[Humor] Klinik Bergaransi Uang Kembali 2x Lipat
Kentang Ketintang kehabisan uang. Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Infrastruktur Hijau itu baru saja menguras tabungannya untuk membayar SPP Universitas Wufi. Ia sudah mencoba melamar pekerjaan di Jawufi, sentra bisnisnya Desa Wufi, tetapi selalu ditolak. Akhirnya, Kentang memutuskan membuka klinik abal-abal.
Unik juga. Di papan depan rumahnya yang sekaligus tempat praktiknya, ia menulis, “Dapatkan obat penyakit apa saja dengan membayar 100.000. Dijamin tokcer! Jika tidak tokcer atau tidak mampu menyembuhkan, kami beri Anda 200.000.”
Dokter Gombloh Mukio yang melihat plang itu saat pulang dari Puskesmas Wufi merasa ada yang tidak beres. Sejak kapan Kentang mengantongi izin praktik klinik? Muncullah sebuah ide untuk mengerjai mahasiswa 21 tahun itu.
“Siapa tahu dapat dua ratus ribu rupiah,” pikir dr. Gombloh. "Sekalian kasih pelajaran. Dikiranya bisa seenak jidatnya menjadi dokter!"
Maka bermodal Rp100 ribu di dompet, ia pun masuk ke klinik tersebut sebagai pasien.
“Lidah saya tidak bisa merasakan apa-apa lagi, Mas Kentang. Mohon obatnya,” keluhnya.
Kentang mengangguk-angguk. “Tela, tolong ambilkan botol obat nomor 13 dan berikan lima tetes ke Dokter Gombloh, pasien kita. Mungkin beliau ini mau mengetes kemampuan pengobatan kita.”
Tela Nirmala, adiknya, melakukan apa yang diperintahkan.
Buru-buru ingin membuktikan bahwa pengobatan Kentang tidak berkhasiat, Gombloh langsung meneteskan obat itu ke mulutnya. Spontan, ia mengecap-ngecapkan mulutnya dan meludah-ludah. “Sialan! Ini bensin! Kamu kasih aku minum bensin, Tang? Mau bunuh aku, ya!”
“Nah, selamat! Lidah Anda sudah bisa mengecap kembali. Tokcer, to? Biayanya 100 ribu, Pak Dokter.”
Gombloh ingin marah, tetapi sulit membantah. Ia pun terpaksa membayar Kentang, tetapi dalam hari, ia berjanji akan membalas.
Besok paginya, saat mau berangkat praktik di puskesmas, Gombloh mampir kembali ke klinik tersebut.
“Oh, Pak Dokter lagi?” sapa Kentang saat sang dokter masuk ke ruang praktiknya. “Ada keluhan apa kali ini, Pak?”
“Eh, siapa?" dr. Gombloh mengernyit kebingungan. "Kamu ngomong sama aku?”
“Iya, Anda. Dokter Gombloh Mukio, kan?”
“Ng… aku enggak tahu, Mas,” Gombloh memegangi kepalanya. Ekspresinya tampak linglung. “Aku… sepertinya kehilangan sebagian besar daya ingatku, Mas. Aku enggak ingat apa-apa. Bahkan namaku sendiri juga lupa. Terus, barusan aku lihat plang klinik ini dan ke sini. Siapa tahu, aku bisa sembuh di sini.”
Kentang manggut-manggut.
Mampus, kau, kali ini, Tang! tandas dr. Gombloh dalam hati.
“Baik, baik. Tela, tolong bawa obatnya....”
“Lo, langsung obat? Denyut nadi atau tensi saya tidak diperiksa dulu?” protes Gombloh.
Kentang tersenyum. “Enggak perlu, Dok. Tensi dan segala macam itu teknik pengobatan yang sudah kuno. Saya sudah tahu masalahnya, kok.”
Gombloh tidak srek dengan prosedur pengobatan asal-asalan yang diterapkan Kentang. Ini bisa berujung ke malapraktik! Namun, ia berusaha menahan diri dan meneruskan sandiwaranya.
“Tela, ambilkan botol 13, ya. Lalu, minumkan segelas ke bapak ini!”
“Botol 13?!” sang dokter spontan mendelik. Ia tidak bisa menahan diri lagi. “Tapi, botol itu isinya bensin!”
Kentang tersenyum lebar, “Waaaah, daya ingat Anda sudah pulih lebih cepat dari dugaan saya. Selamat, Anda sudah sembuh, Dokter Gombloh! Biayanya seratus ribu."
Dokter itu menahan marahnya sampai ubun-ubun. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Telah kehilangan dua ratus ribu, ia makin penasaran dengan Kentang yang membuka praktik tipu-tipu ini.
Siangnya, sepulang dari puskesmas, ia datang berobat lagi. Tepatnya, untuk membongkar praktik penyembuhan konyol ini.
“Waah, Anda ini dokter, tapi sakit-sakitan, ya?” sambut Kentang. "Tapi ya sudahlah, saya malah senang, bisa banyak pasien. Apa keluhannya kali ini, Dok?"
“Satu jam yang lalu, aku enggak bisa melihat apa-apa, Tang. Mataku, tahu-tahu hitam dan buram parah! Tolong, kalau kamu bisa, sembuhkan!” rengeknya, berpura-pura panik. “Ini biayanya. Masih seratus ribu, kan?”
Kentang menerima selembar uang merah itu. Namun, ia menghela napas panjang. “Wah, kalau ini, masalah serius, Pak Dokter. Terus terang, ilmuku belum sampai di bab kebutaan mendadak begini. Jadi, sesuai janji, silakan ambil uang dua ratus ribu ini dari saya. Ini, Pak, monggo!”
Dengan perlahan, Kentang memberi Gombloh dua lembar uang.
Gombloh menerimanya. "Akhirnya, aku berhasil memperdaya si sok tahu ini! Lumayan, balik modal!" batinnya. Lalu, ia balik badan dan diam-diam memeriksa uang itu. Bukan main terkejutnya Gombloh.
“Lo?" pekiknya spontan. "Ini, kok, lembaran sepuluh ribuan! Cuma 20 ribu, dong!”
Kentang langsung menyahut uang itu dan tersenyum. “Selamat! Penglihatan Anda sudah normal kembali, Dok. Wah, saya ternyata bisa juga menyembuhkan kebutaan!”
Gombloh pun hengkang dari klinik itu. Sambil berjalan pulang, ia terus bersumpah serapah. Tiga ratus ribu melayang hanya untuk pembuktian konyol ini.