19 Letters, Kisah Tiga Siswi Kelas Akselerasi

19 Letters, Kisah Tiga Siswi Kelas Akselerasi
  • Judul: 19 Letters
  • Subjudul: Beautiful Flower 
  • Genre: Novel drama, kehidupan sekolah
  • Pengarang: Dinda Unaroma 
  • Tebal: 418 halaman 
  • ISBN: -
  • Penerbit: 19 Books Publishing 
  • Cetakan I: November 2019 
Novel di Indonesia yang mengangkat kisah siswa akselerasi rasanya masih bisa dihitung dengan jari. Karena memang tidak banyak sekolah yang mengadakan program percepatan studi ini. 19 Letters: Beautiful Flower adalah salah satu di antara segelintir novel itu. Sehingga, kisah ini seperti menjawab rasa penasaran pembaca akan kehidupan anak-anak aksel.

Kutu bukukah mereka? Cupukah mereka? Streskah mereka? Bahagiakah mereka?

Kelas aksel memadatkan waktu belajar formal, biasanya di SMP atau SMA, dari tiga tahun menjadi dua tahun. Maka murid yang masuk program ini, juga gurunya, harus bergegas mengejar target belajar selama dua tahun.

Hampir tidak ada waktu untuk bersantai. Hari-hari diisi dengan belajar, praktikum, tugas, ujian, perbaikan nilai, belajar, praktikum, tugas, ujian, perbaikan nilai, dan seterusnya sampai pelajaran benar-benar habis. Siswa yang tidak kuat mental atau manajemen dirinya tidak bagus jelas berpotensi depresi, atau minimal keteteran. Sebagaimana para protagonis dalam novel perdana Dinda Unaroma ini.

Cerita 19 Letters ditulis oleh seorang mantan siswi akselerasi di salah satu sekolah negeri Ibu Kota. Bahkan mungkin sang tokoh utama, Dinar Fortumisa, adalah alter-egonya. Mungkin.

Cerita Novel 19 Letter: Beautiful Flower

Dari Cimahi, Jawa Barat, Dinar merantau ke Jakarta untuk menempuh studi di SMAN 413. SMA ini tergolong top di Jakarta, bahkan di Indonesia. Selain memiliki kelas akselerasi, SMA 413 Jakarta juga mempunyai sederet ekstrakurikuler yang bergengsi. Lulusannya pun dijamin masuk perguruan tinggi negeri yang bonafide.

Awalnya, Dinar hanya siswi kelas reguler di SMA favorit itu. Namun, kemudian ia terpilih masuk kelas akselerasi bersama 18 siswa-siswi genius lainnya. Dinar yang lugu berharap suasana dan teman-teman barunya sama hangat dan bersahabatnya dengan kawan-kawan kelas lamanya, di X-2.

Sayangnya, pada hari pertamanya saja ia sudah bernasib sial. Dinar diusir oleh (calon) teman sebangkunya yang jutek minta ampun, Jullie (Juliandra Manohara). Ia juga dicuekin teman sebangkunya yang baru, Gamma (Gamma Al Fathony).

Seolah keadaan belum cukup menjengkelkan, Dinar di hari perdananya juga harus mengerjakan pretes fisika yang tidak dikuasainya. Kemampuan fisikanya yang memang pas-pasan membuatnya mengalami kebuntuan. Walhasil, Dinar mendapatkan nilai rendah dan membuatnya tidak percaya diri untuk bertahan di kelas aksel.

Kalau saja tidak ada Gia (Anggia Aulia Aziiza) dan Zahra (Azzahra Shakila), Dinar pasti sudah lempar handuk sejak hari-hari awal.

Gia dan Zahra sebenarnya teman lama, jadi mereka sudah saling mengenal satu sama lain. Meskipun demikian, keduanya mudah akrab dengan Dinar.

Gia, cewek aktif yang punya segudang kegiatan di luar sekolah, menasihati Dinar agar bersikap santai saja dan terus mengembangkan bakat non-akademisnya. Menurutnya, masa SMA yang hanya dua tahun tidak boleh disia-siakan. Rugi kalau hanya diisi dengan belajar dan belajar belaka.

Kalau Dinar perhatikan, Zahra pun seia sekata dengan Gia. Ia terlihat asyik-asyik saja menekuni dunianya: hoki dan gitar. Meskipun nilai-nilainya tidak kalah parahnya, yang nanti membuat Jullie menjuluki mereka Three Idiots.

Sikap tanpa beban kedua kawannya sedikit-banyak mengubah Dinar menjadi murid yang lebih santai dalam menyikapi nilai jelek. Hidup Dinar pun menjadi lebih berwarna. Bersama dua sahabat barunya itu, Dinar mengarungi semester demi semester di kelas akselerasi dengan lebih ceria.

Namun siapa sangka, Zahra dan Gia pula yang kemudian memberikan masalah pelik baginya, dengan cara mereka masing-masing.

Film Serial 19 Letters

19 Letters: Beautiful Flower sebenarnya merupakan novel adaptasi dari web series yang populer di YouTube dengan judul sama. Berikut ini episode pertama bila Anda belum pernah menontonnya:


Memang, sebaiknya menonton web series ini dulu sebelum membaca novelnya. Tidak wajib karena memang bukan prekuel, tetapi akan lebih asyik dan gereget bila menonton dulu sebelum membaca.

Web series yang mulai tayang sejak 2018 ini disutradarai oleh Dinda Unaroma sendiri. Latar belakang Dinda sejak awal memang seorang kreator konten di YouTube dan sineas yang sudah beberapa kali membuat film pendek. Ia lulusan New York Film Academy, Los Angeles.

Terdiri dari enam episode, sesi pertama dari film seri 19 Letters sudah tamat. Penontonnya masih menunggu sesi kedua tayang. Entah nanti tetap menggunakan platform YouTube, atau merambah televisi, penyedia film digital (semacam Netflix, HOOQ, atau GoPlay), atau langsung layar lebar.

Yang jelas, Novel 19 Letters berbeda dengan web series-nya. Sebab, film-film di YouTube itu sejatinya hanya merupakan pilot project. Dinda Unaroma menjanjikan akan ada produk-produk turunannya. Salah satunya, novelnya.

Review Novel 19 Letters: Beautiful Flower

Dibandingkan dengan serial 19 Letters YouTube, versi novel tampil dengan konflik yang jauh lebih rumit dan hubungan antartokoh yang lebih dalam. Itu sudah bisa ditebak hanya dari melihat tebal novel yang lebih dari 400 halaman.

Namun demikian, ceritanya tetap ringan, mengalir lancar, dan renyah, khas cerita untuk remaja. Meskipun ceritanya terkadang menyodok-nyodok kesadaran kita akan makna kejujuran, kesetiaan, dan menjadi diri sendiri.

Bagaimana dengan kisah asmara?

Kalau kita membicarakan remaja, apalagi di SMA favorit Jakarta, rasanya hal itu tak terhindarkan. Namun, unsur romantisme tersebut hanya sedikit. Seperti kisah Gia yang jadian dengan Alvian Nugroho sang es kutub, Dinar yang diam-diam naksir Gamma, atau Zahra yang membuat Dikta (Pradikta Siddharta) sang ketua kelas terpincut. Semua itu dikisahkan hanya sekilas. Yang lebih dominan justru persoalan ekstrakulikuler musiknya.

Sisanya, 19 Letters lebih banyak memperlihatkan jatuh-bangun Dinar, Gia, dan Zahra dalam meraih prestasi serta pengakuan dari orang-orang di sekelilingnya.

Yang membuat menarik, novel ini juga dihiasi dengan adegan-adegan komedi yang cukup mengocok perut tanpa terkesan norak dan drama “pengorbanan” yang membuat air mata merembes tanpa terasa.

Walau demikian, ada beberapa hal yang terasa janggal. Misalnya, mengapa Dinar seperti tiba-tiba berubah menjadi anak yang kebangetan bodohnya di SMA, padahal dia adalah langganan juara kelas ketika SMP? Sebodoh-bodohnya Dinar, seharusnya dia masih bisa mengikuti materi pelajaran di kelas aksel.

Keanehan lainnya, perhatikan judulnya, 19 Letters: Beautiful Flower. Adegan yang menjabarkan makna "beautiful flower" ini ada di bab 7, saat Dikta menyanyikan lagu ciptaannya di sekolah. Kemungkinan, dia menciptakan lagu berjudul sama itu untuk Azzahra Shakila, nama yang dalam bahasa Arab juga berarti "bunga yang indah".

Jika novel ini diberi subjudul "Beautiful Flower", bukankah seharusnya lebih banyak menceritakan Zahra? Faktanya, porsi Dinarlah lebih banyak. Seolah, kehadiran Zahra hanyalah sebagai protagonis pendamping. Kendati di beberapa bagian, kita bisa menyimpulkan bahwa masalah-masalah pribadi Zahra memang lebih mendalam.

Bagaimanapun, sebagaimana dalam kehidupan nyata, novel 19 Letters pun tidak menampilkan hal-hal yang manis, ceria, serta lucu setiap saatnya. Ada sisi kelamnya juga. Dan di sini, sisi muram itu memang berada di tokoh Zahra.


- Tulisan: Win Andriyani, penikmat novel dan film

Comments