Mengenal Suku Donggo di NTB

Mengenal Suku Donggo di NTB

Tahukah Anda, di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terdapat suku yang unik. Namanya, Suku Donggo atau Dou Donggo. Kelompok etnik ini berdiam di sebagian wilayah Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima, tepatnya di Desa atau Kelurahan Mbawa, Mangge, Dori Dungga, Kala, Wadu Kopa, Kamunti, Padende, dan Palama.

Sebagaimana etnik-etnik lainnya di pulau itu, orang Donggo juga menggunakan bahasa Mbojo. Sebuah penelitian terhadap anggota masyarakat Bima menunjukkan kesamaan fisik orang-orang Donggo dengan anggota suku Bayan di Pulau Lombok. Kesamaan tersebut meliputi rambut yang bergelombang atau keriting dan warna kulit yang agak gelap.

Kehidupan Kekerabatan Suku Donggo

Tradisi yang berlaku di sana bersifat patrilineal. Seorang ayah (ama) atau suami (rahi) sangat dihormati dan mempunyai kekuasaan lebih besar. Jika terjadi perceraian, misalnya, anak-anak akan mengikuti ayahnya. Sementara sang ibu (ina) atau istrinya (wi) akan dipulangkan kepada keluarganya dan hanya menerima sedikit harta yang didapat sebelum bercerai.

Warga Dongggo umumnya hidup di rumah panggung yang terbuat dari kayu rimba. Bangunan ini merupakan tradisi leluhur mereka. Seiring kian majunya peradaban, bermunculan juga rumah batu permanen di sana, walau jumlahnya tidak banyak.

Satu keluarga dalam rumah suku Donggo beranggotakan keluarga inti (nucleus family) dan terkadang sebagian anggota keluarga besar (extended family) seperti kakek, bibi, atau keponakan. Sebuah keluarga juga dapat “kehilangan” anggota ketika anak perempuan mereka menikah dan mengikuti suaminya.

Seorang perempuan Donggo dinyatakan siap menikah setelah mengalami menstruasi dan sudah pandai membuat tenun. Asal tahu saja, tenun khas Donggo merupakan satu item yang menjadi buruan para kolektor lantaran keunikannya.

Suku Donggo tidak mengembangkan tradisi pacaran. Jadi bila seorang pria menyukai seorang perempuan, dia akan langsung menyatakannya kepada orang tuanya. Lalu, mereka akan meminang ke rumah orang tua perempuan incaran. Mas kawin yang disiapkan biasanya uang, rumah, atau kerbau.

Seandainya pinangan tersebut diterima, kedua insan itu bertunangan. Selama periode tunangan, si pria wajib mengabdi atau membantu calon mertuanya sampai tiba hari pernikahan.

Mata Pencaharian Masyarakat Donggo

Saat ini, penduduk Donggo juga menjalani bermacam profesi. Antara lain sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) atau Pegawai Negeri Sipil (PNS), guru, dosen, politikus, Tentara Nasional Indonesia (TNI), polisi, wartawan, ustaz, buruh, dan sebagainya.

Namun secara turun-temurun, orang Donggo lebih banyak bertani. Dulu, mereka menggunakan sistem tebas bakar (ngoho). Setelah pohon-pohon yang ditebang dibakar, mereka bersih-bersih sisa bakaran itu (boro). Lahan yang telah terbuka pun siap ditanami sambil menunggu hujan.

Selama masa bercocok tanam itu, terdapat serangkaian ritual yang harus dijalankan, seperti raju (upacara untuk menentukan hari tanam), kandaki (pengusiran hama menjelang panen), dan lain-lain.

Selain itu, suku Donggo juga terbiasa berburu hewan liar. Kegiatan ini biasanya dilakukan secara berkelompok. Waktunya fleksibel, menyesuaikan kebutuhan dan besarnya hajat. Bisa seminggu sekali, sebulan sekali, atau setahun sekali. Daging hasil buruan akan dibagikan ke partisipan perburuan, sesuai kontribusi masing-masing. Jika masih berlimpah, daging akan disedekahkan kepada penduduk kampung lainnya.

Sebagian masyarakat Donggo juga berprofesi sebagai peternak, untuk mengambil manfaat berupa daging, telur, dan susu. Kebanyakan, mereka beternak sapi, kuda, kambing, kerbau, ayam, dan babi (meskipun mayoritas adalah muslim).

Sistem Kepercayaan Suku Donggo

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk Kecamatan Donggo di Kabupaten Bima pada 2015 adalah 17.888 jiwa. Sebagian besar memeluk agama Islam (kurang-lebih 97 persen) dan sebagian kecil menganut agama Kristen (sekitar 3 persen).

Namun demikian, suku Donggo juga pernah menganut kepercayaan politeisme. Dewa Langit (Dewa Langi), Dewa Air (Dewa Oi), dan Dewa Angin (Dewa Wango).

- Tulisan: Arta Nusakristupa
- Foto dipinjam dari blog Remah Remah Gemala Putri

Comments