Apakah Bitcoin Merupakan Emas yang Baru?

Di era digital, penantang baru emas telah muncul. Namanya Bitcoin (BTC). Aset digital terdesentralisasi ini sering disebut sebagai "emas digital". Nilainya telah teruji selama hampir dua dasawarsa dan oleh berbagai permasalahan global, mulai dari COVID-19, perang di Rusia-Ukraina, hingga ketegangan di Timur Tengah.
Namun, benarkah Bitcoin layak menggantikan fungsi emas? Mengingat usia emas jauh lebih senior. Dinamika emas sudah berabad-abad menjadi benteng pertahanan utama bagi investor di tengah badai ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.
Performa Bitcoin saat Perang
Klaim bahwa Bitcoin adalah aset safe haven (aset aman) bukan lagi sekadar teori. Berbagai konflik besar dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi laboratorium dunia nyata untuk menguji hipotesis ini.
Saat konflik Iran-Israel memanas pertengahan Juni 2025 lalu, pasar pada awalnya merespons dengan kepanikan yang memukul semua aset, termasuk kripto. Harga-harga berjatuhan. Namun, Bitcoin adalah salah satu aset yang pulih dengan cepat.
Fenomena serupa juga terjadi saat perang Rusia dan Ukraina pada 2022. Laporan dari berbagai media finansial seperti Reuters dan lembaga riset Kaiko menunjukkan adanya lonjakan volume perdagangan Bitcoin menggunakan mata uang Rubel Rusia dan Hryvnia Ukraina.
Hal ini mengindikasikan bahwa warga dari kedua negara yang berkonflik menggunakan Bitcoin sebagai alat untuk melindungi kekayaan mereka dari devaluasi mata uang dan sanksi ekonomi. Para oligarki Rusia, yang asetnya di perbankan internasional dibekukan, dilaporkan beralih ke Bitcoin.
Suka atau tidak, karakter desentralisasi Bitcoin telah menjadikannya aset yang ideal. Tidak ada bank sentral yang dapat mengintervensi nilainya. Tidak ada satu pun negara yang bisa memengaruhi harganya. BTC bisa dibeli dan dijual oleh siapapun, tidak peduli Anda berada di negara yang sedang diembargo ekonomi.
Mengapa Bitcoin Berbeda dari Koin Kripto Lainnya
Di dunia kripto, semua koin selain Bitcoin disebut altcoin (alternative coin), salah satunya Islamic Coin (ISLM). Jika Bitcoin dianggap tidak mungkin menjadi scam karena fundamental dan desentralisasinya yang kokoh, beda dengan altcoin.
Altcoin diibaratkan seperti perusahaan rintisan (startup) yang 99%-nya berpotensi gagal. Banyak altcoin yang populer di siklus sebelumnya kini sudah tidak laku karena teknologinya usang atau komunitasnya menghilang.
Sementara, Bitcoin ini sangat berbeda. Mengapa?
- Kelangkaan yang Terprogram (Digital Scarcity): Sama seperti emas yang jumlahnya terbatas di kerak bumi, pasokan Bitcoin diprogram secara matematis takkan pernah melebihi 21 juta koin. Hal ini menjadikannya aset yang terjaga dari inflasi, berbeda dengan altcoin yang kebanyakan pasokannya bisa ditambah semau pengembangnya. Bitcoin itu langka, bahkan lebih langka dari emas. Sebab, faktanya emas masih memungkinkan ditambang di planet lain.
- Desentralisasi Penuh: Tidak ada satu pun entitas, perusahaan, atau pemerintah yang dapat mengontrol jaringan Bitcoin, bahkan “penciptanya” sendiri (Satoshi Nakamoto) sekalipun. Sifat terdesentralisasi inilah yang membuat BTC menjadi aset safe haven yang efektif. Saat sebuah negara memberlakukan kontrol modal atau membekukan aset warganya, Bitcoin tidak dapat disentuh. Ia terus berjalan sendiri sesuai algoritma blockchain yang sudah diprogramkan.
- Keamanan Jaringan Teruji: Jaringan Bitcoin diamankan oleh mekanisme Proof-of-Work yang didukung oleh kekuatan komputasi masif dari para penambang (digital miner) di seluruh dunia. Ini menjadikannya jaringan komputer paling aman yang pernah ada dan sangat sulit untuk diretas.
- Adopsi Institusional: Kepercayaan terhadap Bitcoin makin kokoh dengan adanya adopsi dari institusi keuangan raksasa. Peluncuran ETF Bitcoin oleh manajer aset terbesar dunia, BlackRock, menandakan bahwa pentolan-pentolan dunia finansial kini mengakui Bitcoin sebagai kelas aset yang sah. Bahkan negara-negara mulai membeli Bitcoin sebagai cadangan devisa resminya, seperti El Salvador, Amerika Serikat, Brazil, Polandia, Rusia, Swiss, dan lain-lain.
- Bitcoin Sensitif terhadap Likuiditas Pasar: Bitcoin dapat menahan nilainya dari inflasi dengan cara yang unik. Ketika pemerintah di seluruh dunia mencetak uang secara masif, misalnya untuk membiayai perang atau stimulus ekonomi (dan biasanya membuat rentan inflasi), nilai Bitcoin justru berpotensi naik dalam jangka panjang. Pencetakan uang ini justru dianggap sebagai "bahan bakar" bagi Bitcoin.
Karena karakteristik-karakteristik itulah, Bitcoin kerap disebut sebagai "emas digital", sementara aset kripto lainnya lebih sering dianggap sebagai aset spekulatif yang pergerakannya mirip saham perusahaan teknologi.
Cara Berinvestasi Bitcoin untuk Pemula
Tertarik berinvestasi di Bitcoin? Bagi pemula dengan modal terbatas, pendekatan strategis sangat diperlukan. Para ahli menyarankan langkah-langkah berikut ini:
- Bangun Fondasi Keuangan yang Kuat. Sebelum menyentuh aset berisiko tinggi seperti Bitcoin, pastikan kondisi keuangan pribadi Anda sehat. Milikilah dana darurat yang setara dengan biaya hidup selama enam bulan dan lunasi utang-utang terlebih dahulu. Investasi hanya boleh dilakukan dengan "uang dingin", yaitu uang yang Anda siap kehilangan tanpa mengganggu stabilitas hidup Anda.
- Hindari Diversifikasi Berlebihan. Bagi investor dengan modal minim, katakanlah di bawah Rp1 juta, mencoba membeli banyak jenis koin kripto adalah kesalahan fatal. Biaya transaksi akan menggerus keuntungan, dan Anda akan kesulitan memantau perkembangan setiap aset. Lebih baik konsentrasikan modal Anda pada dua aset yang paling meyakinkan. Bitcoin, salah satunya.
- Belilah di Bursa yang Tepercaya dan Teregulasi. Pilihlah platform atau bursa jual-beli (exchange) aset kripto yang legal dan sudah terdaftar di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI) di Indonesia. Ini memastikan keamanan dana Anda dari risiko penipuan atau peretasan platform.
- Terapkan Strategi Dollar-Cost Averaging (DCA). BTC termasuk kripto, dan pasar kripto sangat fluktuatif. Daripada mencoba menebak kapan harga akan naik atau turun, menabung sajalah secara rutin. Misalnya, Anda berkomitmen membeli Bitcoin senilai Rp200.000 setiap bulan pada tanggal yang sama, berapa pun harganya saat itu. Strategi DCA ini akan membantu meminimalkan risiko, mengurangi pusing akibat keharusan memelototi grafik setiap waktu, serta membangun portofolio Anda secara bertahap dalam jangka panjang.
- Belajarlah Cara Mengamankan Bitcoin. Setelah membeli BTC dari bursa pilihan Anda, meski ada jaminan BAPPEBTI, sebenarnya belum terlalu aman membiarkan BTC tetap di sana. Sebaiknya, Anda segera mentransfernya ke crypto wallet sendiri. Cold wallet (dompet luring) biasanya jauh lebih aman dibanding hot wallet (dompet daring). Namun, karena bentuknya gawai fisik, Anda harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli cold wallet itu, karena harganya 900.000-4.000.000, dan belum termasuk ongkir dari luar negeri. Bagaimanapun, pembelian ini perlu Anda lakukan, terutama bila saldo Bitcoin Anda sudah di atas 50 juta rupiah.
- Berinvestasilah untuk Jangka Panjang. Dengan modal dan pengalaman minim, jangan pernah berniat melakukan trading (jual-beli) dalam jangka pendek, apalagi bila itu Bitcoin yang biaya adminnya besar. Biarkan saja saldo Bitcoin itu sampai setidaknya lima tahun.
Dalam praktiknya, Anda mungkin akan terkena potongan di sana-sini dan mengalami inefisiensi karena kurangnya pengalaman. Namun, anggap saja semua itu sebagai “biaya sekolah”.
Penutup
Narasi Bitcoin sebagai "emas digital" terbukti bukan sekadar slogan pemasaran. Dalam menghadapi ujian nyata dari berbagai konflik geopolitik dan ketidakpastian makroekonomi, Bitcoin telah menunjukkan karakteristik uniknya sebagai aset safe haven yang fungsional.
Sifat BTC yang langka, terdesentralisasi, dan tidak terikat oleh batas negara menjadikannya alternatif yang menarik bagi investor yang ingin melindungi kekayaan mereka di era modern, sebuah peran yang selama ini dimonopoli oleh emas.
Di sisi lain, kepercayaan yang tumbuh dari investor institusional makin mengukuhkan posisi Bitcoin sebagai kelas aset yang matang dan berbeda dari ribuan aset kripto spekulatif lainnya.
Meskipun demikian, menyatakan Bitcoin akan sepenuhnya menggantikan emas barangkali terlalu dini. Sebagai aset yang relatif baru, Bitcoin masih memiliki tingkat volatilitas yang tinggi dan terus menghadapi tantangan regulasi di berbagai belahan dunia.
Post a Comment for "Apakah Bitcoin Merupakan Emas yang Baru?"
Butuh artikel-artikel semacam ini? Atau, punya ide membuat buku tetapi kurang bisa menulis? Tidak sempat? Kami bersedia membantu menuliskannya secara profesional. Kami juga menyediakan jasa editing maupun rewriting tulisan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.