[HUMOR] Pesangon demi Kinerja yang Lebih Baik
![[HUMOR] Pesangon demi Kinerja yang Lebih Baik [HUMOR] Pesangon demi Kinerja yang Lebih Baik](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi_3xt_6KXD7WTi7IBDoPs22sjw7V0U-RLgqbz5AlW7x7936Kar_U0izqsQetCdqN5_6lcNSfhTqFk5pxDfk-2iCZSN1nZPuXt3Sj1XZ4ToL2Ro5jOLqbKXlU5gKG-f-cUfAD-urumIMjqO/s1600/Y0UJC.png)
Dari Pulau Jawa di seberang, Pak Camat sengaja datang ke pulau terpencil ini, Noesawoefi. Ia yang terkenal garang dan tanpa kompromi hendak melakukan sidak ke Kantor Kepala Desa di Desa Wufi. Selama ini, ia mendapat laporan bahwa beberapa Aparatur Sipil Negara (ASN) di sini malas-malasan dalam melayani publik.
Terbukti, belum juga Pak Camat memasuki kantor utama, sudah terlihat seorang pria berkemeja rapi sedang duduk cengar-cengir sambil memainkan ponselnya di pendopo. Padahal, ini sudah pukul 9.23.
Wajah Pak Camat sontak merah padam. Seketika itu, ia membelokkan langkah. “Hei, kamu!” tegurnya, dengan suara agak keras.
Melihat seseorang dengan pakaian pejabat menghampirinya, karuan saja pria kerempeng itu tergagap-gagap.
“Siapa namamu?” tanya camat itu ketika mereka sudah berhadap-hadapan.
“Eh, saya Kentang, Pak,” jawab pemuda itu sambil buru-buru berdiri dan menyakukan ponselnya.
“Kentang? Berapa gajimu?”
“Hah? Gaji, Pak?”
“Iyaaaa! Berapa per bulan?” suara Pak Camat meninggi.
“Ng… tiga jutaan, Pak, kalau saya total-total,” jawab Kentang Ketintang ketakutan. Jantungnya berdebaran, entah karena apa.
Pak Camat mengeluarkan dompetnya, lalu merogoh ke dalamnya seraya komat-kamit menghitung. Beberapa detik kemudian, ia menyerahkan segepok uang seratus ribuan. “Ini gajimu untuk tiga bulan ke depan. Sembilan juta. Ambil sebagai pesangonmu!”
Kentang ternganga. “T-tapi… Pak…”
“Ndak ada tapi-tapian!” sergah camat itu geram. “Kamu dipecat! Sekarang, pulang! Dan ndak usah ngelamar-ngelamar CPNS lagi! Kapan Indonesia bisa maju kalau pelayan rakyatnya banyak yang malas kayak kamu begini?”
“S-sebentar, Pak,” ujar pemuda 21 tahun itu tersenyum kecut. “Ini bukan seperti yang Bapak sangka… Ini salah paham. S-saya… saya bisa jelaskan….”
“Halah, buang-buang waktu saja!” sahut Pak Camat, sambil melengos dan mengibas-ngibaskan tangannya. “Minggat, minggat!”
Kentang melongo. Untuk beberapa lama, ia berdiri mematung. Kaget sekali, tampaknya.
Pak Camat sendiri tidak mau tahu itu. Ia kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang kepala desa.
Di sana, ia menatap satu per satu ASN-ASN Desa Wufi yang menyalaminya dengan wajah tegang. Termasuk Kepala Desa Wufi, H. Dito Baninto, S.Sos. Mereka membentuk barisan setengah lingkaran di depan Pak Camat.
“Kalian dengar ribut-ribut di pendopo barusan?” sungut camat yang baru tahun lalu dilantik itu, tanpa salam, tanpa pembukaan. “Ini peringatan juga buat kalian! Seperti itulah nasib ASN di bawah jajaran saya yang kerjanya nyantai. Saya takkan segan-segan memberhentikan siapapun yang ndak perform. Saya peringatkan kalian, kita sedang ini disorot masyarakat dan media. Makanya, kerja… kerja… kerja!”
Seisi kantor terdiam. Mereka saling pandang. Sebagian lainnya hanya bisa menunduk.
“Oke, Pak Dito, pegawai bagian apa si Kentang tadi?” tanyanya. “Bapak harus segera menunjuk gantinya?”
Semua masih terdiam.
Merasa diremehkan anak buahnya, Pak Camat yang memang terkenal temperamental itu menggebrak meja. “KOK, DIAM?”
Pak Kades akhirnya menjawab. Meskipun dengan perasaan segan dan takut. “S-saya juga tidak kenal, Pak….”
“Lah! Piye, toh? Kades, kok, ndak tahu anak buahnya!?” cecar camat itu.
“B-bukan. Dia bukan ASN, Pak. Dia itu… pengemudi ojek online yang barusan mengantarkan dokumen proyek Desa Wufi dari rumah saya. Karena Bapak mintanya dadakan, saya tidak bawa dokumen itu. Nah, saya pesan ojol buat diantar ke sini.”
Pak Camat spontan mendelik. Buru-buru, ia keluar ruangan dan melempar pandangan ke pendopo.
Kosong! Tidak ada siapa-siapa.
Lalu, mata paniknya bergeser ke tempat parkir.
Kosong juga!
Jantung sang camat berdetak makin cepat. Matanya memelotot. Giginya gemeretak. "Sembilan jutaku...!" gumamnya geram.
Jantung sang camat berdetak makin cepat. Matanya memelotot. Giginya gemeretak. "Sembilan jutaku...!" gumamnya geram.
Post a Comment for "[HUMOR] Pesangon demi Kinerja yang Lebih Baik"
Butuh artikel-artikel semacam ini? Atau, punya ide membuat buku tetapi kurang bisa menulis? Tidak sempat? Kami bersedia membantu menuliskannya secara profesional. Kami juga menyediakan jasa editing maupun rewriting tulisan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.