Mengenal Noken, Tas Unik buat Kepala

Thursday, November 20, 2014

Mengenal Noken, Tas Unik buat Kepala


Noken, tas unik yang dikalungkan kepala
Noken, tas unik yang dikalungkan kepala
- Oleh Rie Yanti

Inilah tas tradisional Papua yang layak Anda buru ketika berkunjung ke sana. Namanya noken. Harganya relatif murah, cuma Rp 25.000-50.000. Seperti lazimnya tas, noken juga digunakan untuk membawa barang-barang. Tapi yang unik, tas ini dibawa dengan kepala, bukan di bahu atau di tangan.

Hari ini, ada lebih dari 250 suku di Papua masih memanfaatkan noken dalam kesehariannya. Noken berukuran besar untuk membawa barang seperti kayu bakar, hasil panen, barang-barang belanjaan, bahkan anak. Sedangkan noken berukuran kecil digunakan untuk membawa barang-barang ringan seperti buku, dompet, botol, dsb.

Karena keunikan cara bawanya, noken kemudian didaftarkan ke UNESCO sebagai salah satu hasil karya tradisional dan warisan kebudayaan dunia. Dan sejak 4 Desember 2012 ini, Indonesia boleh berbangga, noken khas masyarakat Papua ditetapkan sebagai warisan kebudayaan non benda oleh UNESCO.

Noken terbuat dari bahan baku kayu pohon manduam, nawa atau anggrek hutan. Kayu tersebut diolah, dikeringkan, kemudian dipintal menjadi benang. Karena tidak menggunakan mesin, prosesnya, dari nol sampai jadi, bisa memakan 1-3 minggu. Tergantung tingkat kerumitan dan ukuran nokennya juga.

Bagaimana cara membuatnya? Saya tidak tahu. Yang jelas, di daerah Sauwadarek, Anda masih bisa menyaksikan pembuatan tas unik ini secara langsung. Karena ada industri kecil di sana.

Bagi suku-suku di Papua, noken melambangkan kehidupan yang rapi, damai, dan subur. Sementara bagi kita, orang-orang yang bukan penduduk Papua, tas rajutan yang keren ini patut dikoleksi sebagai kenang-kenangan, karena bentuknya unik dan cara pakainya juga unik. Sebagai suvenir, saya mending beli noken daripada beli koteka, hahaha.

Tas unik ini asli buatan mama-mama (sebutan untuk ibu-ibu di Papua). Konon, hanya orang asli Papua yang boleh membuat noken. Bahkan dulunya, kemampuan membuat noken merupakan tanda kedewasaan seorang perempuan. Kemampuan merajut noken juga dipakai untuk menentukan seorang gadis sudah layak menikah atau belum.

Tapi itu dulu. Sekarang, modernitas zaman membuat para wanita di Papua justru malas memakai, apalagi mengembangkan seni pembuatan noken. Sayang sekali, bukan? Padahal di seluruh dunia, noken hanya ada di Papua, dan sebagian Papua Nugini.

0 comments :

Post a Comment

Butuh artikel-artikel semacam ini? Atau, punya ide membuat buku tetapi kurang bisa menulis? Tidak sempat? Kami bersedia membantu menuliskannya secara profesional. Kami juga menyediakan jasa editing tulisan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.