Di Balik Plasa Tunjungan Surabaya

Tuesday, April 8, 2014

Di Balik Plasa Tunjungan Surabaya


- Oleh Ihsan Maulana

Namanya Omar Ishananto, SH. Sebagian orang mengenalnya sebagai Direktur PT Pakuwon Jati. Lelaki yang pertama kali menginjakkan kaki di Surabaya pada 1947 ini adalah salah satu tokoh penting di balik Tunjungan Plasa, pusat perbelanjaan terbesar dan tertua di Surabaya.

Mal yang terletak di pusat kota pahlawan ini telah berdiri sejak 1986 lewat kerja keras Omar. Plasa Tunjungan waktu itu menjadi mal yang penuh kontroversi. Bukan saja tahap pembangunannya, ketika beroperasi pun mal yang dulunya bernama Tunjungan Plaza (disingkat TP) ini diwarnai dengan hujan kritik dan badai protes dari masyarakat sekitar.

Yang begitu terasa, Plasa Tunjungan pernah dikomplain gara-gara menerapkan beberapa aturan yang tidak populis. Salah satunya larangan bagai pemakai klompen atau terompah. Padahal di era ‘80-an, masih banyak masyarakat Surabaya yang mengenakan alas kaki tradisional itu. Lantas, ada juga aturan berpakaian sopan dan tak boleh merokok.

Protes dari masyarakat sempat membuat Omar geleng-geleng. “Padahal saya kan cuma ingin memberi edukasi ke masyarakat. Berpakaianlah yang sopan, rapi, tidak memakai klompen, tidak merokok, dan jagalah kebersihan,” terang lelaki asal Nganjuk ini.

Untuk tujuan itu, pria yang akbrab dipanggil Pak Oi ini tak merasa rugi menolak bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan rokok yang ingin mengadakan event di plasanya. “Ya, kami harus konsekuen. Ketika di sini pengunjung dilarang merokok, masa kita malah menyediakan spot iklan untuk promosi produk rokok?”

Beruntung, masyarakat Surabaya yang berwatak keras khas penduduk pesisir mau menerima kultur baru dalam berjalan-jalan dan berbelanja. Pelan-pelan, mereka mulai bersedia meninggalkan terompahnya dan mampu berpuasa rokok selama di dalam mal. Meskipun sambil nggerundel juga.

“Iya, Mas. Tahun '80-an dulu itu sebenarnya saya jengkel banget disuruh matikan rokok pas mau masuk TP. Wong enak-enak ngerokok kok,” kisah Hadi, salah satu pengunjung angkatan pertama Plasa Tunjungan. “Tapi lama-lama, ya udahlah, saya ngalah. Justru sekarang kalau saya lihat ada orang yang merokok di ruangan ber-AC, saya malah jengkel. Hahaha....”

Hadi adalah salah satu bukti sukses kecil Omar Ishananto dalam mengedukasi masyarakat yang belum terbiasa dengan “kemewahan” mal. Bukti sukses lainnya tentu saja di bidang pencitraan Plasa Tunjungan itu sendiri. Tengoklah, sampai sekarang pun mal legendaris ini jadi tempat rujukan yang nyaman dan strategis bagi berbagai kalangan usia. Baik untuk berbelanja maupun sekadar berkongkow-kongkow.

Kegigihan Omar pun terbukti berhasil menciptakan ikon yang menjadi kebanggaan masyarakat Surabaya. Sehingga saat ini, lagu Rek, Ayo Rek... mlaku-mlaku nang Tunjungan masih dengan bangganya dinyanyikan generasi muda Surabaya. Bahkan, Jawa Timur.

0 comments :

Post a Comment

Butuh artikel-artikel semacam ini? Atau, punya ide membuat buku tetapi kurang bisa menulis? Tidak sempat? Kami bersedia membantu menuliskannya secara profesional. Kami juga menyediakan jasa editing tulisan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.