Bentakan, Jurus Praktis Mengontrol Anak

Monday, December 14, 2015

Bentakan, Jurus Praktis Mengontrol Anak


- Oleh Arta Nusakristupa

Sebagai orangtua, terkadang kita sumpek melihat kelakuan balita kita. Mereka seperti bergerak semaunya dan tidak mengindahkan pesan-pesan kita. Sementara pekerjaan menumpuk dan melelahkan. Maka keluarlah bentakan itu. Sepintas, metode ini memang tokcer. Anak jadi diam seketika dan langsung menurut. Tapi, pernahkah Anda berpikir dampak jangka panjangnya?

Kecil kemungkinan anak di bawah usia 10 tahun melawan atau membalas bentakan Anda. Namun, terasa sekali bukan, aksi membentak itu merenggangkan ikatan batin dengan si buah hati. Di samping itu, ini yang akan terjadi:
  1. Anak tumbuh menjadi sosok yang minder dan penakut mencoba hal-hal atau keputusan-keputusan baru. Dia akan selalu takut salah dan bimbang.
  2. Anak menjadi pemarah, egois, dan judes. Bila ada hal yang tidak berkenan di hatinya, dia cenderung agresif dan memarahi temannya.
  3. Anak memilki sifat menantang, keras kepala dan suka membantah nasehat atau perintah orangtuanya.
  4. Anak tumbuh menjadi pribadi yang tertutup, takut mengutarakan sesuatu karena takut dipersalahkan.
  5. Anak menjadi apatis, tidak peduli dengan lingkungannya. Buat apa dia peduli, mengurusi diri sendiri saja untuk menjadi “benar” masih terasa berat baginya.
Seorang anak akan meniru apapun perilaku orangtuanya dalam mengatasi sebuah problem. Anak yang terbiasa dibentak, diomeli, atau dimarahi, akan percaya bahwa dia juga sah-sah saja berkomunikasi dengan bentakan, omelan, atau kemarahan. Jadi, suatu saat dia menghadapi masalah dengan orang lain, misalnya temannya di sekolah, dia akan membentak, mengomel, dan marah.

Ini akan menimbulkan konflik dalam pergaulannya. Pilihannya si anak dua: menjadi agresif atau pecundang. Atau yang lebih parah, menjadi keduanya! Jika dia cukup “kuat”, dia akan menjadi pribadi yang agresif. Namun jika dia kalah “kuat” dengan teman-temannya, dia akan menjadi pribadi yang pecundang.

Ada seorang ibu yang mengaku sering memarahi dan membentak anaknya. Lalu, ibu itu menyaksikan sendiri, sang anak jadi kurang berani melawan anak yang mengganggunya. Ibu itu sebenarnya geram melihat anaknya sering dibuli anak lain. Tapi mau bagaimana lagi, karakter si anak sudah terlanjur terbentuk.

Tahukah Anda, penelitian Lise Gliot menyimpulkan bahwa pada tahun-tahun awal kehidupan anak (masa golden age), suara keras yang keluar dari orangtua dapat menggugurkan sel otak yang sedang tumbuh. Tapi pada saat ibu sedang memberikan belaian lembut sambil menyusui, rangkaian otak menjadi terbentuk indah.

Penelitian ini dilakukan terhadap anak Gliot sendiri dengan memasang kabel perekam otak yang dihubungkan dengan monitor. Terlihat di layar, ketika anak sedang menyusu, terbentuk sebuah kombinasi yang indah dari gelombang otaknya. Namun ketika dia mendengar suara keras, rangkaian indah tadi menggelembung seperti balon, lalu pecah berantakan dan berubah warna.

Gliot menambahkan bahwa marah yang ditujukan terhadap anak juga akan mengganggu fungsi organ penting dalam tubuh. Bukan hanya otaknya yang terganggu, melainkan juga hati, jantung, dan lainnya. Pada gilirannya, kecerdasan emosional si anak tidak berkembang optimal.

Saya sendiri, terus terang, dulu pernah kelepasan. Karena kondisi yang sangat lelah dan frustrasi, tingkah si kecil yang tidak biasanya saat itu, saya membentak. Namun, setelah saya tahu dampak negatif akibat membentak anak pada masa golden age, apalagi kalau itu dilakukan berkali-kali, akhirnya saya putuskan menahan diri setiap kali “tergoda” untuk membentak anak.
  • Saya memilih diam dulu, saat tahu saya akan marah besar.
  • Ambil napas, lalu berdoa minta ketenangan dan petunjuk kepada Tuhan.
  • Selesaikan tanpa melibatkan kalimat yang panjang dan berulang-ulang (mengomel atau menggurui). Usahakan kalimatnya singkat, padat dan jelas, sehingga anak tahu kesalahannya dan bersedia meminta maaf.
  • Akhiri dengan pelukan dan ucapan, “Mama/Papa sayang kamu.” Sehingga, dia tahu marah saya itu pertanda sayang dan perhatian, bukan karena saya membencinya.
Intinya, mari tanamkan kasih sayang (tapi bukan memanjakannya) pada anak. Jangan membiasakan diri untuk mengendalikan perilaku si buah hati dengan teror dan kekerasan. Utamakan dialog. Karena masa depan anak Anda sangat dipengaruhi oleh bagaimana Anda mendidiknya pada usia 1-10 tahun.

0 comments :

Post a Comment

Butuh artikel-artikel semacam ini? Atau, punya ide membuat buku tetapi kurang bisa menulis? Tidak sempat? Kami bersedia membantu menuliskannya secara profesional. Kami juga menyediakan jasa editing tulisan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.