Podcast dan Cara Menulisnya

Podcast dan Cara Menulisnya

Saat ini, video adalah media yang paling sempurna. Kontennya dirancang untuk memanjakan telinga (audio) sekaligus mata (visual). Namun siapa sangka, justru itulah kelemahannya. Kita harus mengaktifkan kedua indra sekaligus untuk menikmatinya. Kerepotan semacam ini tidak terjadi ketika kita menikmati podcast alias siniar. Maka wajarlah bila banyak pengamat memprediksi platform ini akan segera meroket di Indonesia.

"Siniar" berasal dari kata "siar" yang diberi sisipan -in-. Sementara, kata majemuk "podcast" berasal dari kata "POD" (Personal On Demand, Portable On Demand, atau Playable On Demand) dan "cast" (menampilkan/menyiarkan).

Podcast mirip radio, tetapi penyiarannya melalui internet, dan kontennya dapat kita dengarkan secara beralir (streaming) atau kita unduh. Dengan demikian, kita bisa menikmati acara atau episode kapan saja. Kita pun dapat mendengarkannya di komputer, ponsel, atau gawai-gawai lainnya.

Sama dengan radio, konten podcast juga dapat berupa monolog penyiar (siniarwan atau podcaster) dengan tema apapun, dialog dengan tokoh sukses (wawancara), ceramah motivasi bisnis, inspirasi pengembangan diri, khotbah agama, panduan relaksasi, berita, buku (audio book), atau sandiwara-sandiwara seperti yang pernah populer pada akhir era ‘80-an.

Persaingan di Podcast Belum Ketat

Menurut data Podcast Insight, dibanding platform video YouTube yang memiliki sekitar 550 juta kanal aktif, gabungan dari berbagai platform podcast sekalipun hanya memiliki kurang-lebih 700.000 kanal aktif dan 29 juta episode.

Artinya apa? Persaingan antarkreator di platform-platform podcast 800 kali lebih ringan dibandingkan di YouTube. Padahal, selain YouTube, masih ada platform-platform video lain, seperti Vimeo, Daily Motion, IGTV, dan lainnya. Bayangkan betapa sudah penuh sesaknya populasi kreator video ini.

Di lain sisi, tren peningkatan pengguna podcast justru lebih baik ketimbang YouTube. Menurut PwC dalam laporannya Global Entertainment & Media Outlook 2018-2020, industri podcast meningkat 10 kali lipat dalam empat tahun terakhir. Lejitan lebih drastis diprediksi akan terjadi per 2020 ini.

Agaknya, kesibukan orang-orang modernlah yang membuat grafik pendengar podcast meroket. Dengan media untuk kuping ini, orang-orang yang sibuk jadi bisa menikmati konten sembari joging, bersepeda, menyetir mobil, bahkan menonton bola. Praktis, bukan? Jangan harap menonton video bisa disambi-sambi begitu.

Orang Mengonsumsi Podcast Lebih Lama dari Video

Menurut survei, rata-rata orang menonton YouTube selama empat menit per video. Sementara di podcast, angka rata-ratanya puluhan menit. Ini bukan hal yang mengherankan, mengingat daya tahan telinga lebih baik dari mata.

Bayangkan Anda ingin menonton video melalui ponsel. Tidak sampai satu jam, tangan Anda bisa pegal atau kesemutan dan mata menjadi kering, bukan? Ponselnya pun lekas panas dan baterainya habis lebih cepat.

Bagaimana dengan siniar?

Untuk mendengar podcast, layar gawai tidak perlu dalam keadaan menyala. Pun, tidak perlu selalu ditopang dengan tangan. Cukup pasang pelantang di telinga, putar episode yang Anda sukai, matikan layarnya, lalu taruh atau kantongi gawai itu. Mata bebas melihat hal lain, tangan bebas melakukan kegiatan lain.

Itulah mengapa banyak yang bilang, podcast merupakan terobosan yang pas di zaman kiwari ini. Bukan teknologi yang baru atau canggih, tetapi pas dengan tuntutan zaman.

Baik Anda orang yang sibuk atau sekadar malas membaca atau menonton, selama masih membutuhkan informasi untuk pekerjaan atau pergaulan sehari-hari, mengonsumsi podcast adalah solusi praktisnya.

Jika Anda adalah kreator konten atau perusahaan yang sedang menjalankan strategi marketing konten, pasti Anda tidak ingin melewatkan potensi podcast yang pertumbuhan pendengarnya menggiurkan ini.

Cara Menulis Skrip Podcast

Membuat sebuah pertunjukan podcast memang lebih sulit dibanding sekadar menulis artikel, tetapi jelas jauh lebih mudah dari membuat video.

Kita tidak perlu menyiapkan lampu atau pencahayaan seperti dalam produksi video. Siniarwannya juga tidak usah mandi dulu, berias, atau memilih pakaian untuk tampil. Keuntungan yang lebih signifikan adalah, dia tidak usah repot-repot memikirkan gestur tubuh dan menghafal skrip. Jadi bisa dipastikan, pembuatan podcast jauh lebih mudah, murah, dan cepat dibanding produksi video.

Untuk peralatannya, kita cukup menggunakan ponsel pintar atau laptop dengan mikrofon eksternal. Setelah itu, pengeditannya juga hanya perlu program sederhana. Kami menyarankan Audacity sebagai software yang gratis dan andal.

Bagaimana dengan podcast script? Bagaimana cara menulis naskah siniar? Masalah ini pun sebenarnya tidak sepelik penulisan skenario audiovisual. Ada tiga model skrip podcast:
  1. Model Kerangka. Ini yang paling sederhana, ditulis di telapak tangan sebagai sontekan pun bisa. Akan tetapi, model ini justru disarankan hanya untuk podcaster tingkat mahir atau pembicara yang sudah berjam terbang tinggi. Sebab, naskahnya hanya berupa poin-poin penting apa saja, tanpa detail kalimat. Podcaster-lah yang akan berimprovisasi mengembangkan kata-katanya sendiri.
  2. Model Artikel. Tahukah Anda, berita atau artikel biasa yang dibaca atau dilisankan pun dapat menjadi podcast bila direkam. Sebab, jenis tulisan tersebut biasanya sudah berisi kalimat-kalimat yang terperinci dan beralur. Jadi, kalau memang terbiasa dengan artikel, silakan menulis naskah podcast dengan model begini. Hanya, pastikan podcaster mampu membaca dengan intonasi orang berbicara, bukan seperti orang membaca.
  3. Model Skenario Profesional. Ini penulisan podcast yang paling rumit, tetapi dalam level profesional dan melibatkan banyak pekerja kreatif mungkin diperlukan. Akan ada rambu-rambu skenario di dalamnya. Anda harus detail menentukan Scene, Character, Dialog, Sound Effect, Voice, Music, dan sebagainya. Maka supaya tidak repot, kami menyarankan menggunakan peranti-peranti lunak khusus penulisan skenario, seperti Celtx.
Untuk penulisan podcast model kedua dan ketiga, pastikan Anda memeriksa kembali kata-katanya. Ingat, Anda menulis untuk telinga. Menulis untuk didengar tidak sama dengan menulis untuk dibaca atau ditonton.

Beberapa tip penulisan naskah podcast ini mungkin berguna:
  1. Hindari kata-kata yang Kaku ketika Dilisankan. Gunakan kalimat, "Saya pemilik mobil ini." Bukannya, "Saya adalah pemilik mobil ini." Kata "adalah" umumnya buat bahasa tulis. Baku, tetapi menjadi kaku saat diucapkan.
  2. Tulis dengan Singkat-Padat-Jelas. Naskah harus to the point, bahkan lebih ringkas, padat, dan jelas dibanding penulisan artikel atau berita. Sekali mendengar, orang harus langsung paham. Meskipun sifat podcast bisa diputar ulang, tidak seperti radio yang hanya lewat sekali. Namun, selalu asumsikan bahwa pendengar Anda orang sibuk yang malas me-rewind bila ada informasi yang terlewat. 
  3. Telinga Harus Paham. Ini terutama untuk podcast fiksi. Podcast tidak memiliki detail seperti cerpen atau novel, dan tidak mengandung visualisasi seperti komik atau film. Jadi, jangan menulis skrip dialog, "Sheila: (berpikir keras)." Telinga pendengar pasti tidak paham. Orang biasanya diam ketika berpikir keras. Problemnya, kalau tokoh Sheila diam, dari mana pendengar tahu dia sedang berpikir keras? Salah-salah, pendengar menganggap tokoh Sheila sedang tidur, melamun, atau bahkan sudah pergi. Maka, coba kembangkan aktivitas “berpikir keras” ini dengan sesuatu yang dapat didengar. Misalnya, "Sheila: Ng... apa yaaaa? Hm, enaknya..." Secara estetika, dialog itu seperti tidak berguna, tetapi secara fungsi cukup untuk membuat pendengar tahu bahwa Sheila sedang berpikir keras. Namun, jangan seperti di sinetron-sinetron, yang tokoh-tokohnya dibuat mengomel sendiri dengan kalimat-kalimat yang utuh.
  4. Bacalah Keras-keras. Jangan membaca naskah podcast yang sudah jadi hanya dalam hati atau dengan bergumam. Namun, tidak perlu berteriak-teriak juga. Bacalah dengan volume suara dan intonasi normalnya orang berbicara. Metode ini selalu efektif. Nanti telinga Anda akan mendengar sendiri kalimat atau kata mana yang perlu diganti, dikembangkan, atau justru dihapus. Sehingga, Anda pun bisa melakukan swaediting sebelum sesi perekaman.
Demikian penjelasan singkat mengenai podcast, terutama cara menulis naskah podcast. Selamat berkarya!



Tulisan: Brahmanto Anindito, podcaster Kanal Siniar "Secangkir Espreso Braindito" (bisa didengarkan di Anchor, Google Podcast, Apple Podcasts, Spotify, dll.)

Comments