[HUMOR] Benhur Ingin Rujuk dengan Eling



[HUMOR] Benhur Ingin Rujuk dengan Eling

Walaupun sudah puluhan tahun menikah, kelakuan Benhur Deniro dan Eling Sulwaesi sungguh seperti anak muda saja. Kakek-nenek itu sering berantem, dan lucunya, sampai ngambek-ngambekan. Seperti pekan lalu, mereka beradu mulut hanya gara-gara masalah piring kotor yang dijilati tikus. Ujung-ujungnya, Eling minggat dari rumah. Pisah ranjang, dalam arti harfiah. Dia menginap di rumah anaknya yang berjarak hanya dua kilometer.

Benhur tahu itu, tetapi membiarkannya, karena dia sendiri juga jengkel.

Namun, jalan seminggu, Benhur mulai kesepian di rumah. Dia lalu menelepon ke rumah anaknya. Kebetulan, yang menerima telepon tersebut adalah istrinya sendiri.

“Apaaa?” semprot perempuan baya itu.

Terbata-bata, Benhur pun berterus terang. “Say… pulang, dong, Say. Aku minta maaf. Mau balikan.”

“Astaga, sudah bau tanah, gaya ngomongnya masih kayak ABG gini. Obat penurun hipertensi sudah diminum, Mbah?”

“Sudah, Say,” jawab Benhur. “Tuh, kan, masih perhatian. Rujuk, yuuuukk….”

Eling terdiam beberapa saat. Lalu, “Di dekatmu ada gelas?"

“Hah, gelas? Nggak ada. Kenapa?”

“Kalau begitu, pergi ke dapur. Ambil gelas sekarang… gelas apa saja!”

Benhur sebenarnya malas. Selain itu juga bingung, untuk apa dia harus mengambil gelas dalam kondisi seperti saat ini. Namun, demi mengambil hati kekasih lawasnya itu, diletakkannya gagang teleponnya dan dia pergi ke dapur.

Selang satu menit, Benhur sudah kembali. “Sudah kuambil, ini gelas sembarangan. Ada apa, memangnya, dengan gelas?”

“Sekarang,” kata Eling, “banting gelas itu ke lantai.”

“Heh, kamu ini aneh…”

“CEPETAAAAN…!!”

“Iya, iya…” sahut Benhur. Lantas terdengarlah suara gedebuk dan kelontangan. “Sudah! Puas? Terus, apa lagi yang dibanting? Piring?”

“Sekarang kembalikan gelas itu jadi utuh seperti semula,” perintah Eling. “Nggak mungkin, kan? Begitu juga hatiku. Sudah kadung berkeping-keping, Mbaaaaah….”

Benhur termenung beberapa saat. Lalu, dia mengambil gelas yang sudah dibantingnya tadi. Dibolak-baliknya gelas itu. “Ini gelasnya masih utuh, kok. Aku tadi ambil gelas plastik.”

Sontak, wajah Eling memerah. Analoginya tidak berhasil. Metaforanya gagal total. Ah, dia memang tidak pernah bisa terlihat keren di depan suaminya itu. “I-iiiiih.... ya sudah, ya sudah! Besok, jemput aku!” sergahnya jengkel, sembari langsung menutup telepon.

Di seberang, Benhur pun cengar-cengir penuh kemenangan.

Comments