Bagaimana Menolong Orang yang Tenggelam

Saturday, April 9, 2016

Bagaimana Menolong Orang yang Tenggelam


Bagaimana Menolong Orang yang Tenggelam
- Oleh Ino Permana

Sobat, tahukah Anda bagaimana keadaan orang yang sedang tenggelam? Dia orang yang sibuk. Sangat sibuk! Dia tidak memperhatikan hal-hal lain, selain keselamatannya sendiri. Orang itu sedang berjuang demi nyawanya sendiri. Memikirkan permasalahannya sendiri. Kalau Anda sapa, dia pasti tidak menghiraukan. Anda tawari steak yang lezat sekalipun, dia takkan merespon.

Begitu pula konsumen di zaman yang serbacepat dan keras ini. Dengan begitu banyaknya iklan yang datang mengepung kita setiap saat, dari internet, televisi, surat kabar, majalah, radio, baliho sepanjang jalan, dan sebagainya, mereka bergeming. Mereka taakn peduli dengan penawaran Anda.

Kecuali! Ya, kecuali bila Anda melemparkan ban pelampung, tali, atau apapun yang dapat menyelamatkannya dari ketenggelaman tadi. Kecuali bila Anda menawarkan solusi bagi permasalahan yang sedang dideritanya. Menawarkan obat bagi kesakitannya selama ini.

Bisa jadi permasalahan yang membuat mereka tenggelam bukan masalahnya sendiri, melainkan masalah keluarganya, saudaranya, sahabatnya, atau orang lain yang dikasihinya. Banyak sekali hal yang bisa membuat orang tenggelam dan semakin tenggelam. Itulah yang harusnya Anda pecahkan!

Setiap bisnis atau produk memang harusnya adalah sebuah solusi, bukan? Misalnya, Anda membuka rumah makan. Perhatikan, bahwa bisnis itu adalah solusi bagi permasalahan orang-orang yang tidak bisa memasak, ingin merasakan suasana dan variasi makanan yang berbeda, dan sebagainya.

Jadi, Sobat, setiap kali Anda berencana membuat iklan di brosur, koran, atau apapun, komunikasikan dengan baik. Komunikasikan bahwa produk yang Anda tawarkan adalah problem solver, obat, penolong bagi khalayak yang kebetulan sedang “tenggelam”.

Hanya itulah satu-satunya jalan untuk memperoleh perhatian mereka. Karena orang-orang yang sedang tenggelam tidak akan memedulikan tawaran yang tidak ada kaitannya dengan mereka.

Saya tidak bicara keselamatan soal nyawa belaka. Nanti ditafsirkan bahwa kita harus berbisnis produk-produk sandang, pangan, dan papan. Tidak. Tidak harus kebutuhan-kebutuhan dasar seperti itu. Orang yang gengsi mengendarai Avanza saat kawannya mengendarai CRV pun bisa dikatakan sedang “tenggelam”.

Nyawanya takkan terancam jika mobilnya tetap Avanza. Tapi, gengsinya yang sedang megap-megap di dalam air dan tidak bisa bernapas. Orang-orang seperti ini juga membutuhkan “ban pelampung” atau “tali” untuk menyelamatkannya. Maka, jeli-jelilah melihat kebutuhan konsumen.

Jika Anda tidak siap menemukan dan menolong calon konsumen yang sedang “tenggelam”, percayalah, takkan ada yang akan membeli produk Anda. Dan persiapkanlah mental untuk melihat brosur-brosur Anda semakin banyak yang bersarang di tempat sampah.

0 comments :

Post a Comment

Butuh artikel-artikel semacam ini? Atau, punya ide membuat buku tetapi kurang bisa menulis? Tidak sempat? Kami bersedia membantu menuliskannya secara profesional. Kami juga menyediakan jasa editing tulisan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.