2020, Kanal Anak di YouTube Tamat?

2020, Kanal Anak di YouTube Tamat?

Penghujung 2019 benar-benar menjadi awan kelabu bagi YouTuber, sebutan kreator video di YouTube. Tuntutan Komisi Perdagangan Federal (FTC) Amerika Serikat akan pelanggaran YouTube terhadap Children’s Online Privacy Protection Act (COPPA) dengan menyalahgunakan data anak terbukti di pengadilan. YouTube harus membayar 170 juta dolar dan merombak aturan mainnya besar-besaran.


Penghasilan dan popularitas YouTuber yang menyasar penonton anak diprediksi tiarap setelah aturan baru efektif 10 Desember 2019.

Saat ini, YouTube meminta semua kreator menentukan apakah kanal (channel) atau videonya dibuat untuk anak atau tidak. Masalahnya, kriteria “buat anak” dari YouTube terasa sumir dan samar. Misalnya, video bertema anak atau karakter anak, tampak anak, terdapat program atau tokoh animasi anak yang populer, berakting atau bercerita menggunakan mainan anak, melakukan pola permainan yang wajar dan umum seperti berakting dan/atau berimajinasi, atau ada lagu, cerita, atau puisi anak yang populer.

Betapa banyak video yang memenuhi sebagian kriteria itu meski sebenarnya bukan untuk anak, atau warga 13 tahun ke bawah menurut patokan Amerika. Lihatlah kanal-kanal gim, parenting, action figure, tutorial membuat animasi, dll. Meski segmennya remaja atau dewasa, kanal-kanal tersebut bisa dianggap untuk anak.

YouTube juga menjalankan sistem machine learning untuk mengidentifikasi secara otomatis (baca: sepihak) setiap video. Menurut kita bukan untuk anak, bisa jadi sistem YouTube menentukan sebaliknya.

Ambigu? Tidak jelas? YouTube menyarankan kreator yang “kebingungan” untuk berkonsultasi dengan pengacara masing-masing. Ini saran yang aneh, mengingat tidak semua YouTuber memiliki pengacara. Kalaupun punya, apakah pengacara itu memahami persoalannya? Beberapa pengacara spesialisasi media sosial pun mengaku bingung dengan kriteria video anak ini.

Konsekuensi Aturan Baru

Begitu kanal kita ditetapkan untuk anak, akan ada konsekuensi yang tidak mengenakkan. Jika YouTuber itu sudah menjalankan program monetasi (diizinkan memasang iklan di videonya), maka pasokan iklan yang dipersonalisasi alias ditargetkan untuk pengguna berdasarkan penggunaan produk dan layanan Google sebelumnya akan dihentikan.

Sebagai catatan, mayoritas iklan YouTube dipersonalisasi. Iklan yang tidak dipersonalisasi memang ada, tetapi jumlahnya sedikit sekali. Inilah konsekuensi pertama: penghasilan akan menurun drastis.

Bukan hanya itu, beberapa fitur juga akan dimatikan di video anak, seperti komentar, like-dislike, subscription, bahkan end screen, card, notifikasi, playlist, savesuggested videos.

Fitur-fitur itu terbukti efektif untuk mempromosikan sebuah video agar banyak penontonnya. Menghilangkannya sama dengan memingit video itu: tidak boleh keluar atau berinteraksi dengan dunia luar. Lantas, siapa yang akan menontonnya? Inilah konsekuensi kedua: penonton akan menurun drastis.

Peraturan baru ini dinilai aneh, bukan hanya karena ambiguitas kategori “untuk anak”, tetapi juga prinsip ketidakadilannya. Biasanya, kanal-kanal yang berhubungan dengan anak adalah video yang positif, edukatif, atau setidaknya jarang melanggar aturan YouTube.

Kenapa justru kanal-kanal semacam itu yang “dihukum”? Sementara video-video prank (mengerjai), hal-hal unik tetapi tidak original (comot sana-sini), dan artis pamer kekayaan justru melenggang, bahkan sering dinobatkan sebagai video terpopuler.

YouTubers Tidak Tinggal Diam

Untuk melawan kebijakan ini, sebuah ide terlontar di komunitas YouTuber, “Jangan pernah mengaku kanal anak.” Ini jelas bukan ide bagus. Tidak jujur mengategorikan kanal sendiri dan mencoba merekayasanya bisa berujung pada sanksi untuk kanal YouTube kita. Bahkan mungkin, FTC sendirilah yang akan menindak kita dengan denda yang kabarnya sebesar 42.530 dolar per video.

Ingat, YouTube memiliki sistem machine learning yang dapat mendeteksi penampilan seorang anak dalam video, menghitung kualitas dan kuantitasnya, memantau orang dewasa yang berpakaian warna-warni dengan gaya bicara mirip guru TK, gaya editing video, lagu ceria, atau hal-hal lain yang mengindikasikan itu video dari, oleh, atau untuk anak.

Orang-orang FTC sendiri pun memasang mata lebar-lebar, jika pelanggaran masih saja terjadi.

Muncullah ide lain, “Tinggalkan YouTube dan pindah ke lainnya.” Ini juga bukan ide bagus. Tidak ada komunitas video yang sebesar dan memberi penghasilan sebanyak YouTube. Amazon Tube yang digadang-gadang sebagai pesaing berat YouTube tidak kunjung diluncurkan.

Lagi pula, bila COPPA bisa membuat YouTube bertekuk lutut, tentu undang-undang itu juga bisa mengikat Vimeo, Facebook video, IGTV, dan platform-platform video dari Amerika Serikat lainnya.

Makanya, ide yang diyakini efektif yaitu “menggeruduk” FTC langsung, tentu dengan langkah yang “demokratis”. Dua langkah yang sedang ditempuh oleh YouTubers sedunia adalah, pertama, menandatangani petisi di Change.org berjudul Save Family Friendly Content on YouTube.

Sampai tulisan ini dibuat, ada sekitar 850.000 orang yang menandatanganinya secara daring, dari target 1.000.000 penanda tangan.

Langkah kedua, mengutarakan pendapat keberatan langsung ke FTC di Regulations.gov.

Walaupun bukan YouTuber, Anda pun dapat berpartisipasi. Semua ini demi menjaga populasi video-video positif edukatif di YouTube, di tengah video-video dewasa atau yang bertendensi hiburan.

Jangan biarkan kanal cara berhitung milik Bu Guru A, tutorial pembuatan kerajinan anak dari Pak B, pelajaran baca Alquran Ustaz C berhenti diproduksi, hanya karena penontonnya anjlok drastis setelah dipingit YouTube, atau penghasilannya dari YouTube tidak sepadan dengan biaya operasional pembuatan videonya.

- Tulisan: Brahmanto Anindito, Youtuber Kanal Pengasuhan Anak Homerie

Comments