Kampanye Content Marketing melalui Media Massa Konvensional

Kampanye Content Marketing melalui Media Massa Konvensional

Bagaimana mungkin kita melakukan kampanye content marketing atau marketing konten melalui media cetak atau elektronik? Media-media konvensional semacam itu jelas diproduksi oleh institusi besar yang berada di luar kendali kita selaku pemilik brand. Memang!

Namun, toh konten-konten berciri content marketing beberapa kali kita pergoki ada di media. Ciri-ciri itu seperti:
  • Kontennya berupa sesuatu yang memberi nilai lebih dan relevan bagi konsumen
  • Tujuannya untuk membangun brand dan loyalitas, bukan berjualan langsung atau mengajak orang membeli produk tertentu
  • Kontennya tidak bisa kita sebut bukan iklan, tetapi tetap menimbulkan citra positif terhadap brand tertentu
Anda mungkin melewatkannya, saking meleburnya konten-konten itu dengan konten-konten organik dari media tersebut.

Secara teori, kita memang dapat memanfaatkan media apapun untuk menyampaikan konten-konten yang menguntungkan brand atau perusahaan kita tanpa berkesan konten bayaran. Tidak peduli di harian atau surat kabar, majalah, tabloid, radio, televisi, atau lainnya.

Cara Melancarkan Content Marketing melalui Media Konvensional

Media-media konvensional selalu bekerja dalam struktur tim. Ada wartawan atau reporter, redaktur, produser, editor, dan seterusnya, tergantung jenis medianya. Normalnya, mereka bekerja secara independen, membela kepentingan publik, bukan golongan tertentu (partisan). Maka akan sangat sulit menyuruh mereka menerbitkan atau menayangkan konten yang kita mau.

Namun, bukan berarti mustahil. Dan ini tidak melibatkan strategi uang sebagai "pelicin". Lantas, melibatkan strategi apa untuk dapat menembus media?

Sederhana saja, kita berikan apa yang media mau: sesuatu yang berguna untuk kepentingan publiknya. Jadi, caranya cukup dengan memiliki ide konten, lalu menawarkannya ke media tersebut.

Karena ini media, dalam mengonsep ide konten, jangan lupa jargon yang sudah melegenda: 5W + 1H. Masih ingat?
  • Who: Siapa diri Anda sedikit banyak akan memengaruhi keputusan media bekerja sama dengan Anda.
  • What: Seberapa menarik, besar, dan unik ide konten yang Anda tawarkan
  • When: Media lebih tertarik dengan sesuatu yang baru saja terjadi, atau masih hangat, bahkan belum terjadi.
  • Where: Perhatikan audiens media itu. Kalau posisinya di Bandung, sementara konten Anda tentang Surabaya, maka kemungkinan kecil ide yang Anda tawarkan diterima. Ini prinsip kedekatan: orang akan lebih tertarik dengan sesuatu yang ada di dekatnya, karena lebih dikenalnya.
  • Why: Apa manfaat ide dari Anda bagi audiens media itu?
  • How: Bagaimana teknis kerja sama content marketing tersebut? Semakin pihak media merasa tidak repot, semakin besar peluang mereka setuju.
Semakin tinggi nilai setiap unsur 5W + 1H di atas, semakin besar kemungkinan media tersebut menerima ajakan Anda dan bekerja sama. Sekarang, waktunya membuka pintu mereka. Pintu masuk kerja sama itu dapat berupa:
  1. Proposal kerja sama. Taruhlah Anda memiliki perusahaan konsultan saham dan ada sebuah majalah investasi yang baru terbit. Kenapa Anda tidak mengirim proposal kerja sama untuk membuat rubrik khusus konsultasi saham? Rubrik itulah content marketing Anda! Setiap pekan, Anda bisa menjawab 2-3 pertanyaan dari pembacanya. Anda tidak dibayar untuk jasa itu, tetapi Anda juga tidak membayar untuk menampilkan logo perusahaan dan menunjukkan keahlian Anda di majalahnya. Barter yang saling menguntungkan, bukan?
  2. Rilis pers. Setiap perusahaan besar pasti memiliki kegiatan rutin atau kebijakan baru. Mereka pun rajin membuat laporan dalam bentuk tulisan jurnalistik yang "matang", lalu mereka kirim ke media-media. Kalau dirasa menarik, pasti Dewan Redaksi akan menindaklanjutinya. Terkadang, akan ada wartawan menghubungi narahubung perusahaan untuk menggali berita lebih dalam. Terkadang, cukup dari lembaran rilis pers itu mereka akan mengembangkannya sendiri. Namun, tidak terlepas kemungkinan, naskah rilis pers Anda dimuat persis seperti aslinya, tanpa ada kata yang ditambah dan dikurangi.
  3. Pertemanan dengan awak media. Memiliki kawan reporter, redaktur, atau produser di suatu media itu jelas menguntungkan. Melalui celetukan guyonan sambil lalu seperti, "Mbok ya koranmu sekali-sekali mengulas bukuku," saja bisa benar-benar membuat resensi buku itu muncul minggu depan di harian tersebut.
Tips terakhir, sesuaikan kapasitas Anda dengan kelas media tersebut. Bila yakin Anda dan ide Anda selevel media nasional, silakan hubungi RCTI, Kompas, Suara Surabaya FM, atau media-media besar lainnya. Namun jika sejak awal Anda merasa konten Anda belum masuk kelasnya Tempo atau Kompas, misalnya, cobalah mengincar media-media lokal dulu, seperti Radar atau Tribun.

Tips Meluncurkan Kampanye Content Marketing melalui Media Massa

Yang jelas, marketing konten bukanlah iklan atau penjualan langsung yang bisa kita harapkan hasilnya dalam jangka pendek. Maka ketika berbicara marketing konten, kita berbicara pula strategi besar dan taktik branding yang berkesinambungan.

Ini bukannya konten Anda dimuat di media lalu selesai seperti para penulis pemburu honor. Content marketing bukanlah tindakan ekonomi, melainkan sebuah kampanye jangka menengah dan panjang. Untuk lebih jelasnya, silakan tonton video Warung Fiksi berikut ini:


- Tulisan: Brahmanto Anindito

Comments