Eloknya Masohi, Manisnya Maluku

Friday, April 3, 2015

Eloknya Masohi, Manisnya Maluku


Pulau Seram terlihat dari feri kami
- Oleh Astrid Ayu Septaviani

Alam Indonesia timur itu cantik luar biasa. Ketika kakak perempuan saya mengatakan itu, saya menggeleng-geleng tidak percaya. Saya baru ngeh setelah berlalu lima tahun. Tepatnya, ketika saya mendapat mandat dari Ayah untuk mengantar keponakan mudik ke Ambon, Provinsi Maluku.

Kami berangkat dari Surabaya selama 1,5 jam. Transit di Bandara Hasanuddin, Makassar. Lalu kembali melanjutkan perjalanan selam 1,5 jam lagi ke Bandara Pattimuda, Ambon.

Kakak ipar sudah stand by di bandara. Dia adalah tuan rumah kami. Setelah ngobrol-ngobrol sejenak, kami langsung bermobil menuju rumahnya. Dia tinggal di Kota Masohi. Perjalanan darat dari bandara ke pelabuhan memakan waktu sekitar dua jam.

Sampai di pelabuhan, kami menyeberang dengan kapal feri. Lama penyeberangan sekitar 1,5 jam. Sebenarnya, kami bisa menggunakan kapal cepat, tapi di kapal cepat itu, mobil tidak bisa diikutkan. Jadi, kami memilih tetap menyeberang menggunakan kapal feri.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan darat selama tiga jam mengelilingi Pulau Seram. Untungnya, Pulau Seram ini luar biasa indah. Jadi kami tidak bosan. Sepanjang pulau, saya melihat gunung di kiri dan laut di kanan. Rumah-rumah penduduk, sekolah dan warung yang jamak ditemukan di daerah-daerah Indonesia sesekali menghiasi pemandangan.

Sepi sekali. Jumlah anjing liar, kambing dan sapi rasanya lebih banyak dari truk dan motor-motor penduduk yang melintas. Sampai di Masohi, barulah mulai tampak peradaban yang ramai.

Wisata Pantai Masohi

Pantai Kuako bisa ditempuh dengan 20 menit perjalanan dari rumah kakak saya. Waktu saya datang, ombak di sana sedang besar-besarnya. Katanya, mulai bulan Juni sampai Agustus memang gulungan ombak di sini rada mengerikan dan curah hujannya tinggi.

Saya pun mencoba tidak terlalu maju ke laut. Takut terbawa arus dan tenggelam.

Di Pantai Kuaki ini pula, saya merasakan ikan Asar atau ikan asap. Ikan cakalang dimakan dengan ketupat santan dan sayur acar (campuran rebung, kacang panjang, dan timun). Bumbunya kacang kenari atau kacang tanah ditambah kunir, cuka, dan garam.

Rasanya? Maknyus! Saya yang tidak doyan ikan dan sayur saja sampai habis banyak.

Lanjut ke Bukit Masohi

Dari Pantai Kuako, kakak ipar saya kemudian mengajak ke dataran tinggi dimana tulisan Masohi bertengger layaknya tulisan Hollywood di California. Dari sini, tampaklah dengan jelas pemandangan Kota Masohi, laut dan gunung.

Hanya ada dua kata: indah sekali!

Di perbukitan ini, juga ada ada Bukit Sombahyang untuk peribadatan umat Kristiani. Sekitar 50 meter dari situ, berdiri pura unik yang sederhana untuk peribadatan umat Hindu.

Masohi dan Ambon Takkan Terlupa

Puas beberapa hari di Masohi, tiba waktunya kami untuk pulang. Berangkatnya pukul 6 WIT. Sama seperti perjalanan Ambon-Masohi, perjalanan Masohi-Ambon juga harus ditempuh dengan mengelilingi Pulau Seram yang aduhai itu.

Kali ini, saya melihat matahari terbit di balik siluet pegunungan. Beberapa saat setelah itu, kabut mulai menutup sebagian wilayah pengunungan. Sangay sangat cantik. Rasanya seperti melihat lukisan China di zaman pendekar kungfu masih bisa melayang-layang.

Semua gambar-gambar menakjubkan ini takkan saya lupakan seumur hidup.

0 comments :

Post a Comment

Butuh artikel-artikel semacam ini? Atau, punya ide membuat buku tetapi kurang bisa menulis? Tidak sempat? Kami bersedia membantu menuliskannya secara profesional. Kami juga menyediakan jasa editing tulisan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.