Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

[Humor] Lagu Pelipur Lara buat Benhur Deniro

Lagu Pelipur Lara buat Benhur Deniro

Malam ini, kawasan Dusun Wufitengguli mengalami pemadaman listrik dari Energiwufi, PLN-nya Desa Wufi. Sudah terlalu larut untuk menongkrong bersama teman-teman, tetapi rasa kantuk yang ditunggu tak kunjung datang, Benhur Deniro pun menyalakan radio resistornya yang kuno.

Radio tersebut memakai baterai AAA yang daya tahannya lama. Jadi, ia tak perlu harus mengecasnya saat mati lampu begini.

Setelah memutar-mutar gelombangnya, Kakek Benhur menemukan Wuflite FM. Lagu-lagu yang diputar di sana dari tahun '70-an, sesuai dengan harapan Benhur untuk bernostalgia ke masa ia masih aktif di militer dan menguber-uber cinta Nenek Eling Sulwaesi, perempuan yang kini sudah jadi istrinya dan sejak Isya tadi sudah tertidur.

Lagu pun berhenti. Penyiarnya mengatakan bahwa pendengar bisa rekues lagu 1970-1980-an di sesi ini. Telepon di studio pun langsung berdering. Sang penyiar menyapa penelepon pertama itu.

“Ya, halo,” suara seorang perempuan terdengar. “Selamat malam. Ini Wuflite FM?”

“Betul, dan Toni di sini. Password-nya?”

“Suatu Hari di Desa Wufi!” jawab perempuan yang terdengar seperti remaja itu.

Benhur tersenyum mendengar percakapan di udara itu.

“Sedaaap,” Toni membenarkan kata sandi itu. “Dengan Kakak siapa, nih? Di dusun mana?”

“Maryam, Mas Toni. Kalau dusunnya, sih, rahasia.”

“Lo, kok gitu?"

"Soalnya..." Gadis itu tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia terdiam beberapa detik.

"Tapi enggak masalah! Kak Maryam mau rekues lagu atau kirim-kirim salam, nih?”

Suasana di rumah masih gelap. Benhur pun mulai berbaring di sofa ruang keluarga.

“Dua-duanya!” sahut Maryam.

"Boleh. Salamnya dulu, deh. Buat siapa?"

“Begini, Mas Toni. Asar tadi, di Toko Pakan Burung Cuatcuit, saya menemukan dompet. Isinya uang 350 ribu rupiah, ATM BRI, koyo, KTP dan SIM atas nama... Benhur Deniro.”

Benhur yang sudah merem-melek hendak tertidur langsung melek!

"Oh ya? Bagaimana bentuknya?" tanya Toni.

Mengabaikan dialog di radio, Benhur bangkit dari baringnya. Berdiri, masuk ke kamarnya dan meraba-raba celana yang digantungkannya di balik pintu.

Kempes. Kosong!

“Waduh, dompetku enggak ada!" Benhur mendelik, "Jangan-jangan itu memang dompetku!”

Kakek 74 tahun itu ingat, memang tadi sempat membeli pelet dari Toko Pakan Burung. Ia juga baru saja menarik dari ATM senilai 350 ribu. Persis!

Benhur pun buru-buru kembali ke ruang keluarga dan mengeraskan volume radionya.

“Saya cuma memberi informasi,” kata Maryam, si penelepon.

“Ya, ya. Mulia sekali Kak Maryam ini,” puji sang penyiar. “Zaman serbasusah gini, ternyata masih ada orang jujur. Oke, silakan informasinya, Kak. kalau kebetulan orang yang kehilangan dompet itu mendengarkan siaran ini, gimana cara menghubungi Kak Maryam?”

Benhur mengeraskan radionya lagi, dengan jantung berdebar-debar. Wajahnya tegang menyimak.

“Oh, enggak, Mas,” jawab Maryam terdengar ragu. “Yang mulia itu bukan saya, tapi Pak Benhur. Saya mau salam dan mengucapkan terima kasih ke beliau. Juga rekues lagu. Itu lo, lagu yang judulnya Relakanlah, Tak Perlu Kau Tangisi. Lagu ini spesial buat Pak Benhur.”

Post a Comment for "[Humor] Lagu Pelipur Lara buat Benhur Deniro"