Kopi, Si Pahit yang Digemari

Kopi, Si Pahit yang Digemari

Siapa yang tidak kenal minuman berkafeina ini. Sejak 3.000 tahun yang lalu, Bangsa Etiopia telah menemukan fakta empiris bahwa kopi dapat memberi energi tambahan bagi otak, supaya peminumnya mampu bekerja lebih optimal. Semakin maju peradaban, para ilmuwan juga menemukan manfaat-manfaat lain dari seduhan biji kopi yang sudah disangrai dan dihaluskan menjadi bubuk ini.

Mungkin karena itulah, minuman kopi menjadi sangat terkenal di seluruh dunia. Popularitasnya hanya mampu ditandingi oleh air minum dan teh.

Padahal, Anda tahu sendiri bagaimana rasa kopi. Ya, pahit! Kenapa malah banyak yang menggemarinya? Bahkan kecanduan? Para peneliti di Northwestern Medicine and QIMR Berghofer Medical Research Institute Australia mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.

Kopi dan Sensitivitas terhadap Rasa Pahit

Penelitian ini bertujuan untuk melihat korelasi antara rasa pahit dan minuman yang dikonsumsi. Menggunakan metode random Mendelian, dengan jumlah sampel sekitar 400.000 pria dan perempuan.

Umumnya, kita menduga orang yang tidak suka rasa pahit akan meminum kopi dalam jumlah yang sedikit. Ternyata, tidak, menurut penelitian itu.

“Ketika orang terbiasa merasakan rasa pahit yang ditimbulkan oleh kafeina, maka orang itu justru cenderung kecanduan dan mendapat stimulasi secara positif,” terang Marilyn Cornelis, asisten profesor di Northwestern University Feinberg School of Medicine, sebagaimana dikutip dalam jurnal Scientific Reports, 15 November lalu. Artinya, orang justru akan menikmati rasa pahit tersebut.

Penelitian tersebut juga mengungkapkan bahwa orang yang peka terhadap kafeina akan mengonsumsi teh dalam jumlah yang lebih sedikit. Diduga, mereka lebih menikmati pahitnya kopi daripada sepatnya teh.

Di lain sisi, orang yang tidak menyukai rasa pahit kina (obat malaria), tanaman-tanaman seperti cruciferous, seperti lobak, kembang kol, pare, kubis, selada air, atau brokoli akan menghindari ngopi.

Cornelis mengatakan, persepsi orang terhadap rasa pahit dipengaruhi oleh varian genetik dan berpengaruh dalam menentukan pilihan minuman, apakah itu kopi, teh, atau alkohol.

Efek Setiap Seruputan Kopi

Kandungan kafeina (C8H10N4O2) dalam kopi memiliki dampak yang beragam, tergantung sifat genetika masing-masing penyeruput kopi, terkait dengan kemampuan metabolisme tubuh dalam mencerna kafeina. Pengolahan kafeina dalam tubuh terjadi dengan bantuan enzim sitokrom P450 1A2 (CYP1A2), yang terdiri dari dua tipe: CYP1A2-1 dan CYP1A2-2.

Tubuh orang yang memiliki enzim CYP1A2-1 mampu memproses kafeina secara cepat dan efisien, sehingga dampaknya bisa dirasakan nyata. Sementara, tipe orang yang berenzim CYP1A2-2 memiliki laju metabolisme kafeina yang lambat, sehingga tidak merasakan efek positif dari kafeina, bahkan cenderung menimbulkan efek yang negatif.

Ya, selain khasiat, tentu saja ada efek samping dari meminum kopi. Contohnya, diabetes melitus (terutama kalau kopi dicampur pemanis atau krimer), insomnia, hipertensi (darah tinggi), tidak baik bagi penderita asam lambung, stroke, jantung, dan sebagainya.

Namun untuk sementara ini, penelitian-penelitian lebih berpihak kepada peminum kopi. Banyak manfaat kopi disebutkan oleh penelitian-penelitian terbaru, antara lain kafeina mampu menekan pertumbuhan sel kanker secara bertahap (karena senyawa antioksidannya), menurunkan risiko terkena diabetes melitus tipe 2 (dengan cara menjaga sensitivitas tubuh terhadap insulin), batu empedu, mencegah serangan jantung, meningkatkan metabolisme energi dengan memecahkan glikogen (cadangan gula), dan sebagainya.

Itu rupanya rahasia kopi menjadi minuman yang paling banyak diolah dan diminum di seluruh dunia. Kendati demikian, untuk amannya, sebaiknya jangan mengonsumsi kopi lebih dari tiga gelas setiap harinya. Dan dalam menyeruput kafeina, tidak perlulah ditemani dengan asap nikotin (rokok).

- Tulisan: Arta Nusakristupa