Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

[Humor] Kentang Terpaksa Infak

Kehidupan di Desa Wufi

Hari itu Jumat. Sebagaimana biasa, para muslim di sekitar Dusun Jawufi Jumatan di Masjid Jami Al-Wufi. Termasuk Kentang Ketintang. Pemuda 21 tahun itu tampak tenang menyimak khutbah sambil duduk bersila. Sebuah kotak amal lalu bergeser ke arahnya. Kentang membuka dompetnya dan memilih-milih uang untuk diinfakkan.

Lama, ia berpikir, sambil memelintir-melintir uang di dompetnya. Akhirnya, ia cuma memasukkan selembar 5.000-an. Ingin sekali ia menyumbang 20.000, atau 50.000 seperti bapak di sebelah kirinya. Namun, apa daya, uang di dompetnya hanya tersisa empat lembar uang lima ribuan.

“Aku beli apa aja, kok, isi sisa segini?” batinnya dengan kening berkerut. "Perasaan, kemarin barusan ambil dari ATM."

Sebelum Kentang menggeser kotak itu ke kanannya, seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Kentang menoleh. Ternyata, itu Ireng Klentheng. Tanpa bicara, bocah berumur 9 tahun itu menaruh selembar uang 100.000 ke pangkuan Kentang.

Hah? Maksudnya apa? batin Kentang. Ingin sekali ia menghardik bocah badung itu. Gaya banget! Infak 100 ribu aja enggak mau masukin sendiri, malah dititipkan orang lain. Biar orang lain pada tahu, gitu? Kecil-kecil udah pinter pamer!

Namun, Kentang ingat pesan Ustaz Razad, bahwa ketika khatib Jumat sedang berkhutbah, jemaah tidak boleh berbicara. Maka, ia diam saja meskipun geregetan setengah mampus. Sambil menahan dongkol, Kentang melipat uang pemberian Ireng memasukkannya ke lubang kotak amal.

Setelah Salat Jumat selesai, baru Kentang menghampiri Ireng yang sedang membuka kunci sepedanya di pelataran parkir Masjid Jami Al-Wufi. “Hei, Reng! Kamu lagi banyak duit, hari ini?”

“Banyak duit gimana, Mas?” Ireng terlihat tidak paham.

“Lah, tadi! Tumben-tumbennya kamu infak seratus ribu. Biasanya, kepengin beli bakso Pak Ardi aja utang aku dulu. Kalau memang lagi banyak duit, sini, utangmu yang minggu lalu lunasi dulu!”

Ireng mengerutkan dahi. “Lo, itu bukan duitku, Mas….”

“Hah?”

“Seratus ribu tadi, kan? Bukan punyaku!”

“Terus, kenapa kamu sembarangan kasih ke aku tadi? Ya bukan salahku kalau langsung kumasukkan kotak amal.”

Ireng tertawa menyengir. “Baguslah kalau dimasukkan kotak amal. Alhamdulillaaaah....”

Melihat cengar-cengir Ireng, perasaan Kentang mulai tidak enak. “Emang, seratus ribu itu duit siapa?”

“Duit sampeanlah! Tadi, pas sampean ambil dompet, jatuh. Kuambil, terus kukembalikan ke sampean!”

“Lah, geblek!” Kentang mendelik baru sadar. Ia menggaruk-garuk rambutnya dengan kasar. “Kenapa tadi enggak ngomong, siiiih?”

“Kan, kalau khatib sedang khutbah, kita emang enggak boleh ngobrol, Bang. Ini Ustaz Razad, lo, yang bilang.”

Kentang spontan memelotot dengan wajah memerah.

Melihat gelagat buruk, Ireng buru-buru menggowes sepedanya menjauh dari masjid desa itu.

Post a Comment for "[Humor] Kentang Terpaksa Infak"