Era Pembangkitan Listrik Tenaga Sampah Dimulai

Era Pembangkitan Listrik Tenaga Sampah Dimulai

Sampah, dulu, adalah masalah. Namun sekarang, kita telah mampu mendaur ulangnya, seperti membuatnya menjadi ecobrick, aneka kerajinan tangan, dan sebagainya. Kita juga dapat mengubah sampah menjadi berkah, dengan menjadikannya sumber energi. Belakangan ini, pemerintah mulai getol menggalakkan pembangunan unit-unit Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).

Menurut perkiraan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sebanyak 12 PLTSa alias Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa Sampah akan beroperasi tahun ini, atau paling lambat pada 2022. Keseluruhan daya dari kedua belas PLTSa itu langsung ngebut: 234 Megawatt (MW)!

Hal ini dalam rangka mencari Energi Baru dan Terbarukan (EBT), selain tenaga surya, angin, atau air. Setidaknya, supaya penggunaan EBT bisa mencapai 23% (saat ini masih 12,4%) pada 2025. Mengingat energi fosil sudah kian menipis, Indonesia memang harus sigap memaksimalkan penciptaan EBT.

Memburu Sumber Energi Baru

Langkah percepatan riset dan pembangunan PLTSa ini payung hukumnya Peraturan Presiden (PP) Nomor 35 Tahun 2018. Beberapa pemerintah daerah pun diminta untuk bekerja sama dengan BUMN, BUMD, atau swasta untuk mewujudkan PLTSa.

PLTSa pertama berada di Surabaya dengan biaya investasi 49,86 juta dolar Amerika. Mungkin ini ada hubungannya juga dengan berjalannya bus sampah sejak awal 2018 silam.

Sedangkan PLTSa kedua berada di Bekasi, dengan nilai investasi 120 juta dolar. Menyusul, PLTSa di Solo, Denpasar, Palembang, DKI Jakarta, Bandung, Tangerang, Semarang, Makassar, Tangerang Selatan, dan Manado.

Jika sudah berjalan efektif, diperkirakan semua pembangkit listrik ini mampu mengolah sampah sebanyak 16 ribu ton setiap harinya. Listrik yang dihasilkan tersebut akan dibeli oleh PLN.

PLTSa Merangkul Banyak Pihak

Proyek PLTSa juga melibatkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Terpadu Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, Pemprov DKI Jakarta dan BPPT membangun PLTSa berteknologi termal sejak Maret 2018. Kapasitas sampah yang akan dapat diolah mencapai 100 ton per hari, dengan perkiraan hasil listrik 200 kilowatt (KW) per jam.

Pemprov DKI juga bekerja sama dengan perusahaan teknologi asal Finlandia untuk membangun PLTSa di Sunter, Jakarta Utara. Proyek bernama Intermediate Treatment Facility (ITF) ini diharapkan mampu mengolah 2.200 ton sampah per hari, dan menghasilkan 35 MW listrik per jam.

Ibarat peribahasa “sekali tepuk dua nyawa”, jika semua proyek PLTSa ini berjalan sesuai rencana, kita akan mampu mengatasi dua hal sekaligus. Pertama, kita memperoleh pasokan tenaga listrik dari sumber baru. Kedua, timbunan sampah akan lenyap menguap.

Bagaimana Cara Kerja PLTSa

PLTSa bekerja menggunakan sistem pembakaran. Sampah yang dibakar akan menghasilkan panas dan uap pada boiler steam supercritical. Uap berkompresi tinggi itu lalu menggerakkan turbin uap dan flywheel yang terhubung dengan generator dinamo dengan perantara gir transmisi. Dari sanalah, listrik diproduksi.

Daya yang dihasilkan oleh PLTSa bervariasi tiap unit, antara 500 KW hingga 10 MW. Bandingkan dengan PLTU berbahan bakar batubara yang produknya hanya 40-100 MW per unit, atau PLT nuklir yang berdaya 300-1.200 MW saja per unit.

Namun demikian, kita masih perlu menunggu beberapa tahun lagi untuk menikmati listrik dari kedua belas PLTSa secara efektif. Semoga setiap daerah di Indonesia akhirnya memiliki unit PLTSa, karena jelas, sampah bukan hanya ada di kota-kota tertentu.

- Tulisan: Karina

Comments