Ciuman Mesra, Apa Untungnya

Sunday, June 15, 2014

Ciuman Mesra, Apa Untungnya


Ciuman mesra
Ciuman mesra

- Oleh Ihsan Maulana

Mumpung belum masuk bulan suci Ramadhan, saya ingin menulis sesuatu yang rada menggerahkan. Tentang ciuman mesra. Karena kalau menulisnya pada Bulan Puasa, bisa-bisa kacau konsentrasi saya, hehehe. Atau, setidaknya, saya tidak ingin mengacaukan konsentrasi pembaca yang ingin khusyu’ berpuasa.

Tapi memang, ada sesuatu yang membuat saya penasaran soal cium-ciuman yang mesra ini.

Beberapa kali, saya memperhatikan film romansa Indonesia jadul yang mengandung adegan berciuman. Maksud saya, ciuman mesra, mendalam, bibir ke bibir, bukan ciuman selintas atau kecupan-kecupan. Pada saat melakukan ciuman mesra tersebut, hampir selalu si wanita dan si pria memejamkan mata. Seingat saya, memang semua ciuman begitu. Ini di film-film lho, bukannya saya menyaksikan sendiri live di depan mata.

Seolah-olah, syarat sebuah ciuman mesra adalah merem! Tahukah Anda, mengapa harus begitu? Saya sendiri tidak tahu. Apakah dengan memejamkan mata, ciuman Anda bisa jadi lebih mesra? Lebih dahsyat? Lebih menggelora?

Setidaknya, itulah pertanyaan-pertanyaan yang langsung melintas di benak saya. Meskipun pertanyaannya terkesan iseng dan usil, tapi saya serius mencari jawabannya. Hehehe, harus begitu dong!

Wawancara kecil-kecilan seputar ciuman mesra

Saya lalu mewawancarai 10 wanita dari berbagai latar belakang tentang memejamkan mata saat berciuman mesra ini. Empat orang adalah para mahasiswi, empat orang wanita karir, dan dua orang lainnya adalah ibu rumah tangga. Menurut pengakuan mereka, mereka semua sering berciuman dengan pasangannya.

Inti wawancara santai itu adalah mencari jawaban dari dua pertanyaan. Pertama, apakah mereka selalu memejamkan mata saat berciuman mesra? Pertanyaan kedua, lebih suka berciuman mesra sambil melek atau sambil merem? Sori, tidak ada opsi “sambil merem-melek”, hahaha.

Nah, hasilnya, jawaban dari pertanyaan pertama adalah tidak selalu. Enam orang menjawab ini, lainnya menjawab selalu. Untuk pertanyaan yang kedua, secara aklamatif para perempuan responden saya menjawab lebih menyukai memejamkan mata saat berciuman mesra.

Tambah penasaran saja saya. Kenapa lebih suka merem?

Muncullah jawaban-jawaban awam dari bibir mereka, seperti, “Ya lebih enak aja.” Atau, “Biar menghayati.” Dan sebagainya. Jawaban yang lebih ilmiah, kemudian saya dapati dari beberapa sumber di internet. Katanya, wanita memejamkan mata ketika berciuman mesra itu karena sensasinya cenderung lebih indah, nyaman, dan merasa secure (aman).

Ingat, wanita bukan makhluk visual, bukan seperti pria yang apa-apa harus dilihat dulu. Dengan bahasa yang mungkin sedikit kasar, wanita itu tidak secabul pria. Jadi, ketika wanita memejamkan mata saat berciuman mesra, mereka akan merasa “pemandangannya” jauh lebih baik dari keindahan yang terlihat oleh retina matanya. Di samping itu, mereka akan merasa lebih nyaman, aman dan intim dengan memejamkan mata.



Dan untuk menghargai momen itu, maka seorang pria pencium hendaknya juga memejamkan mata saat melakukan ciuman mesra. Supaya sama-sama menikmati, dan salah satu pihak tidak merasa sedang diamati oleh pasangannya ketika berciuman. Intinya, supaya tidak ada rasa canggung di antara kedua belah pihak. Dan supaya tercipta suasana “dunia hanya milik kita berdua”. Lagipula...

Ciuman mesra (yang benar) itu menenangkan

Berbie Siegel, seorang dokter bedah yang berpraktik di Amerika Serikat, pernah melakukan sebuah penelitian kecil tentang manfaat ciuman mesra secara medis di sebuah kota kecil di Prancis. Objeknya adalah sekolompok suami yang bepergian ke kantor dengan mobil.

Mereka dibagi dalam dua kelompok: kelompok suami yang selalu dicium oleh sang istri sebelum berangkat ke kantor dan kelompok suami yang tidak pernah dicium dengan mesra sebelum berangkat ke kantor. Hasilnya, kelompok suami yang dicium istrinya sebelum berangkat ke kantor memiliki risiko kecelakaan mobil yang lebih kecil.

Penelitiannya yang lain adalah tentang orangutan yang disusui oleh induknya pada lingkungan yang tidak steril, dibandingkan dengan orangutan yang diasuh oleh manusia di laboratorium yang steril. Ternyata, orangutan yang disusui induknya memiliki kekebalan tubuh yang lebih baik daripada orangutan yang diasuh manusia.

Hal ini menjadi bukti bahwa ciuman dan kemesraan sangat berpengaruh dalam membentuk ketahan diri dan ketenangan bagi yang dicium. Maka anjurannya sangat jelas, terutama bagi Anda yang sudah menikah, sering-seringlah melakukan ciuman mesra dengan pasangan!

Meskipun sebenarnya saya masih bertanya-tanya, bagaimana ya nasib para istri yang mencium mesra para suaminya sebelum berangkat kerja? Apakah mereka juga memiliki risiko kecelakaan yang lebih kecil di lingkungannya? Dan pula, bagaimana induk orangutan yang menyusui si anak, apakah ia lebih kebal karena menyusui?

Jangan-jangan yang “diuntungkan” hanya si pria dan si anak. Hm....

0 comments :

Post a Comment

Butuh artikel-artikel semacam ini? Atau, punya ide membuat buku tetapi kurang bisa menulis? Tidak sempat? Kami bersedia membantu menuliskannya secara profesional. Kami juga menyediakan jasa editing tulisan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.