Mengembalikan Muruah Media

Mengembalikan Muruah Media

Di era internet, media mengalami perkembangan pesat. Kita mengenal istilah “media konvensional” yang merujuk platform media berwujud koran, tabloid, majalah, radio, dan televisi. Sementara “media internet”, sebagaimana namanya, mencakup jenis-jenis media yang hanya bisa diakses melalui koneksi internet, tentu saja plus komputer atau gawai yang sudah dilengkapi dengan peramban (browser).

Momentum perluasan (jika tidak mau disebut dikotomi) media ini ketika Era Reformasi baru saja bergulir, sekitar dua dasawarsa silam. Saat itu, semua golongan jadi bisa memiliki media publik, karena untuk mendirikannya tidak lagi perlu izin dari Kementerian Penerangan. Era Kebebasan Pers, orang bilang.

Sekitar sepuluh tahun kemudian, kebebasan itu semakin menjadi-jadi. Bukan lagi semua golongan bisa memiliki media, berkat internet yang semakin merata, semua orang pun bisa memiliki media! Sudah banyak platform situs web atau blog gratis (yang kalau digarap serius bisa menyaingi media cetak), host audio gratis (yang kalau digarap serius bisa menyaingi radio), dan host video gratis (yang kalau digarap serius bisa menyaingi televisi).

Fenomena ini yang pada 1980 disebut sebagai prosumer oleh Alvin Toffler, seorang futuris asal Amerika Serikat. “Prosumer” sendiri adalah kata majemuk yang diambil dari “produser” dan “konsumer”, yang berarti konsumen yang membuat produk.

Prosumerisme pun melanda dunia media. Mereka menciptakan koran-korannya sendiri, atau stasiun-stasiun penyiarannya sendiri. Semua serbamudah dan bebas.

Kepercayaan terhadap Media Menurun

Kemudahan dan kebebasan ini akhirnya harus dibayar mahal. Publik jadi meragukan kualitas media. Mungkin karena redakturnya orang biasa, bahkan belum pernah menekuni bidang jurnalistik sama sekali. Mereka “hanyalah” pebisnis yang mendadak jadi kreator konten.

Jurnalisme-jurnalisme sampah pun bertebaran hingga hari ini. Cobalah cari sesuatu di Google. Anda beruntung kalau hasil pencariannya mengarah ke portal-portal yang tepercaya atau Wikipedia. Sebab kalau apes, Anda akan terperosok ke blog-blog milik pemasar internet (internet marketer) yang sekadar mengejar trafik dari kata kunci tertentu, tanpa peduli bagaimana menulis artikel yang informatif, faktual, dan nyaman dibaca.

Atau, carilah video di YouTube. Anda beruntung kalau mendapat video dari kanal media atau YouTuber profesional. Sebab kalau sial, Anda akan menonton video hasil re-upload (unggah ulang dari video orang lain, dengan atau tanpa editing tambahan), amatir, hanya berupa kumpulan foto yang digerak-gerakkan, atau kekonyolan-kekonyolan lainnya. Beberapa di antaranya dicirikan dengan suara narator yang dibuat-buat (mirip pembawa acara infotainment) atau mengulang-ulang peringatan, “Biasakan menonton sampai habis supaya tidak gagal paham.”

Banyak sekali media sampah yang kita lihat dalam sepuluh tahun belakangan.
Belum lagi penyakit akibat politik menjelang pemilu seperti sekarang. Ada media berisi hoaks, bersifat partisan, muncul dadakan, atau media besar tetapi tidak menjalankan fungsinya sebagai pilar keempat demokrasi (jarang mengkritisi, rajin memuji pemerintah), dan seterusnya.

Lengkaplah wajah bopeng media kita! Hal-hal semacam ini, sedikit demi sedikit, akan menggerus kepercayaan warga terhadap media. Terbukti dari hasil survei yang digelar pada 2018 lalu oleh World Association of Newspapers and News Publishers (WAN-IFRA), bahwa tingkat kepercayaan publik terhadap media memang terus merosot dari tahun ke tahun.

Mengembalikan Idealisme, Mengembalikan Kepercayaan

Sebenarnya, akar dari permasalahan media adalah kesejahteraan para awaknya. Mereka sejahtera, media takkan merasa perlu “melacurkan” diri. Mereka akan independen dan teguh dengan prinsip serta idealismenya.

Problem ekonomi ini terus berulang, hanya bentuknya berbeda dari zaman ke zaman. Dulu, borok itu bernama wartawan bodrex. Mereka adalah sekumpulan wartawan (atau redaktur) yang mengharap “amplop” dari narasumbernya.

Zaman sekarang, di internet, media lazim melakukan praktik clickbait atau pancingan klik. Media-media itu membuat judul-judul aneh, menyeleneh, konyol, bahkan menimbulkan emosi golongan tertentu, demi memancing banyaknya pengunjung. Kalau berita tersebut banyak yang membaca, peluang meraup untung dari iklan juga makin banyak, sehingga pemasukan pun kemungkinan makin besar.

Akibat dari trik-trik semacam ini, bukannya membuat laporan jurnalistik yang baik, mereka malah fokus memproduksi konten-konten dan judul-judul sensasional. Sekalipun konten itu tidak mengandung nilai berita, jika redaktur memandangnya berpeluang mendapat banyak klik atau pengunjung, dimuatlah konten itu. Bahkan dipromosikan melalui iklan di media-media sosial, kalau perlu!

Padahal, menurut Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (dan common sense kita), tujuan utama jurnalisme adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan audiensnya supaya mereka dapat mengambil keputusan terbaik bagi kehidupan pribadi, komunitas, masyarakat, serta pemerintah mereka.

Untuk mengembalikan jurnalisme ke tujuan asal itu, tidak mudah. Media perlu mencari sumber pendanaan lain demi menyejahterakan dirinya dulu. Jangan melulu mengandalkan fulus dari hasil penjualan, iklan, pemodal yang berafiliasi dengan partai politik (parpol), apalagi narasumber.

Menghimpun dana dari masyarakat boleh dijadikan alternatif. Beberapa institusi media di Indonesia sudah mulai menjalankan opsi penjaringan dana dari publik alias crowd funding. Mereka menghimpunnya untuk proyek liputan tertentu. Publik pun dilibatkan dalam diskusi penentuan liputan ini, sebelum ditawari skema pendanaannya.

Apa yang dilakukan oleh Google dan Facebook baru-baru ini juga menarik. Facebook, pada awal 2019 kemarin, mengumumkan akan menginvestasikan 300 juta dolar (sekitar 4,3 triliun rupiah) untuk mendukung organisasi berita lokal Indonesia. Google pada 2018 juga mengumumkan hal yang kurang-lebih serupa.

Namun, mengembalikan muruah media tidak cukup dengan kerja keras institusinya sendiri. Pembaca atau penonton pun diharapkan berkontribusi aktif. Minimal, lebih selektif dalam mengonsumsi berita. Berhentilah membagikan konten dari media-media yang terindikasi partisan (tidak netral), hoaks, penuh aura permusuhan, dan gaya bahasanya berantakan (karena itu menandakan bahwa logika orang-orang di dalamnya juga amburadul).

Jangan salah, peranan warga atau warganet ini juga sangat penting, supaya terjadi detoksifikasi alami dalam belantara konten yang sudah terlalu lebat ini. Harapan akhirnya, yang bertahan hanyalah media-media yang sehat, berdedikasi, tepercaya, dan memang kompeten di bidang penyebaran informasi.

- Tulisan: Alva Altera

Comments