Reformasi Pendidikan di Jepang demi Generasi yang Tangguh dan Bahagia

Sunday, June 21, 2015

Reformasi Pendidikan di Jepang demi Generasi yang Tangguh dan Bahagia


- Oleh Arta Nusakristupa

Selama ini, kita mengenal penduduk Jepang sebagai masyarakat yang cerdas dan keras (disiplin). Tapi siapa sangka, generasi muda Jepang saat ini sedang mengalami “penurunan”. Banyak pemuda usia produktifnya menolak keluar dari zona nyaman mereka. Banyak juga dari mereka yang harus bekerja berat sekadar untuk bertahan hidup. Lainnya, memilih mengakhiri hidup dengan bunuh diri.

Jumlah pengangguran pun semakin banyak. Ini berbeda sekali dengan beberapa dekade sebelumnya. Di tangan generasi sebelumnya, ekonomi Jepang mengalami masa keemasannya. Pemuda-pemuda di Jepang saat itu pun mudah mencari pekerjaan, baik di dalam maupun di luar negeri.

Generasi muda Jepang sekarang? Dari penduduk berumur 13-29 tahun yang disurvei dalam Annual Survey, hanya 45,8% yang mengaku bahagia. Angka ini jauh di bawah hasil survei tingkat kebahagiaan di Amerika yang mencapai 86%, Inggris 83,1%, dan Korea Selatan 71,5%.

Yang lebih memiriskan, sebanyak hampir 80% responden mengaku mengalami depresi. Sepertiga dari responden yang depresi tersebut menyatakan pesimismenya bisa bahagia, bahkan ketika usia mereka mencapai 40 tahun nanti.

Jika survei itu benar-benar mewakili seluruh penduduk muda Jepang, tidak heranlah angka bunuh diri di sana terus meningkat.

Salah satu faktor penyebabnya ditengarai adalah ketidakpuasan mereka terhadap pekerjaan saat ini. Pekerjaan yang berat dan durasinya lama. Dan celakanya, mereka tidak mau mencari peruntungan di luar negeri. Mereka terus berkutat di negara yang mungil itu.

Pemuda Jepang yang belajar di mancanegara pun selama 2004-2012 menunjukkan tren penurunan yang cukup signifikan, yakni hampir 30%. Menurut William Saito, seorang konsultan Pemerintah, orangtua turut andil dalam menciptakan penurunan ini. Termasuk mencegah mereka keluar dari zona nyaman mereka.

Saito berpendapat, reformasi pendidikan harus dijalankan!

Pemerintah Jepang pun mencoba meningkatkan jumlah mahasiswa yang belajar di luar negeri dengan berbagai strategi. Antara lain dengan tawaran bermacam beasiswa, mewajibkan bahasa Inggris untuk murid usia 10 tahun (sebelumnya untuk murid 13 tahun), dan sebagainya. Target Pemerintah, jumlah pelajar di luar negeri naik dua kali lipat pada 2020.

Perdana Menteri Shinzo Abe juga merombak sistem pendidikan untuk disesuaikan dengan kebutuhan kerja. Ini menjadi satu paket dengan kebijakan ekonomi nasional yang disebut Abenomic. Harapannya, Pemerintah Jepang ingin melahirkan generasi baru yang mampu bersaing secara global di luar negeri. Dan bahagia.

1 comment :

  1. menurut saya kalau sudah ketahuan depresi harus segera diobati sebelum tambah parah..

    ReplyDelete

Butuh artikel-artikel semacam ini? Atau, punya ide membuat buku tetapi kurang bisa menulis? Tidak sempat? Kami bersedia membantu menuliskannya secara profesional. Kami juga menyediakan jasa editing tulisan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.