Jangan Abaikan Kepemilikan Aset Pasif dalam Praktik Berbisnis

Jangan Abaikan Kepemilikan Aset Pasif dalam Praktik Berbisnis

Sebagai pemilik bisnis, kita perlu fokus. Mencurahkan segenap sumber daya, termasuk modal, untuk produk dan pemasarannya. Namun, modal tidak harus jor-joran dihabiskan untuk kedua hal tersebut. Kita juga perlu membaginya menjadi aset produktif yang dapat memberi pemasukan pasif, supaya keuangan tetap stabil.

Apa saja contoh-contoh aset semacam itu? Banyak. Misalnya, reksadana, emas, tanah, dan sebagainya.

Bedakan ini dengan aset-aset berharga yang nilainya justru semakin menyusut setiap tahun, seperti gedung, mobil, AC, ponsel, atau lainnya. Mobil mungkin merupakan aset yang berguna bagi operasional bisnis kita. Tetapi, mobil butuh diberi bensin, oli, servis, dan sebagainya. Bahkan secara berkala, kita harus mengganti kampasnya, bannya, atau onderdil-onderdil lainnya. Sudah dirawat baik-baik, harga jual kembalinya pun jauh merosot.

Sedangkan emas, kita tidak perlu repot-repot mengurusnya. Namun setiap tahun, nilai jual kembalinya semakin tinggi. Aset-aset seperti inilah yang perlu kita miliki, apapun jenis bisnis kita dan seberapapun besar atau kecilnya bisnis kita.

Aset-aset semacam ini sepintas tidak ada hubungannya dengan kemajuan bisnis kita. Namun jelas, mereka bisa membuat kekayaan kita bertambah dari tahun ke tahun, tanpa perlu bersusah payah.

Kalau Anda membeli reksadana, umpamanya, Anda tidak perlu melakukan apa-apa, kecuali menyuntiknya setiap bulan agar tambah berkembang. Selebihnya, serahkan semuanya ke manager investasi. Biarkan aset Anda bertambah setiap bulan, senyampang Anda fokus ke bisnis. Mungkin hasilnya kecil, tetapi lumayan untuk membuat modal usaha bertambah gemuk.

Emas malah lebih “enak”. Setelah membelinya, Anda tidak perlu melakukan apa-apa lagi. Sebab, seperti yang sudah disebutkan tadi, setiap tahun nilai emas cenderung bertambah mahal. Meskipun, tidak terlalu pesat nilai pertambahannya, mungkin di kisaran 10-20 persen.

Dengan begitu, emas memang tidak akan membuat kita bertambah kaya, tetapi setidaknya bisa membuat kita tetap kaya. Sebab, nilainya stabil, tidak terpengaruh inflasi.

Keuntungan emas, sifatnya sangat likuid, alias mudah dijual kembali. Suatu saat bisnis Anda butuh dana segar, emas itu bisa langsung dijual sebagai cadangan dana.

Bagaimana dengan tanah? Pertambahan nilainya setiap tahun jauh lebih bagus dari emas. Tetapi perawatannya sedikit merepotkan. Tanah yang dibiarkan akan menjadi padang ilalang, lalu tempat bersarang hewan-hewan liar. Yang biasanya dikeluhkan warga sekitar lokasi adalah ular dari tanah kita.

Di samping itu, namanya orang Indonesia, melihat tanah kosong seperti tanah tidak bertuan. Tidak perlu waktu lama, tanah Anda barangkali akan difungsikan sebagai tempat sampah oleh penduduk sekitar. Atau minimal tempat parkir dan lahan jemuran.

Kelemahan lainnya, menjual tanah jauh lebih butuh waktu ketimbang menjual emas. Bisa berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Sedangkan menjual emas hanya perlu beberapa jam, bahkan menit.

Ada adagium dalam investasi, “High risk, high return.” Semakin tinggi risiko, semakin banyak hasilnya.

Kalau tujuannya untuk aset pendukung bisnis, sebaiknya jangan gegabah. Pilih aset yang aman-aman saja. Hasilnya sedikit tidak apa-apa, yang penting Anda tidak sport jantung. Karena tujuan dari semua ini adalah mengembangkan aset dan memperkokoh cadangan modal. Jadi, jangan sampai tergerus atau malah menjadi sumber kebangkrutan.

- Tulisan: Arta Nusakristupa