Jika Rusia dan Amerika Jadi Berperang

Sunday, March 16, 2014

Jika Rusia dan Amerika Jadi Berperang


Putin yang macho dan Obama yang humanis
Tapi kalau Putin dan Obama duel satu lawan satu, saya jelas pegang Putin :)
- Oleh Brahmanto Anindito

Negosiasi antara Amerika dan Rusia tentang Ukraina kemarin mengalami kebuntuan. Masing-masing pihak keukeuh pada pendiriannya. Amerika bersikeras, “Jangan mengambil keuntungan dari Ukraina!” Rusia pun membalas, “Jangan ikut campur urusan internal kami! Sebagaimana kami tidak pernah ikut campur ketika Amerika seenaknya menginvasi negara-negara lain, seperti Irak dan Libya.”

Setahu saya, cerita panjang konflik militer ini berawal dari rencana referendum Crimea, wilayah kecil di Ukraina yang ingin berintegrasi ke Rusia. Untuk mengawal referendum itu, Rusia mengirim ribuan pasukannya ke perbatasan. Rusia berdalih, semua itu atas permintaan (mantan) presiden Ukraina Viktor Yanukovych yang bulan lalu digulingkan karena dianggap salah urus negara.

Mengamati perkembangan konflik di Ukraina ini seru juga. Terutama sikap tegas Presiden Rusia, Vladimir Putin, terhadap Amerika. Diam-diam, ada rasa respek terhadap pimpinan-pimpinan negara yang ogah didikte Amerika. Mungkin lantaran iri, presiden saya sendiri, meskipun sama-sama pensiunan militer, terbukti tidak memiliki separuh saja dari nyali Putin.

Referendum Crimea yang harusnya dilangsungkan hari Minggu ini mungkin jadi puncak ketegangan Moskwa-Washington. Apakah Crimea akhirnya memutuskan bergabung dengan Rusia? Nada-nadanya, rakyat di sana memang cenderung memilih menjadi warga negara Rusia ketimbang tetap ber-KTP Ukraina dan berada di bawah pemerintahan interim.

Lumrah saja kalau Amerika dan Barat berusaha mencegah referendum itu. Atau minimal, tidak akan mengakui hasilnya. Yang jelas, "Akan ada konsekuensi jika kedaulatan Ukraina dilanggar," tegas Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, beberapa hari lalu.

Hari Senin besok, Washington akan mengumumkan sanksi itu. Saya kira sanksinya berupa embargo dari Amerika Serikat dan bolo-bolo-nya, terutama yang di Eropa. Kanselir Jerman Angela Merkel sudah mewanti-wanti, “Rusia akan hancur jika nekat menganeksasi Crimea. Kehancuran jangka panjang di bidang ekonomi dan politik!”

Ya, embargo ekonomi dan politik. Tapi, tidak terlepas kemungkinan juga, konsekwensi itu berupa agresi militer Amerika bersama negara-negara NATO (seperti Polandia, Hungaria, Romania, dsb) terhadap Rusia. Kalau sudah begini, sebuah perang besar siap meletus.

Anda tahu kan, Rusia (dulunya Uni Soviet) dan Amerika memiliki sejarah perselisihan panjang, khususnya selama era Perang Dingin 1947-1991. Rusia pernah membantu Vietnam Utara memecundangi Amerika di Asia Tenggara. Sementara Amerika pernah membantu Mujahidin mempermalukan Soviet dalam perang di Afghanistan.

Akankah kedua raksasa militer ini baku hantam pada 2014? Hanya gara-gara si mungil Crimea yang penduduknya cuma dua juta jiwa?



Kalau benar, wah, mengkhawatirkan juga. Dalam kasus terburuk, bisa saja kondisi ini berkembang menjadi perang nuklir. Lebih “seru” lagi kalau China ternyata berdiri di belakang Rusia dengan senjata terkokang. Atau, kalau Iran beserta musuh-musuh Amerika lainnya mengambil keuntungan dari babak belurnya Amerika ketika fokus menempur Rusia.

Tapi, abaikan sebentar masing-masing pendukung negara yang berselisih itu. Seandainya pertempuran hanya di antara Rusia dan Amerika, kira-kira siapa yang akan menang?

Hm, kalau ini ditanyakan selama Perang Dingin, mungkin kita akan kesulitan menjawabnya. Sama sulitnya dengan menjawab pertanyaan, "Siapa yang bakal menang kalau Batman duel lawan Ironman?"

Masalahnya, sekarang Rusia bukan lagi Uni Soviet si beruang besar. Bila aset militer Amerika dan Rusia diperbandingkan saat ini, niscaya Amerika Serikat mengungguli Rusia di hampir semua lini. Belum lagi posisi geografis Rusia yang kurang menguntungkan, karena dikelilingi oleh negara-negara NATO.

Jadi, perang Rusia-Amerika (jika benar-benar terjadi) tidak akan berakhir imbang. Namun pastinya, kedua pihak akan berdarah-darah. Bahkan Eropa pun akan terhantam imbasnya. Asia? Entahlah. Tapi seperti biasa, siap-siap saja mengalami efek domino dari krisis ekonominya.

Bagaimanapun, opsi perang mungkin kecil sekali peluangnya. Para pemimpin dunia dan PBB percaya, cara-cara abad 19 atau 20 tidak lucu jika kembali diterapkan untuk abad 21. Kalau perang dingin (lagi) sih masih mungkin. Paling-paling kedua aliansi saling mengisolasi, saling melarang warganya traveling ke negara-negara musuhnya, saling memutus hubungan kerjasama, dan hacker-nya saling serang.

Untuk perang nuklir? Perang Dunia III? Ah, masa sih?

0 comments :

Post a Comment

Butuh artikel-artikel semacam ini? Atau, punya ide membuat buku tetapi kurang bisa menulis? Tidak sempat? Kami bersedia membantu menuliskannya secara profesional. Kami juga menyediakan jasa editing tulisan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.