CariCinta, Saat Peluang Berpasangan bisa Dilihat dari Aplikasi

CariCinta, Saat Peluang Berpasangan bisa Dilihat dari Aplikasi
  • Judul: Cari Cinta
  • Genre: Novel komedi romantis
  • Pengarang: Marthino Andries
  • Penerbit: Bhuana Ilmu Populer (Bhuana Sastra)
  • Terbit: Desember 2018
  • Tebal: 188 halaman
  • ISBN: 9786024832926
Dinda adalah seorang siswi SMA yang tomboi. Bersama kedua sahabatnya, Bimbim dan Sandro, dia mengisi hari-harinya dengan ceria dan tanpa beban, meskipun tanpa kekasih dalam kehidupannya. Pada awalnya, status jomlo ini bukan masalah. Namun lama-lama, ketiga remaja itu jengah juga.

Mereka pun mulai mencanangkan target. Dinda mengincar keponakan pemilik warung langganannya. Sementara itu, Sandro ingin kembali menjalin hubungan dengan mantan pacarnya. Bimbim juga kemudian ikut ingin punya gebetan.

Suatu hari, Dinda yang cerdas dan memiliki kemampuan IT terpikir untuk menciptakan CariCinta. Aplikasi ini dipersembahkan untuk kaum jomlo yang ingin mendapatkan pasangan idamannya. Cara kerjanya sederhana, pengguna tinggal memasukkan data tertentu. Lalu secara otomatis, akan muncul persentase kemungkinan sukses jadian atau tidak dari pasangan tersebut. Nantinya pun aplikasi akan memberi rekomendasi supaya keinginan pengguna untuk memiliki pasangan idamannya terwujud.

Hm, ide yang menarik. Namun, ternyata banyak yang meremehkan aplikasi ini. Bagaimana mungkin kadar cinta bisa diukur dengan sebuah algoritma pemrograman?

Toh faktanya, aplikasi tersebut menuai sukses. Selain Bimbim dan Sandro, ada beberapa orang lagi yang berhasil mendapatkan kekasih berkat CariCinta. Contohnya, penjaga kantin sekolah dengan seorang guru agama.

Dinda pun girang bukan kepalang. Dia berhasil membantu banyak orang yang senasib dengannya.

Namun tragisnya, gadis itu justru tak kunjung berhasil meraih hati incarannya. Malah menurut aplikasi yang diciptakannya sendiri, probabilitas untuk jadian dengan laki-laki idamannya itu sangat minim.

Dinda kecewa, sehingga dia bertekad melupakan laki-laki tersebut. Dia mencoba melanjutkan hidupnya. Setidaknya, aplikasinya terbukti laris manis. Itu sudah hiburan tersendiri baginya. Apalagi berkat CariCinta, Dinda bisa membantu orang tuanya menunda pembayaran ganti rugi sepeda motor dan menyelamatkan laptopnya yang rencananya akan dilego.

Membaca Cari Cinta seperti membaca cerita Lupus. Kehidupan remaja yang serbaceria, ditambah lelucon yang garing tetapi tetap bikin ketawa, cerita-cerita cinta yang ringan, dan selalu ada solusi untuk setiap masalah yang muncul.

Yang membedakan dengan Lupus, selain karena tokoh utamanya perempuan, teenlit setebal 188 halaman ini menyajikan masalah teknologi kekinian, yakni melalui aplikasi CariCinta tadi. Meski tidak dipaparkan secara mendetail, minimal pembaca bisa sedikit mengenal cara membuat sebuah aplikasi.

Gaya penuturan Cari Cinta pun terasa segar dan cukup menghibur.

Sayangnya, ada beberapa lelucon yang tidak perlu. Misalnya, ketika Sandro dan Bimbim ditegur petugas perpustakaan lantaran berisik, Amih (ibu Dinda) yang membelikan Dinda lip balm dan tidak disetujui Apih (ayahnya Dinda) karena mereka sedang bokek, bab tentang perdebatan Dinda dan Apih tentang gambar wallpaper di laptop Dinda, atau saat Sandro mengumpat di belakang Pak Satya dan ketahuan.

Selain itu, konflik dalam novelet ini kurang gereget. Hanya seputar taksir-taksiran, lalu jadian. Tidak ada cerita apa akibat buruk dari aplikasi ini, atau bagaimana konflik percintaan tokoh-tokohnya. Padahal, kalau mau dikembangkan lebih jauh, itu akan membuat Cari Cinta lebih menggigit dan emosional. Penulis, Marthino Andries, seharusnya tahu itu, karena dia bukan pemain baru dalam industri storytelling.

Namun, apa boleh buat, semua dibikin berjalan relatif mulus tanpa kerikil sandungan. Ini membuat karya Marthino kali ini terasa seperti harum manis. Ringan, lembut, dan--sesuai namanya--(serba) manis.

- Peresensi: Indrie

Comments