Sudah Tepatkah Cara Kita Mendidik Anak?

Monday, January 5, 2015

Sudah Tepatkah Cara Kita Mendidik Anak?


Quality time bersama keluarga
- Oleh Ino Permana

Saya pernah mengikuti acara milad YDSF di Convention Hall WTC, Surabaya. Yang menarik adalah pembicaranya. Dua orang sekaligus yang menyampaikan materinya bergantian, sambil keliling ke sana-kemari. Persis rapper yang saling sahut-sahutan.

Sayang, saya datang terlambat. Ketika saya datang, layar sedang mempertontonkan sebuah film tentang anak-anak seumuran TK sedang bertanding sepakbola. Yah, namanya anak-anak TK, main bolanya tendang sana tendang sini tak tentu arah.

Waktu turun minum, pelatihnya dengan bersemangat sambil membawa position board menerangkan si A dan B menjadi winger, si C dan D menjadi center back, dst. Terakhir, pelatih bertanya kepada pemain-pemainnya, “Mengerti apa yang saya katakan?”

Mereka geleng-geleng. Hahaha ….

Yang dicoba disampaikan oleh pembicara seminar itu adalah, kadang-kadang para pemimpin begitu menggebu-gebu menerangkan misi perusahaannya. Namun gara-gara tidak pintar memilih kata, para bawahannya gagal memahaminya.

Begitu juga dalam berkeluarga. Misalnya Anda adalah seorang kepala keluarga, apakah Anda pernah mengomunikasikan pada anggota keluarga mau dibawa kemana keluarga ini?

Jangan-jangan sebagai orangtua, kita hanya menghabiskan waktu untuk mencari nafkah? Tidak ada waktu untuk bekomunikasi dengan anak, memberikan semangat, memberikan pandangan tentang hidup yang bakal dihadapi.

Apakah kita ingin membesarkan anak-anak seperti air mengalir? Tiba-tiba, anak kita sudah masuk SD. Tiba-tiba, masuk SMA. Tiba-tiba, sudah lulus kuliah. Tiba-tiba, sudah menikah. Tiba-tiba, sudah punya cucu. Tiba-tiba, nyawa kita sudah mau diambil malaikat.

Hidup ini sangatlah pendek, Sobat.

Ada teman saya yang orangtuanya tidak ada waktu untuk mengobrol enak dengan si anak. Orangtua sibuk banting tulang untuk membiayai hidup seluruh keluarga. “Demi masa depan anak juga,“ katanya.

Orangtua pulang sampai rumah jam sembilan. Gara gara capek dan bete dengan masalah pekerjaan, di rumah kerjaannya maraaaaah terus. Setiap hari, ini yang terjadi. Mood orangtua yang kecapekan kerja selalu tidak bagus. Kalau orangtua mood-nya lagi bagus, tapi si anak mood-nya lagi jelek, orangtua menganggap si anak tidak hormat. Repot!

Ada juga cerita seorang teman yang orangtuanya tak pernah peduli dengan prestasi anaknya, sebagus apapun itu. Mereka tidak pernah memberi pujian. Awas, anak yang tidak pernah mendapat pujian di rumah, akan mencari pujian-pujian itu di luar.

Pernah dengar kisah nyata Ny. Ani yang membunuh ketiga anaknya sendiri?

Kalau belum akan coba saya ceritakan sedikit. Ani adalah lulusan institut terkenal di Indonesia dengan IPK hampir 4. Lahir dari yang ilmu agamanya kuat. Tapi selama hidupnya, Ani tidak pernah sekalipun dipuji oleh ibunya. Apa pun yang dia buat, sehebat dan sebaik apapun, tidak pernak dipuji.

Dia belajar mati-matian untuk mendapat pujian dari ibunya, sehingga lulus kuliah cum laude. Tapi apa kata ibunya? "Gitu aja, semua orang juga bisa."

Karena dikata-katai seperti itu, Ani panas. Setelah lulus kuliah, dia tidak bekerja. Dia melanjutkan S2-nya di perguruan tinggi top itu lagi. Hasilnya? Lulus dengan IPK 4,0!

Apa kata ibunya? Sekali lagi, "Kalau segitu sih, biasa."

Masya Allah. Ada ya ibu yang kayak gitu?

Setelah menikah, Ani dikaruniai tiga orang anak. Seumur SD, TK dan terakhir masih bayi. Karena dia memang ditempa oleh orangtuanya dengan cara yang tidak tepat, terekamlah cara itu di alam bawah sadarnya. Cara Ani mendidik anak-anaknya jadi persis seperti ibunya mendidik dia! Meskipun dia sering sadar kalau cara tersebut keliru.

Suatu ketika sewaktu melamun di rumah, mulailah setan berbisik, "Sebelum ketiga anakmu menjadi korban dirimu sendiri, seperti dirimu menjadi korban ibumu, mumpung mereka belum besar, lebih baik selamatkan mereka. Bunuh anak-anakmu! Daripada mereka tersiksa sepertimu.”

Ani terpengaruh. Dia ingin membunuh ketiga buah hatinya. Percobaan pertama dipergoki oleh suaminya, sehingga gagal. Percobaan kedua dipergoki oleh pembantunya. Gagal maning, gagal maning.

Hingga akhirnya yang ketiga. Waktu itu, suaminya ada panggilan tugas luar kota. Pembantunya disuruh beli sesuatu di tempat jauh.

Ani mengawalinya dari anak yang paling lemah, yaitu anak bayinya. Anak ketiga itu dikasih makan sampai kenyang. Setelah kenyang, dibelai-belainya agar tertidur. Setelah tidur, Ani mengambil bantal seraya berkata, "Tunggu Ibu di surga ya, Nak."

Dengan dingin, bantal itu dibenamkan menutupi wajah si bayi. Anak lucu itu pun tidak bergerak lagi.

Anak kedua pulang dari TK, sekitar jam 9. Disuruhnya anak itu cepat tidur, padahal belum waktunya untuk tidur. Modusnya serupa. Dengan bantal. Begitu juga si sulung.

Dan akhirnya, terbongkarlah pebuatan Ani. Untung bagi Ani, waktu polisi menanyai si suami apakah dia mau menuntut istrinya, pria itu menggeleng. Karena dia tahu benar keadaan psikis istrinya.

Ngeri, kan? Makanya, jangan sampai anak-anak kita menjadi Ani-Ani yang lain. Perlakukanlah mereka dengan lembut, penuh perhatian. Ajarilah mereka tentang kebaikan, tentang tujuan hidup. Jangan hanya main perintah dan menuntut saja.

Jangan sampai pula seperti cerita salah seorang teman saya yang orangtuanya sering mengatakan tanpa sadar, "Mestinya aku ngajari kamu dari kecil, sekarang sudah terlambat.”

Ayo, hampiri anak Anda sekarang juga. Lalu cium keningnya dan katakan untuk bersedia menjadi temannya dan meluangkan waktu lebih lama untuknya.

0 comments :

Post a Comment

Butuh artikel-artikel semacam ini? Atau, punya ide membuat buku tetapi kurang bisa menulis? Tidak sempat? Kami bersedia membantu menuliskannya secara profesional. Kami juga menyediakan jasa editing tulisan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.