Berbagilah Ilmu, Meski Cuma Sekelumit

Berbagilah Ilmu, Meski Cuma Sekelumit

Dalam setiap kesempatan menjadi pembicara dalam forum bisnis, saya selalu titip pesan kepada audiens. Salah satunya untuk menceritakan kembali apa yang ditangkap dan dianggap menarik dari penjelasan saya, minimal kepada satu orang yang terdekat dengan mereka. "Bila punya istri atau suami, maka ceritakanlah kembali kepadanya dengan bahasa Anda sendiri. Bila belum berkeluarga, ceritakan pada pacar, bapak, ibu, atau saudara."

Kalau belum berkeluarga dan jauh merantau, maka saya minta untuk menceritakan apa yang didapat hari ini kepada teman kos. Atau sekalian kepada ibu kosnya.

Kalau ada yang tinggal di atas bukit, ekstremnya tidak ada teman sama sekali, ceritakan saja kepada kucing. Atau kalau tidak punya binatang peliharaan, ceritakan saja pada tembok, hehehe.

Kenapa saya berharap para peserta menceritakan kembali ilmu yang baru didapat dari saya? Karena saat kita baru memperoleh ilmu, ilmu itu hanya terserap sedikit, sehingga lebih cepat untuk lupa. Paling minggu depan, ilmu baru itu sudah benar-benar terlupakan. Sayang sekali, bukan, menghabis-habiskan uang untuk seminar, tetapi ilmunya tidak mengendap di memori kita?

Nah, semakin sering kita mengingat kembali, apalagi dengan berusaha menceritakannya ulang dengan bahasa sediri, daya ingat kita tentang ilmu baru tersebut akan berkali lipat lebih kuat.

Sebenarnya, ini sama dengan hadis, "Sampaikanlah dariku walau cuma satu ayat."

Jadi, sebenarnya ilmu untuk mengingat ilmu yang baru didapat sudah diajarkan sejak berabad-abad silam. Meskipun kita hanya mendapatkan ilmu agama yang sangat sedikit (cuma satu ayat), berusahalah untuk menyebarkannya ke orang lain, asal ilmu itu tidak sesat. Salah satu gunanya, supaya ingatan kita terhadap ayat atau ilmu tersebut kian kuat.

Kenapa ilmu itu harus selalu dibagikan, alih-alih dipendam sendiri? Karena kalau kita meninggal, kita takkan membawa seluruh harta kekayaan kita. Yang kita bawa hanya tiga, yaitu: amal kita selama di dunia, doa dari anak kita yang saleh, dan ilmu yang berguna.

Apa yang dimaksud ilmu yang berguna? Yakni setiap ilmu yang kita ajarkan kepada seseorang. Jika orang itu mengamalkan ilmu kita sampai 30 tahun, misalnya, maka pahalanya akan terus mengalir kepada kita selama 30 tahun pula.

Enak, bukan? Ini seperti passive income saja. Hanya kerja sekali, tetapi hasilnya akan terus kita nikmati.

Lagi pula, secara logika hanya dengan terus melakukan sharing ilmu, peradaban ini akan berkembang. Bagaimana menurut Anda?

- Tulisan: Ino Permana

Comments