, dan kebun. Wisatawan dapat memasuki situs dari pintu sebelah timur.

Sejarah Situs Warungboto

Situs ini mulai dibangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I, kemudian dilanjutkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono II pada kisaran tahun 1785.

Sejak menjadi Putra Mahkota (1765-1792), Hamengku Buwono II sudah mulai membangun beberapa pesanggrahan (rumah peristirahan keluarga kerajaan), seperti Pesanggrahan Rejawinangun (nama lain Situs Warungboto), Purwareja, Pelem Sewu, dan Reja Kusuma.

Menurut Babad Momana dan Serat Rerenggan, Situs Warungboto mulai dibangun pada tahun 1711 saka (1785 M). Ini merupakan salah satu karya besar KGPAA Hamengkunegara (kelak pada 1792 naik takhta dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwana II).

Selama ribuan tahun, tempat ini sempat terbengkalai. Bahkan pernah rusak parah ketika Yogyakarta digoyang gempa tektonik pada 2006. Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Daerah Istimewa Yogyakarta lalu memugarnya pada 2016. Pemugaran tersebut berpatokan pada dokumen Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Yogyakarta tahun 1982 serta beberapa studi teknis.

Situs Warungboto mulai dibuka untuk wisatawan sejak 2017 lalu. Kendati demikian, proses pemugaran sebenarnya masih berjalan. Jadi, yang Anda lihat ini belum merupakan bentuk terbaik dari Situs Warungboto.


Ada Apa di dalam Situs Warungboto?

Situs Warungboto

Kalau Anda pernah mengunjungi Taman Sari Yogyakarta, kurang-lebih seperti itulah penampakannya. Dindingnya tebal, lorong-lorongnya eksotik, ada aksen lengkung di setiap bagian atas pintu dan jendela.

Di tengah-tengah situs, juga terdapat kolam. Tidak seluas kolam di Taman Sari, tetapi dua kolam ini memiliki keunikan tersendiri. Kolam di Situs Warungboto terbagi dua. Satu berbentuk lingkaran berdiameter 4,5 meter dengan sumber air di tengahnya, dan satu lagi berbentuk bujur sangkar berukuran 10 x 4 meter. Kedua kolam itu saling berhubungan.

Kata penduduk setempat, dulu, airnya bening. Mengalir langsung dari sumbernya di Sungai Gajahwong. Sekitar tahun 1990-an, Situs Warungboto lebih akrab disebut Tuk Umbul oleh penduduk setempat. Artinya, mata air yang menyembur ke atas. Banyak juga penduduk yang memanfaatkannya untuk mandi.

Namun sekarang, jangan coba-coba mandi di sini. Bisa gatal-gatal!

Sebagai pesanggrahan, lumrah bila ada kolam, taman, kebun, dan musala di sini. Meskipun dua fasilitas yang terakhir disebut itu tidak kami temukan ketika di sana. Pesanggrahan di sisi barat merupakan kompleks bangunan berkamar dengan halaman berteras dan kolam pemandian.

Ada banyak tangga, mengesankan saya sedang berada di sebuah labirin yang naik-turun artistik. Anak-anak tangga di pintu-pintu samping kolam mengantar kita ke bagian atas bangunan. Di sana, terdapat sepetak ruang tanpa atap dengan sekat setinggi pinggang.

Dari rooftop ini, tampak lanskap Kota Yogya. Indah? Yang terlihat adalah genting-genting rumah warga yang berlumut, lalu lalang kendaraan di jalanan, juga… astaga, bahkan kuburan!

Namun, ya, tetaplah indah. Karena kami berdiri di atas ketinggian, dan di puncak sebuah bangunan bersejarah. Bayangkan, Anda seorang sultan pada masa itu, masa ketika belum banyak gedung bertingkat seperti ini. Memandang sekeliling daerah yang Anda kuasai dari ketinggian. Oh, pastilah sensasinya menyenangkan.

Mungkin akan lebih indah lagi seandainya kami sedikit bersabar untuk menyaksikan tenggelamnya matahari magrib nanti. Atau menikmati bintang-bintang dari sini sambil rebahan di lantainya?

Mungkin. Tetapi, faktanya, kami datang ke Situs Warungboto saat hujan mengguyur. Ah!

Tip Mengunjungi Situs Warungboto

  1. Kalau musim hujan, bawalah payung atau jas hujan. Kami gagal mengantisipasi ini, sehingga terpaksa mempersingkat waktu berkunjung.
  2. Sebaiknya datang pagi atau sore, supaya tidak panas. Namun sisi minusnya, akan banyak orang pada jam kunjung ideal itu.
  3. Datang siang juga ada keuntungannya, karena Situs Warungboto akan sepi dan leluasa dipakai berfoto-foto. Untuk menangkal terik matahari, siapkan topi lebar dan oleskan tabir surya di kulit.
  4. Sebaiknya kemari menggunakan transportasi umum, motor, atau jalan kaki (seperti kami). Kalau naik mobil pribadi, dikhawatirkan susah masuk dan parkir. Ingat, Situs Warungboto terletak di tengah-tengah perkampungan.
  5. Jangan memanjat dinding, menyampah, atau mencoret-coret dinding di dalam. Mari menjadi wisatawan yang cerdas dan peduli.

Situs Warungboto

  • Alamat: Jalan Veteran 77, Warungboto, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 55164 (di sisi barat Sungai Gajahwong)
  • HTM (2018): Gratis
  • Jam Buka: Setiap hari pukul 08.00-17.00 WIB

- Tulisan: Rie Yanti