Bibit-bibit Terorisme di Sekitar Kita

Sunday, January 12, 2014

Bibit-bibit Terorisme di Sekitar Kita


Terorisme adalah awal kehancuran
Terorisme adalah awal kehancuran. Saya tak sedang bicara Al Qaidah.
- Oleh Arta Nusakristupa

Kenapa pelaku vandalisme, terorisme dan kriminalisme seperti tidak pernah surut di Indonesia tercinta ini? Jawabnya, karena sebagian masyarakat kita memang suka melakukannya. Terkadang, mereka melakukan itu tidak cuma demi uang atau dendam. Terkadang mereka melakukannya karena iseng dan hobi.

Misalnya, pencurian baja dan lampu di Jembatan Suramadu, jembatan antara Madura dan Surabaya. Sebagian pelaku yang tertangkap memang mengaku berbuat itu karena alasan ekonomi. Namun, sebagian ternyata hanya untuk bangga-banggaan. Padahal, tindakan itu berisiko fatal. Bisa mengganggu konstruksi jembatan. Atau minimal membuat jembatan menjadi rawan kecelakaan ketika malam dan tidak ada lampu. Itulah yang saya bilang bibit-bibit terorisme.

Bibit-bibit semacam ini juga kita temui seperti pada tahun baru kemarin. Lihatlah, segerombolan pemuda yang bermain petasan tanpa kenal waktu, tanpa kenal tempat. Betapa mudahnya mereka “meneror” warga lain yang dipikirnya lemah (karena tidak bergerombol) dengan menyalakan petasan-petasan yang memekakkan. Setiap malam! Tak peduli di sekitar ada orang sakit, bayi yang rewel, atau mahasiswa yang sangat butuh tidur. Yang penting, mereka bersenang-senang dengan dar-der-dor itu. Semakin menggelegar ledakannya, semakin puas mereka. Nah, mirip teroris kan?

Bibit-bibit terorisme juga bisa sesimpel penelepon misterius yang mengatakan (dengan bohongnya) bahwa ada bom di gedung ini. Begitu orang-orang dalam gedung semburat ketakutan, satu-satunya yang meledak ternyata adalah tawa si penelepon iseng itu.

Mungkin kita tidak menyebut orang-orang seperti ini sebagai teroris. Kalau toh ada kesamaan, itu adalah aksi yang berpotensi mencelakakan orang banyak.

Saya lahir dan dibesarkan di Grobogan, daerah tadah hujan yang populer karena kemiskinannya. Rumah orangtua saya kira-kira 15 meter dari rel kereta api Jakarta-Surabaya. Bertahun-tahun, saya meniti bantalan rel kereta api dengan kaki sepanjang kiloan meter untuk sampai ke sekolah. Itu saya jalani dari SD hingga SMA.

Saya pun menjadi saksi pencurian rel oleh saudara-saudara saya. Entah mereka paham atau tidak tindakan “terorisme” itu mengancam keselamatan para penumpang kereta dan kru-krunya. Saat saya dewasa, pencurian-pencurian semacam ini ternyata masih juga terjadi. Alamak. Miskin ya miskin, tapi mbok ya jangan jualan rel.

Terus, masih seputar kereta api. Kalau Anda biasa bepergian lewat jalur rel, coba amati jendela keretanya. Jendela-jendela KA Argo Bromo, Argo Anggrek atau Gumarang yang dulu berlapis kaca itu kini telah diganti dengan bahan semacam plastik. Dulu, semua jendela itu kaca murni. Tapi, banyak yang pecah terkena lemparan batu para “teroris” kesiangan. Saya tahu sendiri ketika mereka tertawa kegirangan saat melihat jendela kaca ambyar terkena batu yang mereka lempar, tanpa peduli nasib para penumpang yang terkena pecahan kaca.

Apa motifnya, coba? Tidak jelas! Mungkin karena klub sepakbola mereka kalah, bentrok antar suporter, atau bisa pula iseng saja. Bisa banget! Toh tidak pernah ada polisi atau pihak berwajib yang menangkap mereka. Tidak masuk akal juga kalau beribu-ribu polisi disiagakan di sepanjang rel untuk mengantisipasi adanya lemparan batu.

Contoh lain? Oke. Di desa saya, hingga sekarang tak ada jaringan telepon. Tiangnya ada, tapi kabelnya tak ada. Sebab, kalau siang hari Telkom memasang jaringan kabel telepon, malam harinya kabel-kabel itu telah lenyap digulung para pencuri. Telkom tentu mencak-mencak, dan seolah-olah bilang, “Terserah! Bukan urusan kami lagi!” Akibatnya, sampai hari ini, Telkom membiarkan tiang-tiang telepon itu menancap berderet menunjuk langit tanpa kabel seutas pun.

Pencuri Suramadu, penelepon palsu, penyulut mercon yang tak tahu tempat dan waktu, pencuri rel, pelempar kereta maupun pencoleng kabel memang bukan kriminal murni. Tapi, inilah jawaban dari pertanyaan kenapa kita tak pernah bisa lepas dari lingkaran kejahatan. Bahkan kejahatannya tambah lama sepertinya tambah gila!

Dari masyarakat yang seperti ini, akan lahir penjahat-penjahat sejati dengan bakat yang menonjol. Mereka adalah maestro-maestro tak berguna yang setiap saat siap menebar kengerian dan meneteskan darah sesamanya. Tanpa sadar, lingkungan rumah kita yang cukup toleran terhadap aksi kenakalan-kenakalan kecil menginkubasi kreativitas calon-calon penjahat itu.

0 comments :

Post a Comment

Butuh artikel-artikel semacam ini? Atau, punya ide membuat buku tetapi kurang bisa menulis? Tidak sempat? Kami bersedia membantu menuliskannya secara profesional. Kami juga menyediakan jasa editing tulisan dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.